nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jamu dari Masa ke Masa! Era Raja Jayabaya, Zaman Kolonial hingga Kekinian

Mohammad Saifulloh, Jurnalis · Senin 10 Juli 2017 16:33 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 07 10 481 1732829 jamu-dari-masa-ke-masa-era-raja-jayabaya-zaman-kolonial-hingga-kekinian-qybEIpHYD2.jpg Ilustrasi (Foto: Juaralife)

Olahan tetumbuhan asli Nusantara yang dimiliki ratusan suku di Indonesia menjadi kekayaan warisan budaya dan kemudian disimplifikasi istilahnya menjadi jamu. Namun, tidak banyak informasi mengenai perkembangan jamu yang ternyata menyertai sejarah terbentuknya Nusantara, masa kolonial hingga kemerdekaan Republik Indonesia.

Beras kencur, kunyit asem, sari temulawak, dan beragam jenis minuman berbahan herbal sangat akrab di indera pengecapan orang Indonesia. Belum lagi lulur, boreh, mangir, parem, cem-ceman, wedhak adem (bedak dingin) yang kerap dipakai sebagai bahan perawatan sehari-hari sejak zaman nenek moyang.

Lembaran catatan sejarah yang dikutip dari buku Jamu, Obat Asli Indonesia Pusaka Leluhur Warisan Nasional Bangsa (2012) karya Prof. Dr. H. Sutarjadi, Apt., Abdul Rahman, M.Si., Apt., dan Ni Luh Indrawati, S.Farm.Apt menyebutkan kata jamu sendiri berakar dari sebuah kata dalam bahasa Jawa Kuno, jampi atau usadha yang berarti obat.

Istilah jampi disinyalir telah digunakan pada zaman pemerintahan Raja Jayabaya di Kediri pada 1135-1159 M yang merunut tentang resep ramuan berbahan alam. Sementara, usadha cenderung dikaitkan dengan ramuan obat-obatan, mantra atau ajian.

Sementara, usadha cenderung dikaitkan dengan ramuan obat-obatan, mantra atau ajian.

Identitas jamu sebagai budaya peninggalan budaya Hindu-Jawa diperkuat dengan relief Candi Borobudur yang menggambarkan pertolongan terhadap orang sakit, bersyukur ketika diberi kesembuhan serta proses kelahiran dibantu dukun.

Relief lain menunjukkan ada 50 tetumbuhan yang membantu kesembuhan seperti nagasari, semanggen, cendana merah, jamblang, pinang, pandan, maja, cendana wangi, kecubung, dan lainnya. Kesemuanya tersebar pada dinding Candi Prambanan, Candi Penataran, Candi Sukuh, dan Candi Tegawangi.

Beberapa kitab kuno juga rinci mencatat ribuan resep pengobatan. Salah satunya yang menjadi acuan dan diterbitkan berkali-kali adalah Serat Kawruh Bab Jampi-Jampi Jawi. Kitab tersebut pertama kali ditulis tahun 1831 atas perintah Sri Soesoehoenan Pakoeboewana V. Lantaran cakupannya untuk keraton, maka pengantarnya menggunakan tulisan tangan beraksara dan berbahasa Jawa.

Di dalamnya memuat 1.166 resep; terdiri atas 922 ramuan bahan alam dan 244 catatan rajah dan jiat atau gambar doa, rapal, dan mantra penyembuh. Kini, naskah aslinya masih tersimpan di Perpustakaan Kraton Surakarta.

Pada masanya, kekayaan alam Nusantara kerap menjadi perebutan antarbangsa kolonial. Bangsa Eropa, khususnya Belanda kerap melakukan penelitian secara menyeluruh tentang berbagai tanaman bermanfaat. Mereka pun rajin mencatat, menulis jurnal ilmiah, dan membukukan hasil penelitiannya tersebut.

Medio tahun 1600-1701 terbit beberapa pustaka tentang khasiat herbal. Petualang asal Portugis, Yacobus Bontius tercatat menjadi orang Eropa pertama yang membukukan khasiat herbal Nusantara dalam buku Historia Naturalist et Medica Indiae (1627). Ia juga penulis buku tumbuhan obat di Jawa yang pertama (1658).

Buku yang memuat khasiat jamu secara spesifik ditulis oleh peneliti Belanda J. Kloppenburgh-Versteegh (1907) berjudul Wenken en Readvingen Betreffende het Gebruik van Indische Planten, Vruchttten, enz. Kontennya telah disertai 131 gambar berwarna tumbuhan obat penghasil jamu disertai 1.467 petunjuk mengatasi gangguan kesehatan ala Jawa.

Karya masterpiece tentang jamu ditulis W.Weck (1937), yaitu Heilkunde und Volkstum auf Bali. Buku yang bersumber dari lontar Bali Kuno ini memiliki perspektif berbeda dari tulisan-tulisan peneliti jamu lainnya karena menerangkan usada atau pengobatan tradisional Bali.

Peristiwa yang membawa perubahan baru dalam konsep pengobatan tradisional sejatinya adalah Kongres Vereniging der Indische Geneekundigen (VIG) tahun 1940 di Surakarta, Jawa Tengah. VIG diperintahkan meneliti cara pengobatan asli masyarakat Indonesia. Namun, kinerjanya tidak berlanjut karena perang Asia Pasifik medio 1942-1945.

  VIG diperintahkan meneliti cara pengobatan asli masyarakat Indonesia. Namun, kinerjanya tidak berlanjut karena perang Asia Pasifik medio 1942-1945.

Langkah penelitian jamu rupanya tak berhenti begitu saja. Pada masa pendudukan Jepang, tepatnya tahun 1944 dibentuk Panitia Jamu pimpinan Kepala Jawatan Kesehatan Prof. Dr. Sato. Tugas mereka mengimbau para pengusaha jamu agar sukarela mendaftarkan resep ramuan mereka untuk diperiksa oleh Jawatan Kesehatan Rakyat. Langkah ini dilakukan karena pasokan obat-obatan sangat langka saat itu.

Ketika kemerdekaan diraih Indonesia, publikasi tentang jamu dan pengobatan tradisional masih eksis. Publikasi yang menguraikan 345 jenis tumbuhan jamu dirilis Dr. Seno Sastroamidjojo (1948) dan diterbitkan ulang tahun 1962.

Uraiannya dinilai komplit karena menyebutkan nama daerah, nama Indonesia hingga nama Latin tumbuhan tersebut. Disertai pula uraian morfologi, tempat tumbuh, bahan bermanfaat, zat yang dikandung serta pustaka yang digunakan.

Keseriusan pengembangan herbal diwujudkan dengan pendirian Lembaga Farmakoterapi (1954). Tugasnya memeriksa obat-obatan, bahan obat, meneliti bermacam-macam jamu, dan mendirikan penelitian terpadu Hortus Medicus di Tawangmangu.


Regulasi UU Pokok Kesehatan Tahun 1960 juga menyebutkan jamu sebagai Obat Asli Indonesia. Sehingga bermunculan jurnal ilmiah tentang herbal serta organisasi profesi peneliti tumbuhan obat, seperti PERHIPBA (Perhimpunan Peneliti Bahan Obat Alami) pada tahun 1978 dan Pokjanas TOI (Kelompok Kerja Nasional Tumbuhan Obat Indonesia) pada tahun 1990.

Barulah kemudian bermunculan organisasi serupa lainnya, seperti Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI), Ikatan Ahli Farmakologi Indonesia (IKAFI), dan Asia Pacific Information Network on Medicinal Plants (APINMAP).

Perundang-undangan selalu mengubah istilah, begitu pula dampaknya dalam pengistilahan jamu. Misalnya, jamu pernah disebut sebagai obat asli Indonesia (UU tentang Pokok-Pokok Kesehatan 1960 dan UU tentang Farmasi 1963), sebagai Obat Tradisionil (Permenkes No. 179/1976), dan sebagai Obat Tradisional (Permenkes No. 181/1976).

Sedangkan pengembangannya dimulai dari obat untuk fitoterapi (Surat Edaran Dirjen POM Depkes No. 00106/D/I/1984). Berlanjut menjadi Fitofarmaka melalui Permenkes No. 760/1992 untuk menyejajarkan mutu jamu menjadi obat setaraf obat modern (Permenkes No. 760/1992 tentang Fitofarmaka).

Jamu pun dikembangkan menjadi tiga kelompok, yakni Kelompok Obat Tradisional dengan nama popular jamu, kelompok Obat Herbal Terstandar, dan kelompok Fitofarmaka.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini