Share

Inilah Alasan Proses Penyembuhan Cedera Memakan Waktu Lama

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 28 Juni 2017 10:17 WIB
https: img.okezone.com content 2017 06 26 481 1724958 inilah-alasan-proses-penyembuhan-cedera-memakan-waktu-lama-zL8POCubee.jpg Ilustrasi (Foto: Usnews)

CEDERA saat berolahraga jelas bukan hal yang diinginkan oleh siapa pun, terutama para atlet. Namun, terkadang saat berolahraga secara tidak sadar kita memaksakan tubuh atau melakukan gerakan yang mengakibatkan cedera.

Proses penyembuhan cedera biasanya cukup lama, apalagi kalau cedera yang dialami adalah cedera berat. Terlebih, jika cedera terlambat ditangani oleh dokter.

“Mengapa waktu penyembuhannya lama? Karena biasanya para atlet atau pelaku olahraga tidak langsung ke dokter untuk dicek. Baru setelah sakitnya tidak bisa ditahan pergi ke dokter,” kata spesialis bedah ortopedi, cedera olahraga, dan artroskopi dari Rumah Sakit Royal Progress, dr I Gusti Made Febry Siswanto, MD.

Pada kasus cedera berat, waktu yang dibutuhkan untuk proses penyembuhan minimal 6 bulan. Hal ini dikarenakan biasanya ada tahap pembedahan. Saat pembedahan, ligamen yang bermasalah direkonstruksi dan waktu yang dibutuhkan agar ligamen menyatu adalah 4 bulan. Dalam waktu 3 bulan ini, Anda tidak boleh melakukan aktivitas yang terlalu berat.

Jika Anda tetap nekat berolahraga dalam masa penyembuhan, risiko ligamen putus atau rusak kemungkinannya sangat besar. Dengan begitu proses penyembuhan akan semakin lama. Dan yang paling parah bisa menimbulkan kerusakan jaringan.

Memang selama proses penyembuhan kemungkinan otot bisa mengalami pelemahan karena jarang dilatih. Hal ini pula yang menjelaskan mengapa proses penyembuhan memakan waktu yang lama. Karena biasanya setelah 3 bulan dokter akan memberikan program latihan khusus untuk mengembalikan kekuatan, stabilitas, dan reflek otot. Selain itu, perlu dilihat pula apakah jaringan sekitar cedera sudah kembali normal.

Baru setelah proses penyembuhan selesai, dokter memperbolehkan pasien berolahraga kembali. “Namun ada dua tahap yang kami berikan yaitu tahap kembali bermain dan tahap kembali bertanding. Pasien baru bisa kembali bertanding jika selama tahap kembali bermain sudah tidak ada masalah pada cederanya. Alasannya, karena saat kembali bermain, pasien hanya berlatih bersama teman-teman satu timnya yang sudah mengetahui bahwa pasien cedera. Dengan begitu pasien tidak akan diforsir. Sedangkan kalau tanding kan beda,” jelas dr Febry.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini