nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mudah Panik dan Cemas, Mahasiswa Milenial Belum Siap Hadapi Dunia Kuliah

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 06 Juli 2017 19:11 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 07 06 481 1730354 mudah-panik-dan-cemas-mahasiswa-milenial-belum-siap-hadapi-dunia-kuliah-xjFENv6K2t.jpg Ilustrasi (Foto: Dailymail)

KEHIDUPAN generasi milenial kini tengah menjadi sorotan. Baru-baru ini sebuah penelitian mengungkapkan, generasi milenial belum siap untuk menghadapi realitas kehidupan. Mereka sering merasa mudah panik dan memiliki masalah kecemasan.

Penelitian ini melakukan analisis terhadap 2.000 orang muda yang siap untuk memasuki dunia perkuliahan. Dari hasil penelitian diungkapkan bahwa banyak di antara mereka yang belum siap menghadapi tantangan hidup secara mandiri. Lebih dari separuh calon mahasiswa tidak tahu bagaimana membayar tagihan dan banyak yang percaya bahwa biaya keluar malam lebih mahal daripada membayar sewa rumah.

Dikutip dari Dailymail, Kamis (6/7/2017), peneliti juga mengatakan bahwa banyak calon mahasiswa yang dibiarkan khawatir dan bingung dengan prospek meninggalkan rumah untuk memulai pendidikan tinggi. Sebanyak 61%, generasi milenial cemas tentang memulai perkuliahan. Sementara 58% lainnya mengalami masalah persen dan 27% mengalami serangan panik.

Peneliti mengatakan banyak calon mahasiswa yang khawatir dan tidak menyadari tantangan kehidupan di kampus. Sementara itu, banyak yang mengaku tidak tahu bagaimana cara membayar tagihan. Salah seorang peneliti yang juga direktur Higher Education Policy Institute (HEPI), Nick Hillman mengatakan, “Kami tahu lebih banyak tentang apa yang dipikirkan oleh mahasiswa. Namun kami kurang mengetahui apa yang mereka harapkan di perguruan tinggi.

Kesenjangan yang terjadi saat calon mahasiswa bersekolah dan berkuliah bisa memengaruhi kesehatan mental mereka. Terlebih banyak calon mahasiswa yang tidak menceritakan kondisi kesehatan mental mereka sebelum memulai perkuliahan. Itu berarti jika kampus tidak melakukan penerapan dengan baik, bisa memperparah kondisi mental mahasiswanya.

“Kami ingin memperbaiki kesenjangan yang terjadi pada calon mahasiswa. Kami berharap bisa memberikan pengalaman yang berbeda agar siswa bisa terpuaskan saat belajar sehingga mendapat nilai yang bagus,” kata Hillman.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini