Image

OKEZONE STORY #1: Annisa Octiandari Pertiwi, "Saya Tidak Pernah Minta Dilahirkan Jadi Penderita Thalasemia"

Dewi Kania, Jurnalis · Senin 19 Juni 2017, 20:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 06 19 481 1720179 life-story-1-annisa-octiandari-pertiwi-saya-tidak-pernah-minta-dilahirkan-jadi-penderita-thalasemia-LpNWrruWKW.jpg Ilustrasi (Foto: Salafi Islam)

SEMUA orang bercita-cita agar bisa saling membantu di lingkungan sekitar. Termasuk saya ingin menjadi ilmuwan, meski mengidap thalasemia, usaha untuk mencapai harapan itu tidaklah sirna.

Saya Annisa Octiandari Pertiwi ingin membuat orangtua bangga memiliki anak walau dengan thalasemia. Karena itu, saya semangat sekali ingin menjadi seorang ilmuwan.

Ketika lahir, keluarga tidak tahu bahwa saya memiliki penyakit kelainan darah. Ibu dan ayah membawa saya ke dokter di usia 6 bulan. Karena saya mengalami demam tinggi berkali-kali, sering mual dan perut membesar.

Tahun 1993, mereka sangat terpukul saat dokter mengatakan bayi mungilnya ini mengidap thalasemia. Bahkan, kala itu pada dasarnya orangtua saya tidak tahu apa itu penyakit thalasemia dan kaget bukan kepalang.

Thalasemia merupakan penyakit kelainan sel darah merah yang membuat seseorang hidupnya terpuruk. Saya terus berjuang sejak bayi dengan melakukan transfusi darah, agar kehidupan saya seperti anak-anak sebaya.

Saya selalu semangat dan berjuang untuk hidup. Meski menderita thalasemia sejak bayi, saya tetap meyakinkan orangtua agar bisa sembuh.

Hari demi hari saya selalu ditemani oleh slang dan kantung darah. Saya menjalani terapi transfusi darah untuk menyembuhkan kasus thalasemia mayor.

Tapi saya bisa tumbuh besar menjadi anak-anak yang bisa membanggakan orangtua. Meski tubuh ini kecil dan lemah, saya berusaha untuk pergi ke sekolah dan bermain dengan teman-teman kecil saya.

Hanya, setiap seminggu bolos sekolah untuk pergi ke rumah sakit. Saya dicemooh teman-teman di sekolah yang cukup memalukan.

Saya hampir setiap hari melakukan transfusi darah yang ditemani oleh dokter-dokter yang ramah. Tapi bukan berarti melakukan terapi ini bisa sembuh total.

Malah saya mengalami banyak efek samping yang semakin membuat terasa sakit. Kulit saya menghitam dan tidak tampak segar. Pilu, pedih dan sempat putus asa di waktu kecil saat menjalani terapi.

Saya tidak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai penderita thalasemia. Tapi Tuhan berkata lain, saya harus benar-benar berjuang untuk bertahan hidup.

Hingga kini, 24 tahun saya masih hidup dengan thalasemia. Tapi saya bersyukur, meski banyak halangan dan tantangan untuk bertahan hidup hingga kini dengan berbagai cara penanganan medis.

Karena ingin meraih cita-cita yang tak mudah itu, saya mengambil pendidikan strata satu jurusan biologi di sebuah kampus ternama di Bandung. Saya kira satu langkah untuk meraih cita-cita itu sudah dekat.

Tahun 2017, saya lulus sarjana Biologi. Orangtua benar-benar bangga dengan hasil ini. Tapi saya harus melakukan langkah berikutnya untuk mendapatkan karier di bidang ilmuwan.

Apalagi tantangan yang dihadapi oleh Annisa saat berjuang sembuh dan meraih cita-cita di tengah mengidap thalasemia. Simak terus Okezone Story setiap hari pukul 20.00 WIB!

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini