nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rawa Pening dan Kisah Baru Klinting yang Melegenda

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Kamis 20 Juli 2017 15:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 07 20 406 1740576 rawa-pening-dan-kisah-baru-klinting-yang-melegenda-r63yi2YnaF.jpg Rawa Pening (Foto: Ist)

BANYAK tempat wisata di Indonesia yang dilahirkan dari sebuah legenda. Salah satunya adalah Danau Rawa Pening yang ada di Semarang, Jawa Tengah.

Rawa Pening adalah sebuah danau alam seluas 2.670 hektare. Danau ini menempati 4 kecamatan di Semarang, yakni Kecamatan Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyubiru. Letaknya berada di lembah di antara Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, dan Gunung Ungaran.

Baca juga:  UNCOVER INDONESIA: Eksotisme Air Terjun Hiting dengan Pancuran yang Dipisahkan Tebing

Di beberapa bagian danau ini permukaannya ditutupi oleh eceng gondok. Danau ini juga dimanfaatkan warga sekitar untuk mencari nafkah.

Namun sebelum Rawa Pening seperti sekarang, ada sebuah legenda yang menyertai hingga saat ini. Sebuah kisah tentang Baru Klinting, seorang anak yang bau amis dan warga desa yang angkuh.

Kisah ini dimulai ketika seorang wanita di Desa Ngasem, bernama Endang Sawitri melahirkan bayi. Namun bukan manusia yang dia lahirkan, melainkan seekor bayi naga yang kemudian diberi nama Baru Klinting.

Ketika besar, bayi naga itu pun bertanya kepada ibunya apakah dia memiliki ayah. Endang Sawitri menjawabnya dengan jujur bahwa ayah dari anaknya sedang bertapa di Gunung Telomoyo. Ia pun kemudian meminta Baru Klinting untuk menemui ayahnya sambil membawa tombak bernama Baru Klinting milik ayahnya sebagai bukti bahwa dia memang anaknya.

Sesampainya di lereng Gunung Telomoyo, Baru Klinting pun bertemu ayahnya. Lalu sang ayah meminta Baru Klinting bertapa di Bukit Tugur agar tubuhnya berubah menjadi manusia.

Namun saat Baru Klinting bertapa di Bukit Tugur, penduduk Desa Pathok mencacah tubuhnya karena belum menemukan binatang yang dicari sebagai santapan dalam sebuah pesta panen. Saat tubuh Baru Klinting disiapkan sebagai santapan untuk pesta rakyat, arwah Baru Klinting menjelma menjadi seorang anak buruk rupa dan bau amis.

Baru Klinting pun mendekati orang-orang yang sedang menyantap makanan dalam pesta. Ia meminta makan kepada mereka karena rasa lapar yang melanda. Namun bukan makanan yang dia dapatkan, tetapi makian dan keangkuhan warga Desa Pathok. Dia diusir oleh penduduk dan bertemu dengan seorang janda tua. Hanya janda itu yang mau menerimanya.

Kemudian Baru Klinting diajak makan di rumah janda tersebut. Rupanya janda itu juga tak diperbolehkan mengikuti pesta. Baru Klinting kecewa pada penduduk dan meminta janda tua itu untuk naik ke atas lesung ketika mendengar suara bergemuruh.

Baru Klinting mendatangi penduduk dan menancapkan sebuah lidi. Ia berkata “Jika kalian hebat, cabutlah lidi ini!”.

Awalnya dia dianggap gila oleh penduduk. Tetapi satu per satu penduduk tak ada yang sanggup mencabutnya. Baru Klinting pun mencabutnya. Dari lubang bekas lidi itu, air menyembur dan perlahan membuat Desa Pathok tenggelam. Sementara Baru Klinting dan si janda tua berhasil selamat menggunakan lesung.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini