nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ramadan Bahagia Mualaf Singapura

Mohammad Saifulloh, Jurnalis · Jum'at 23 Juni 2017 12:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 06 22 196 1722623 ramadan-bahagia-mualaf-singapura-LxUXiyle0i.jpg

SINGAPURA - Makna bulan Ramadan sebelumnya hanya terasa hampa bagi seorang pengusaha muda, Mikhail Goh (28). Tahun ini, Ramadan yang dilaluinya terasa lebih berbahagia.

Goh yang menjadi seorang mualaf sejak Maret 2016 lalu ini sebelumnya mempersiapkan makanan sahur tepat jam 05.00 pagi sendirian karena keluarganya menganut agama lain. Goh tidak begitu saja memutuskan menjadi seorang Muslim. Ia telah mempelajari Islam sejak empat tahun lalu.

“Ramadan kali ini sangat berbeda sejak saya menikahi Suzana. Keluarganya sangat hangat menyambut saya,” kata Goh dilansir dari www.tnp.sg.

Ia menikahi Tengku Suzana Tengku Abdul Kadir (27) medio Februari 2017 lalu. Mendengar pengakuan sang suami, Suzana berkelakar bahwa keluarganya khawatir Goh akan kelaparan ketika berpuasa sehingga memasak banyak makanan untuk menantunya.

Baca Juga: Maaf, Kami Tidak Menerima Anak Kecil Jadi Mualaf

Visi pasangan ini dalam dakwah keislaman sangat kompak. Mereka berdua merupakan pendiri website penyedia informasi makanan halal dan biro perjalanan Have Halal, Will Travel (HHWT). Mereka menginginkan pelancong Muslim nyaman dan terpenuhi kebutuhannya sesuai syariat Islam.

Goh dan Suzana pertama kali bertemu dalam sebuah perkuliahan bisnis manajemen di Singapore Management University pada 2010 lalu. Berlanjut pada tahun 2013, mereka terlibat program pertukaran studi bisnis selama enam bulan di Seoul, Korea Selatan bersama pendiri HHWT lainnya, Elaine Tee.

Perjalanan tersebut tak hanya menghasilkan ide bisnis. Goh makin tertarik mendalami Islam. Bersama Suzana, ia belajar di pusat mualaf Singapura, Darul Arqam.

“Aku jatuh cinta dengan pesan damai dalam Islam. Meski dalam banyak pemberitaan Islam dikatakan sumber kebencian, pembunuhan, dan kekerasan, saya melihatnya berbeda. Bagiku Islam itu damai, cinta, integrasi, dan sebuah kesatuan antara Muslim dan non-Muslim,” ujar Goh menjelaskan.

Pesan itu ia aplikasikan dalam tujuan perusahaannya, HHWT yang dirilis pada 2015 lalu. Ia berharap keberadaan start up dan aplikasi dari HHWT makin menambah integrasi umat manusia untuk berdamai dalam balutan perjalanan wisata. Goh berharap pelancong Muslim dan non-Muslim bisa saling belajar kultur berbeda di setiap negara sehingga tercipta toleransi lebih besar.

Pengalaman yang sama dirasakan sang istri, Suzana bahwa antarras harus saing menghargai agar tercipta damai. Seperti yang ia rasakan di tengah keluarganya yang berbeda, ibunya seorang keturunan Tionghoa yang mualaf.

“Orang tuaku menginginkan menantu muaaf yang bertakwa kepada Allah dan bukan karena saya seorang Muslim, dan aku lihat Mikhail sangat memahami Islam dan mencintai Islam sama sepertiku,” urai Suzana.

Bagi Goh sendiri, setiap hari dalam bulan Ramadan juga dapat menjadi pembelajaran penting baginya untuk memperkaya nilai-nilai keislaman. Menurutnya, ibadah bukan hanya sekadar ritual tapi harus memperlihatkan dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

(ful)

Berita Terkait

Tips Muslim

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini