nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Selangkah Lebih Dekat, Ilmuwan Uji Vaksin HIV dari Sistem Imun Sapi

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Minggu 23 Juli 2017 12:49 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 07 23 481 1742290 selangkah-lebih-dekat-ilmuwan-uji-vaksin-hiv-dari-sistem-imun-sapi-8T2LgK8eUV.jpg Ilustrasi (Foto: Healthline)

SALAH satu penyakit paling menakutkan yang mencengkram dunia dalah HIV/AIDS. Penyakit ini sekian lama telah menjadi tantangan bagi para ilmuwan menemukan sebuah vaksin untuk menyembuhkannya.

Penelitian tentang pengadaan vaksin yang efektif sedang berlangsung, dan para ilmuwan telah sampai pada hasil akhir. Sekarang, ilmuwan melakukan uji imunisasi yang benar-benar tidak terduga.

Para ilmuwan mengambil bantuan dari sapi untuk mengembangkan vaksin yang dapat membantu mengatasi HIV. Menurut para ilmuwan, sapi memiliki kemampuan untuk menghasilkan antibodi khusus yang dapat menetralkan HIV, yang menjadi kekurangan manusia.

Saat terinfeksi virus HIV, manusia tidak dapat menghasilkan antibodi yang dibutuhkan untuk membunuhnya. Karena itu, menemukan vaksin HIV telah menjadi tantangan untuk dikembangan.

Menurut Time, para ilmuwan memperkirakan, hanya sekira 20% orang yang terinfeksi HIV menghasilkan antibodi penetralisir secara umum (bNAbs). Antibodi alami yang dapat mempertahankan sel melawan virus. Bahkan, di antara orang-orang yang memproduksinya, biasanya mulai terjadi sekira 2 tahun setelah terinfeksi.

Tapi, penelitian pada sapi ini masih belum memberi jawaban pasti. Dipercaya bahwa sapi berevolusi menjadi pertahanan kekebalan tubuh tertinggi, karena sistem pencernaan mereka yang kompleks dan penuh bakteri.

Ini hasil saat para peneliti di International Aids Vaccine Initiative dan Scripps Research Intitute mencoba mengimunisasi sapi. "Respon tersebut meniup pikiran kita," kata Dr Devin Sok, salah satu peneliti, mengatakan kepada BBC News yang dikutip Zeenews, Minggu (23/7/2017).

Antibodi yang dibutuhkan diproduksi oleh sistem kekebalan sapi dalam hitungan minggu. Dr Sok menambahkan, "Rasanya gila betapa baiknya penampilannya, pada manusia dibutuhkan 3 sampai 5 tahun untuk mengembangkan antibodi yang sedang kita bicarakan."

"Ini sangat penting karena kami belum bisa melakukannya. Siapa sangka biologi sapi memberi kontribusi signifikan terhadap HIV," lanjutnya.

Waktu lebih jauh melaporkan bahwa para peneliti mampu mengisolasi antibodi dan betis, melihat lebih dekat. Antibodi yang disebut NC-Cow 1 terungkap sangat kuat saat menyerang HIV.

Sesuai dengan BBC, hasilnya yang dipublikasikan di jurnal Nature, menunjukkan bahwa antibodi sapi dapat menetralkan 20% strain HIV dalam 42 hari. Dengan 381 hari, mereka bisa menetralkan 96% strain yang diuji di laboratorium.

Penelitian vaksin HIV berbasis DNA di Australia

Sebelum uji vaksin HIV pada sapi, peneliti di Australia pada tahun 2016 juga melakukan serangkaian penelitian berbasis DNA. Para ilmuwan dari South Australia’s University of Adelaide and the Queen Elizabeth Hospital, telah merekondisi virus HIV seperti virus flu biasa. Kemudian dikenalkan dengan vaksin berbasis DNA yang berdampak pada sistem kekebalan tubuh.

Mereka menggunakan tikus sebagai kelinci percobaan di laboratorium dan meneliti tingkat kekebalan tubuhnya setelah diberi injeksi vaksin HIV yang telah dimodifikasi tersebut.

Peneliti menemukan ada perubahan yang cukup signifikan dari infeksi virus yang diderita tikus. Mereka pun menjabarkan bagaimana cara kerja vaksin HIV yang tengah dikembangkannya.

“Ketika tubuh terpapar virus HIV untuk pertama kalinya. Tubuh Anda perlu menghentikan virus masuk ke dalam tubuh, lalu perlu dihentikan penyebarannya di dalam tubuh,” ungkap Branka Grubor-Bauk, peneliti dari University of Adelaide, dikutip Timesofindia.

“Kami berharap penemuan kami pasti merujuk ke arah yang tepat,” tambahnya.

(Foto: Americantimes)

Studi mengenai vaksin tersebut sudah dikembangkan selama 4 tahun lebih. Hasil ujicoba pada tikus ini dianggap sebagai satu terobosan baru yang tinggal dimodifikasi kembali vaksinnya untuk digunakan pada manusia.

“Setelah empat tahun penelitian, kami berhasil ciptakan vaksin yang telah dikodekan protein HIV dan kami beri tikus vaksin itu dan kami berhasil menemukan bahwa ada kekebalan pada permukaan mukosa,“ ucap Brubor-Bauk.

Uji vaksin di Afrika Selatan

Uji vaksin selanjutnya dilakukan di Afrika Selatan pada Desember 2016. Butuh waktu 7 tahun untuk menyelesaikan pengujian vaksin ini dan diakui oleh peneliti.

Dr Anthony Fauci, Direktur National Institute NIH Alergi dan Penyakit Menular, mengatakan, vakisn HIV cukup efektif untuk mencegah penyakit menular, terutama dari hubungan seks bebas.

"Vaksin menjadi alat pencegahan HIV yang sangat terbukti aman dan efektif mencegah. Vaksin ini bisa melindungi populasi masyarakat yang tinggal di negara-negara yang berisiko tinggi infeksi," kata Dr Anthony.

Seperti di Afrika Selatan lebih dari 1.000 orang tertular HIV setiap hari. Maka, vaksin HIV cocok dikembangkan di negara tersebut.

Vaksin HIV terakhir kalinya juga pernah diuji di Thailand mulai tahun 2003. Pada 2009, peneliti dari studi yang mengumumkan bahwa vaksin adalah 31% efektif untuk mencegah infeksi HIV lebih dari 3,5 tahun.

Sementara itu, di Afrika Selatan baru akan menggunakan vaksin HIV yang mirip dengan yang digunakan dalam penelitian di Thailand. Tetapi akan dimodifikasi dengan cara lain agar pencegahannya lebih lama.

(Foto: Indiatimes)

Para peneliti ingin mendaftarkan 5.400 aktif secara seksual pria dan wanita usia 18 sampai 35 tahun yang belum terjangkit HIV. Hasilnya diharapkan terlihat pada 2020.

"HIV telah menghancurkan penduduk Afrika Selatan. Tapi sekarang kita mulai eksplorasi ilmiah yang bisa memberikan harapan baru," ujar Glenda Gray, CEO Medical Research Council Afrika Selatan.

Studi Afrika Selatan akan menggunakan 2 jenis vaksin. Jenisnya dapat melindungi terhadap subtipe virus yang dikenal sebagai HIV subtipe C, yang ditemukan dalam jumlah tinggi terutama di Afrika Selatan.

Selain itu, vaksin protein subunit yang digunakan dalam studi baru akan diisi bahan tambahan yang menimbulkan efek berbeda dari yang digunakan dalam penelitian di Thailand.

Peserta dalam studi baru akan secara acak untuk menerima vaksin studi atau plasebo. Jika ada peserta terinfeksi HIV, mereka akan dirujuk ke staf medis lokal untuk perawatan, dan akan menasihati tentang cara untuk mengurangi risiko penularan HIV. Demikian dikutip Livescience

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini