Mengukur Tingkat Stres Bisa Membuat Anda Terhindar dari Migrain

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 14 Juli 2017 14:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 07 14 481 1736174 mengukur-tingkat-stres-bisa-membuat-anda-terhindar-dari-migrain-IANNQyFuoP.jpg Ilustrasi (Foto: Dailymail)

PARA penderita migrain tentunya tahu bahwa serangan sakit kepala sebelah bisa datang kapan saja. Ketika rasa sakit itu datang, penderita migrain tidak bisa berbuat banyak kecuali menahannya atau meminum obat. Tak heran, apabila mengalami migrain banyak orang yang tidak dapat berkonsentrasi pada aktivitasnya.

Tapi para penderita migrain bisa sedikit merasa lebih gembira. Para peneliti telah mengembangkan sebuah model baru yang bisa memprediksi kapan migrain terjadi. Penderita migrain disarankan untuk melakukan model peramalan sederhana menggunakan frekuensi kejadian atau intensitas stres yang dirasakan setiap harinya. Dengan begitu, penderita migrain bisa memprediksi apakah hari berikutnya dia akan mengalami migrain.

Stres yang terlalu tinggi bisa menyebabkan migrain. Menurut para ahli, metode peramalan sederhana ini memiliki nilai prediktif yang menjanjikan. Dilansir dari Daily Mail, Jumat (14/7/2017), hasil penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal Headache setelah peneliti mengamati 95 orang yang menulis diari. Hampir 39% dari 4.195 hari, pasien mengalami serangan sakit kepala sebelah.

Karena datangnya migrain tidak bisa diprediksi,para pasien seringkali tidak meminum obat di waktu yang tepat. Mereka lebih memilih minum obat ketika rasa sakit sudah meningkat dan tidak bisa ditahan lagi. Hal inilah yang menyebabkan lebih dari 90% penderita migrain tidak bisa bekerja atau beraktivitas selama migrain kambuh.

Menurut Migraine Research Foundation, migrain memengaruhi satu miliar orang di seluruh dunia. Rasa sakit sebelahnya bisa menyebabkan penglihatan terganggu, kurang peka terhadap cahaya, suara, dan bau, serta merasa mual dan ingin muntah. Sifatnya yang melumpuhkan membuat migrain adalah penyakit keenam yang mematikan.

Kebanyakan penderita mengalami serangan 1 atau 2 kali per bulan. Tapi ada lebih dari 4 juta orang yang memiliki migrain kronis sehingga mengalami serangan 15 hari per bulan.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini