nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fenomena Naive Subject Picu Konsumsi Gula, Garam dan Lemak Berlebih

Pradita Ananda, Jurnalis · Selasa 25 Juli 2017 21:12 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 07 25 298 1743719 fenomena-naive-subject-picu-konsumsi-gula-garam-dan-lemak-berlebih-QV2esvhL4G.jpg Makan kue manis (Foto: Huffingtonpost)

TIDAK disangkal, masyarakat Indonesia telah terbiasa menjalani ragam budaya seperti perayaan hari raya keagamaan, arisan, hingga pesta pernikahan yang dijalani dengan meriah.

Di mana tiap momen ini, tentu tidak pernah absen dengan kehadiran berbagai sajian makanan dan minuman yang semuanya menggugah selera. Sehingga tanpa disadari dengan situasi tersebut, kita kerap kali tidak sadar telah mengonsumsi dari yang jumlah seharusnya dari jumlah pola konsumsi biasanya.

Tahukah bahwa fenomena lonjakan pola konsumsi yang tidak konsisten tersebut, akhirnya menyebabkan asupan makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh telah melebihi batasan rata-rata kalori harian yang direkomendasikan, yakni sekitar 2000 kalori. Di mana kondisi naïve subject ini, membuat tubuh akhirnya mengalami shock response. Seperti penjelasan dari Prof. Dr. Nuri Andarwulan dari SEAFAST Center.

“Naive subject ini adalah ketika perilaku konsumsi makan yang sudah terpola, tapi suatu ketika mendapat asupan yang tidak sesuai dengan kebiasaan. Hingga akhirnya muncul lonjakan status kandungan gizi yang signifikan, nah zat gizi yang tidak terekspos ini istilahnya akan menimbulkan shock respon dari dalam tubuh,” papar Prof. Dr. Nuri Andarwulan kala ditemui dalam ‘Unilever Jakarta Editror’s Food”, Selasa (25/7/2017) di Graha Unilever, BSD City.

Lebih lanjut dijelaskan, asupan sekitar 2000 kalori tersebut secara ideal dalam sehari asupan makanan dan minuman harus dibagi menjadi tiga pola konsumsi yakni diterapkan pada waktu makan pagi, siang, dan malam hari. Namun sayangnya, kebanyakan orang masih tidak konsisten dalam mengatur hitungan asupan kalori ini dengan menjalankan kondisi pola makan yang tidak konsisten dan belum seimbang dengan kelebihan gula, lemak, dan minyak, namun masih jarang mengonsumsi sayur dan buah-buahan.

Dengan menjalankan pola makan seimbang, maka kondisi naïve subject yang memicu kehadiran berbagai penyakit tidak menular seperti contohnya jantung, hipertensi, dan diabetes ini, bisa diminimalisasi. Untuk menjalankan pola makan seimbang, sebenarnya tidaklah sulit, seperti yang dituturkan oleh Prof. Dr. Nuri Andarwulan.

“Kuncinya sih sebetulnya jangan lewatkan sarapan. Asupan karbohidrat di sarapan banyak, karena jeda waktu dari waktu sarapan di pagi hari ke makan siang cukup lama. Sehingga di jam 9-10, tidak perlu merasa lapar lagi supaya harus lebih produktif bekerja. Nah, makan siang sebenarnya porsinya bisa sama dengan sarapan tetapi lebih sedikit dari makan malam. Nah makan malam jangan dimakan sekaligus. Bagi dua sesi, misalnya di sore jam 3 atau jam 5, kalau sekaligus nanti cenderung membuat keinginan tubuh untuk aktivitas jadi turun. Tambah dengan olahraga, ini penting untuk membangun otot kalau tidak ya yang dimakan malah jadi lemak,” tambahnya.

Selain itu, kondisi naïve subject ini sendiri sebenarnya bisa disiasati dengan tips yang cukup mudah dalam metode memasak. Pertama ialah misalnya dengan mengurangi frekuensi membeli makanan di luar dan lebih sering membuat makanan sendiri di rumah, sehingga gizi dan bumbunya pun lebih terjamin ketimbang membeli di luaran. Lalu, saat memasak biasakanlah untuk tidak menambahkan garam apabila sudah menggunakan penyedap rasa.

Selanjutnya, penggunaan margarin bisa diakali dengan memilih margarin yang punya lebih banyak kandungan lemak yang baik. Terakhir, pilihlah minuman yang memberikan asupan gizi lebih selain hanya kandungan gula saja.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini