FOOD STORY: Legit Kenyalnya Bolu Ketan Hitam dari Garut Selatan

Santi Andriani, Jurnalis · Rabu 21 Juni 2017 18:14 WIB
https: img.okezone.com content 2017 06 21 298 1721946 food-story-legit-kenyalnya-bolu-ketan-hitam-dari-garut-selatan-yHugWKMRDY.jpg Bolu ketan hitam dari Garut Selatan (Foto:Tehai)

BOLU ketan hitam memang belum sepopuler lapis surabaya atau bahkan bolu pandan. Namun dengan bahan yang cukup sederhana, di tangan dingin perempuan asal Garut Selatan ini, bolu ketan hitam memiliki rasa yang tidak kalah istimewa.

"Kalau kata pelanggan dan orang-orang yang sudah pernah mencicipi bolu saya katanya rasanya kok beda, kenyal-kenyal gitu. Jadi kalau dimakan ada sensasi tersendiri gitu," cerita Ibu Ai Wida Ningsih dalam acara silahturahmi UMKM mitra kerja Jajan Story di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

 

Usaha bolu ketan hitam perempuan asli Garut Selatan, Jawa Barat ini adalah usaha turunan sang ibu, Siti Aisyah. Jika dulu Ibu Ai cukup menjadi asisten koki, kini ia lah yang memegang kendali seluruh proses pembuatan bolu ketan hitam, semenjak ditinggal mangkat sang ibunda 10 bulan silam. Sang ibu pun seolah mewariskan "tangan dingin" nya kepada sang anak.

Meski berpindah tangan, cita rasa bolu ketan tidak berubah. Pembelinya tetap banyak, bolu ketan yang dikenal sebagai Bolu Itam Teh Ai ini bahkan sudah 'merantau' ke Ibu Kota. Perlu diketahui hingga saat ini Ibu Ai masih menetap di Garut Selatan.

 

Soal kelebihan bolu ketan hitamnya, diakui ibu empat anak ini, pemilihan bahan yang berkualitas adalah kunci utama. Ai mengatakan, ia pantang menggunakan tepung beras ketan hitam kemasan. Melainkan masih menggilingnya sendiri di kampung halaman. Karena di sana masih banyak tempat penggilingan, jadi tidak sulit untuk menggiling beras ketan hitam tersebut.

"Pernah saya coba pakai yang tepung kemasan, jadi, tapi waktu dicicipi adik saya, ia bilang kok rasanya beda seperti yang biasa, tidak segar dan tidak kenyal. Padahal saya sengaja tidak bilang kalau saya pakai yang kemasan, karena memang pengen tahu," beber perempuan berparas cantik ini.

 

Karenanya, hingga kini ia masih konsisten menggunakan tepung beras ketan hitam yang digiling sendiri. Ai pun mengaku tidak berminat pindah ke Jakarta agar usahanya semakin berkembang, meski tawaran cukup banyak. "Saya takut enggak bisa nemuin tempat penggilingan padi," lirihnya.

Meski terbilang berbahan sederhana, membuat bolu ketan hitam diakui Ai juga memiliki tingkat kesulitan sendiri. Kesulitan itu adalah menentukan panas oven dan juga pemilihan beras ketan itu sendiri. Apalagi, hingga kini jenis oven yang digunakan adalah yang masih manual, mengira-ngira apakah suhunya sudah panas atau belum. Karena tingkat panas oven sangat menentukan cita rasa bolu ketan kemudian.

"Kalau panasnya kelebihan, luarnya agak gosong tapi dalamnya masih agak mentah. Kalau kurang api, hasil bolu bagian atasnya jadi kering dan pecah pecah," beber Ai kepada Okezone.

 

Sementara, kalau panas tinggi tapi suhunya tepat, sambung Ai, maka hasil bolu dari warna dan bentuknya juga jadi menarik.

Okezone berkesempatan merasakan sendiri Bolu Itam Teh Ai, benar saja, Okezone menemukan rasa yang seimbang, tidak pahit atau terlalu manis. Soal kenyal juga benar, tidak padat atau keras tapi juga tidak kopong. Bu Ai menambahkan, bolunya tidak menggunakan bahan pengawet atau bahan pewarna makanan kimia.

 

Ai Wida Ningsih bersama sekira 100 pembuat kue rumahan lainnya kini bergabung menjadi mitra kerja Jajan Story. Lebih jauh sang pemilik, tidak hanya ingin menjadikan usaha ini sebagai jualan kue semata, melainkan ikut melestarikan kue-kue tradisional Indonesia dengan memberikan informasi berupa kisah si kue itu sendiri. Ingin mendekatkan diri dengan konsumen, melalui website resmi juga menyampaikan kisah perjalanan para artisan kue-kue tradisional tersebut.

Seperti ada Ibu Yeni, artisan kue lumpang, yang merupakan kue tradisonal dari Palembang dan Jambi, Sumatera Selatan, ada Ibu Putri yang memproduksi kue timpan, kue khas Aceh yang terbuat dari tepung ketan dan pisang dengan isian dari santan, telur, nangka atau durian. Kemudian ada kue pastel pusing yang diproduksi oleh Ibu Ninik di Bintaro, ada juga Ibu Jamilah yang memproduksi kue awug-awug atau Ibu Eka yang membuat puding karamel dan masih banyak lainnya.

 

"Ini adalah media atau tempat dimana jajanan asli Indonesia akan dibangkitkan kembali dengan cara yang paling modern tapi tetap mengandung nilai-nilai di dalamanya. Ada kisah history tentang makanannya, tapi ada juga kisah kemanusiaan tentang perjalanan si pembuat kue itu," kata Wulandari, Owner Jajan Story.

Ia memastikan bahwa para mitra kerja sudah lolos akurasi sehingga layak menjadi mitra kerja. Tiga hal harus dipenuhi sehingga layak menjadi mitra kerja, yakni makanan harus bebas zat pengawet dan pewarna kimia serta bahan-bahan yang mengganggu kesehatan lainnya, menyuguhkan hanya kue-kue tradisional Indonesia, dan terbukti cita rasanya yang enak dan bisa diterima masyarakat umum.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini