nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penurunan Kadar Gen di Otak Bisa Memicu Stres hingga Depresi

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 07 Juli 2017 14:40 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 07 07 481 1730909 penurunan-kadar-gen-di-otak-bisa-memicu-stres-hingga-depresi-9tCD4PI2qx.jpg Ilustrasi (Foto: Dailymail)

TAHUKAH Anda bahwa depresi bisa timbul karena adanya pengaruh kadar gen di otak? Baru-baru ini para ilmuwan menemukan gen yang berpengaruh terhadap depresi di pusat otak dan dapat diobati.

Depresi adalah salah satu gangguan kesehatan pada mental seseorang yang tidak bisa dianggap sepele. Banyak orang yang harus mendapatkan perawatan akibat mengalami tingkat depresi yang cukup tinggi.

Dilansir dari Dailymail, Jumat (7/7/2017), para peneliti dari Univeristy of Maryland, School of Medicine telah berhasil mengidentifikasi gen pada tikus dan manusia yang bisa meningkatkan kecemasan atau melindungi sesorang dari stres. Hal itu bergantung dari tingkat depresi yang dialaminya.

Mary Kay Lobo, asisten profesor di Departemen Anatomy dan Neurobiologi yang juga pemimpin penelitian, bersama teman-temannya melakukan analisis terhadap otak tikus dan pasien depresi yang melakukan bunuh diri. Mereka meneliti berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan hubungan antara gen dan depresi di hippocampus, bagian otak yang berperan dalam mengendalikan emosi dan ingatan.

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa ketika terjadi depresi, semua bagian otak ikut berkontribusi. “Kita tidak bisa melihat otak sebagai satu organ tubuh. Bagian otak sangat heterogen. Untuk menemukan cara mengatasi depresi, kita perlu masuk ke rumah yang ada pada bagian neuron yang rentan,” ujar Dr Lobo.

Apabila sejumlah penelitian berfokus pada hippocampus, Dr Lobo bersama rekannya meneliti pusat otak dan memfokuskan pada gen Slc6a15. Dr Lobo ingin melihat apakah tingkat gen di pusat otak bisa memicu depresi. Sebab saat seseorang mengalami depresi, mereka jarang dan sulit mendapatkan kesenangan.

Peneliti menguji seekor tikus yang dimasukkan ke dalam situasi stres tinggi sehingga tikus menjadi takut. Saat itu terlihat adanya penurunan kadar Slc6a15 di pusat otak mereka. Hal itu juga terjadi pada otak manusia yang meninggal karena bunuh diri. Gen Slc6a15 juga berkurang pada otak manusia itu.

Dr Lobo mengatakan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menganalisis cara kerja Slc6a15 di otak. Namun dengan ditemukannya gen yang bisa menyebabkan depresi meningkat, bisa membuat pengobatan depresi tidak berada di luar wilayah. Dengan begitu, target mengatasi depresi di berbagai wilayah otak bisa lebih mudah.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini