nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita 2 Mahasiswi Indonesia yang Kibarkan Merah Putih dan Mainkan Angklung di Puncak Denali Alaska

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Senin 24 Juli 2017 21:05 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 07 24 406 1743174 cerita-2-mahasiswi-indonesia-yang-kibarkan-merah-putih-dan-mainkan-angklung-di-puncak-denali-alaska-DiPBIqbsBO.jpg Pendaki Gunung 2 Mahasiswa (Foto: Utami Evi/Okezone)

BENDERA Indonesia kembali berkibar di salah satu dari 7 puncak tertinggi dunia pada 1 Juli lalu. Kali ini, pengibaran bendera Merah Putih dilakukan oleh dua mahasiswi dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung di Puncak Denali, Alaska.

Kedua mahasiswi tersebut adalah Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari. Mahasiswi angkatan 2011 di jurusan Hubungan Internasional ini berhasil mencapai puncak tertinggi ke-6 dalam rangkaian Seventh Summits dunia. Hal ini sekaligus mengukuhkan mereka sebagai dua pendaki perempuan pertama Indonesia yang berhasil mencapai Puncak Denali.

Fransiska dan Hilda bersama timnya memulai pendakian pada 19 Juni 2017. Kemudian mereka mencapai puncak di ketinggian 6.190 meter di atas permukaan laut (MDPL).

Pendakian ke Puncak Denali bukanlah sesuatu yang mudah. Bahkan gunung yang berada di wilayah Amerika Utara ini dikenal sebagai salah satu yang tersulit. Karena jarak dari basecamp menuju puncak sangat panjang, yakni 4.000 meter lebih jauh dibanding Gunung Everest yang dari basecamp menuju puncaknya 3.700 meter.

Baca Juga: Target Putri Mahitala Unpar untuk Puncak Aconcagua

“Denali yang paling susah. Tapi pemandangannya bagus banget. Dari cuaca juga cukup ekstrem. Pagi cuaca cerah, sore berkabut. Anginnya juga lumayan kencang,” tutur Hilda pada konferensi pers di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Senin (24/7/2017).

Berbeda dengan puncak lainnya, tantangan di Puncak Denali cukup berat. Karena berada di Amerika yang sudah maju dan menekankan kemandirian, tim pendaki harus membawa barang-barang sendiri tanpa dibantu porter.

“Tantangannya banyak. Lokasinya di Amerika, negara yang sudah maju. Jadi enggak ada atau jarang porter. Harus bawa keperluan logistik sendiri dibagi satu tim,” ujar Fransiska.

Setelah melewati cuaca yang begitu ekstrem dan membawa beban, Fransiska dan Hilda berhasil mencapai puncak pada 1 Juli 2017. Dengan rasa haru, mereka mengibarkan Sang Merah Putih dan memainkan angklung.

“Kami mengibarkan bendera dan membunyikan angklung. Saya yakin doa dan dukungannya kenceng banget. Kebetulan kemarin lancar sekali. Kondisi kami pun sehat sampai turun dan kembali ke Indonesia,” ujar Fransiska.

Hilda menambahkan, ada rasa haru dan perasaan tidak percaya ketika dirinya dan tim berhasil mencapai puncak ke-6 dalam proyek Seventh Summits.

“Ada rasa enggak nyangka. Tapi perlahan kita jalani. Denali banyak orang yang bilang menyeramkan dan susah banget,” tuturnya.

Ke depannya, baik Fransiska dan Hilda akan mempersiapkan diri untuk mendaki gunung tertinggi di dunia, Gunung Everest yang akan dilakukan pada Maret 2018.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini