Image

Risiko Autisme pada Anak Mengintai Ibu Hamil yang Sering Demam

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 20 Juni 2017, 13:45 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 06 20 481 1720643 risiko-autisme-pada-anak-mengintai-ibu-hamil-yang-sering-demam-hKCmjT5HV0.jpg Ilustrasi (Foto: Babycenter)

PARA ibu hamil mungkin harus lebih waspada jika mengalami demam saat hamil. Menurut sebuah penelitian, demam bisa meningkatkan risiko autisme pada anak di dalam kandungan terutama di trimester kedua.

Para peneliti di Norwegia meneliti hampir 100.000 ibu dan anak yang mengalami masa kehamilan dan lahir antara tahun 1999 sampai 2009. Sebanyak 16% perempuan dilaporkan setidaknya mengalami satu kali demam saat masa kehamilan seperti yang dilansir dari Time, Selasa (20/6/2017).

Setelah membagi hasil analisis ke dalam beberapa faktor seperti usia ibu, status merokok, dan kehamilan sebelumnya, para peneliti menemukan, anak-anak yang ibunya demam saat masa kehamilan mengalami peningkatan risiko pengembangan autisme hingga 34% dibandingkan dengan ibu yang tidak demam.

Sebagian besar peningkatan risiko tampaknya terjadi saat trimester kedua. Bila ibu mengalami demam di trimester kedua, anaknya berisiko mengalami peningkatan risiko autisme hingga 40%. Sedangkan pada ibu yang melaporkan mengalami satu kali demam setelah 12 minggu, anaknya berisiko mengalami peningkatan risiko autisme hingga 30%. Namun, apabila demam terjadi lebih dari tiga kali, peningkatan risiko melonjak hingga lebih dari 300%.

Hal itu mungkin terdengar menakutkan bagi ibu yang sedang mengandung. Tapi penulis utama dari penelitian Dr Mady Hornig, profesor epidemiologi di Center for Infection and Immunity Columbia University, mengatakan penting untuk diingat bahwa keseluruhan risikonya terhitung masih sangat rendah. Bahkan di antara ibu yang demam lebih dari tiga kali setelah 12 minggu, hanya terdapat 1 dari 62 anak yang menderita autisme.

Dokter belum mengetahui secara detail mengapa demam pada ibu hamil bisa meningkatkan risiko autisme pada anak. Tapi Hornig mengatakan bahwa trimester kedua adalah masa perkembangan otak utama.

“Ini juga saat di mana sistem kekebalan ibu agak ditolak. Hal ini bisa membuat bayi dalam kandungan lebih rentan terhadap gangguan perkembangan,” ungkap Hornig.

Sebagai tindak lanjut dari penelitian yang sifatnya observasional itu, para peneliti kemudian menganalisis sampel darah dari ibu dan bayi untuk menentukan jenis infeksi apa yang dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko.

“Jika kita bisa menemukannya, kita bisa memikirkan lebih lanjut bagaimana cara untuk mencegah infeksi spesifik selama kehamilan," kata Hornig.

Hal itu sama pentingnya untuk mengetahui cara mengobati demam pada perempuan hamil. Studi tersebut menemukan, anak-anak yang ibunya mengonsumsi obat untuk menurunkan demam saat hamil memiliki risiko autisme yang lebih rendah. Namun mengonsumsi obat juga bisa menyebabkan keguguran.

Hornig mengatakan pentingnya untuk menimbang pro dan kontra mengonsumsi obat apa pun selama kehamilan. Horning menyarankan perempuan untuk melakukan tindakan pencegahan sederhana agar terhindari dari demam seperti mencuci tangan dan menghindari kontak dengan orang sakit. Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit A.S. menyarankan agar ibu hamil mendapat suntikan flu pada trimester apa pun untuk melindungi diri mereka sendiri dan bayi dalam kandungan.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini