nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Terungkap! Rokok Berfilter Ternyata Lebih Berbahaya

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 10 Juli 2017 18:19 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 07 10 481 1732966 terungkap-rokok-berfilter-ternyata-lebih-berbahaya-MQaqFG5TAJ.jpg

SEBUAH penelitian terbaru menunjukkan bahwa rokok filter lebih berbahaya daripada rokok yang tidak difilter.

Filter tidak membuat rokok lebih sehat, kemungkinan besar mereka malah berkontribusi dalam peningkatan kanker paru-paru. Penelitian menunjukkan bahwa lubang-lubang ventilasi membuat tembakau terbakar lebih lamban dan pada temperatur lebih rendah, yang mengarah pada peningkatan jumlah substansi racun pada asapnya.

Lalu yang terjadi adalah filter tersebut menghambat sebagian dari nikotin adiktif dan lubang-lubangnya mencampurkan asapnya dengan udara, jadi sebagian perokok menghirup rokok lebih panjang dan dalam untuk mendapatkan nikotin lebih.

“Rokok modern lebih berisiko menyebabkan kanker paru-paru. Desain filter rokok yang memiliki ventilasi bisa membuat rokok menjadi lebih berbahaya karena lubang tersebut bisa mengubah cara pembakaran tembakau sehingga perokok dapat menghirup lebih banyak asap dan menganggap asap lebih aman karena lebih halus,” papar penulis studi dan Wakil Direktur Comprehensive Cancer Center di Ohio State University dr Peter Shields, dilansir laman WebMD .

Dia mengatakan, industri tembakau telah menggunakan filter selama lebih dari 50 tahun. Mereka kerap menggembar-gemborkannya sebagai rokok “ringan” yang dapat mengurangi asupan tar dan memberikan anggapan bahwa lubang ventilasi kecil di filter ini memungkinkan perokok menyerap lebih banyak udara segar.

Untuk laporan baru tersebut, para peneliti telah meninjau hampir 3.300 penelitian tembakau dan meneliti perusahaan tembakau internal. Para peneliti menemukan bahwa filter ini berkontribusi terhadap peningkatan bentuk kanker paru yang dikenal sebagai adenokarsinoma. Adenokarsinoma adalah sejenis kanker paru-paru sel nonkecil yang menembus jauh ke dalam paru-paru.

Sementara prevalensi kanker paruparu telah turun, jumlah adenokarsinoma justru meningkat, dan laporan ahli bedah di Amerika pada 2014 menunjukkan adanya peningkatan dan perubahan dalam desain dan komposisi rokok sejak 1950-an. “Desain filter rokok yang memiliki ventilasi bisa membuat rokok menjadi lebih berbahaya.

Ini berlaku untuk semua rokok karena hampir semua rokok di pasaran memiliki filter,” ucap dr Shields. Dia juga menuturkan penelitian telah menunjukkan bahwa perokok mengambil asap lebih dalam saat memakai rokok berventilasi. Akibatnya, asap bisa masuk lebih dalam ke paru-paru, di mana adenokarsinoma lebih umum berkembang.

Dr Shields dan tim peneliti merekomendasikan agar Administrasi Makanan dan Obat-obatan meregulasi rokok berfilter atau menghilangkannya sama sekali. “Memberikan otoritas kesehatan wewenang untuk meregulasi produk tembakau dan mengajukan standar produk ketika buktinya menunjukkan bahwa itu cukup untuk melindungi kesehatan publik,” tutur dr Shields.

Dia dan timnya percaya jika menghilangkan lubang-lubang ini akan menurunkan penggunaan dan tingkat racun pada rokok konvensional dan membuat para perokok berhenti total atau menggunakan lebih sedikit produk berbahaya. 

“Kemungkinan karena merokok tidak akan sehalus dulu tanpa lubang-lubang ini, tapi lebih banyak penelitian dibutuhkan untuk memastikan bahwa menghilangkan lubang-lubang tidak akan membuat rokok lebih adiktif atau meningkatkan tingkat bahan kimia pada asapnya,” kata dr Shields.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini