nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pantai Air Manis, Tapak Tilas Legenda Anak Durhaka Malin Kundang

Tentry Yudvi, Jurnalis · Kamis 13 Juli 2017 06:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 07 12 406 1734806 pantai-air-manis-tapak-tilas-legenda-anak-durhaka-malin-kundang-UyPyvys2RB.JPG Pantai Air Manis, Padang, Sumatera Barat (foto: Instagram/@rizkaaprillia65)

SUMATERA Barat memiliki kisah tragis anak durhaka Malin Kundang yang batunya bisa terlihat di Pantai Air Manis. Sebuah pantai sejuk dengan panorama keindahan pantai yang begitu menawan.

Batu tersebut berada tepat di bibir pantai, bentuknya seperti seseorang yang sedang sujud. Bentuknya inilah yang membuat legenda tentang anak durhaka semakin nyata, terlebih kisah tragisnya bisa memberikan banyak pelajaran untuk hidup generasi penerus bangsa agar masih ingat dengan orangtua.

Sebuah kiriman dibagikan oleh R I Y A N (@a_riyan21) pada Jul 11, 2017 pada 11:49 PDT

Apa Anda masih ingat dengan kisahnya? Jika belum, kali ini Okezone akan membawa cerita ini kembali. Jadi, menurut masyarakat Sumbar, batu Malin Kundang tersebut merupakan kutukan yang diberikan ke seorang anak durhaka yang melupakan ibunya.

Kisahnya, Malin Kundang ini anak laki-laki yang hanya hidup dengan ibunya. Ayahnya sudah meninggal. Dalam membantu perekonomian keluarganya, Malin menjadi nelayan, namun perekonomian belum membaik.

Hingga, Malin pun memutuskan untuk merantau ke kota agar kehidupannya lebih layak lagi. Ia pun pergi meninggalkan ibunya sebatang kara. Sejak kepergiannya, selama bertahun-tahun, ia tidak pernah pulang dan ibunya selalu menunggunya setiap hari di tepi pantai dan berharap kapal anaknya kembali.

Kehidupan Malin tak mau pulang karena ia merasa sudah sukses menikahi seorang putri saudagar kaya raya. Menikahlah keduanya. Namun, setelah menikah sang istri memintanya kembali pulang karena istrinya ingin bertemu sosok mertuanya itu. Tetapi Malin enggan karena ibunya merupakan orang miskin, hingga akhirnya ia pulang.

Kabar itu pun terdengar ke ibunya dan ia langsung bergegas ke tepi pantai untuk melihat kapal Malin Kundang. Rasa rindu penantian kepulangan anaknya rupanya tidak dibalas dengan baik karena Malin merasa malu memiliki ibu sepertinya. Oleh karena itu, ketika kapal tiba dan ibunya langsung menghampirinya namun ditolak dan ia tidak mengakui ibunya tersebut kepada istrinya.

Rasa rindu sang ibu berbalik menjadi rasa sakit hati. Kemudian, ibunya berdoa kepada Tuhan agar anaknya diubah menjadi sebuah batu. Doa ibu kemudian dikabulkan, langsunglah ada sambaran petir dan badai besar. Malin pun berusaha untuk meminta maaf, namun sudah terlambat sang ibu begitu marah dan sedih. Jadilah Malin berubah menjadi batu yang dengan posisi sujud.

Dari legenda itu, kini wisata pantai Air Manis banyak mengundang wisatawan. Jika Anda hendak pergi ke sana, hanya perlu menempuh waktu 30 menit perjalanan dari kota Padang, dan lihatlah batu Malin Kundang di tepi pantai tersebut.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini