Share

Abaikan Kebersihan Langit-Langit Rumah, Awas Risiko Sesak Napas Meningkat 90%!

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 28 Juli 2017 05:15 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 27 481 1745102 abaikan-kebersihan-langit-langit-rumah-awas-risiko-sesak-napas-meningkat-90-7bNbTNFjHk.jpg Ilustrasi (Foto: Dailymail)

MENJAGA kebersihan rumah adalah hal yang wajib Anda lakukan. Tinggal di lingkungan yang sehat dan bersih membantu tubuh untuk tetap sehat.

Membersihkan rumah jangan hanya sekadar menyapu, mengepel, dan mengelap perabotan. Setiap sudut rumah yang tidak terjangkau sekalipun harus menjadi perhatian juga. (Baca Juga: Jangan Malas Gerak! Rajin Cuci Pakaian dan Bersihkan Kamar Mandi Ampuh Usir Stres)

Kebersihan dinding dan atap rumah seringkali luput dari kegiatan bersih-bersih rumah. Padahal, noda atau jamur yang ada di dinding, atap, dan pintu rumah bila tidak dibersihkan bisa meningkatkan risiko sesak napas sebanyak 90%. Selain membuat Anda sulit bernapas, keadaan rumah yang lembap meningkatkan kemungkinan terkena bronkitis, masalah sinus, dan asma. (Baca Juga: Jangan Malas! Hirup Debu Perabotan Rumah Bisa Bikin Anda Gemuk)

Menurut hasil penelitian baru-baru ini, sebanyak 11% rumah modern memiliki tanda-tanda kelembapan. Sebelumnya, banyak penelitian yang membahas hubungan antara gejala asma dengan kelembapan bangunan. Kini tim peneliti dari Swedia melakukan analisis terhadap hubungan antara peradangan kronis dengan kelembapan.

"Temuan baru kami mengenai peradangan kronis adalah temuan penting. Sebab, peradangan kronis merupakan kondisi yang cukup umum dan menimbulkan efek samping yang sangat negatif terhadap kualitas hidup seseorang. Kami terkejut bahwa hubungan peradangan kronis dengan kelembapan bangunan begitu kuat," ungkap penulis utama penelitian, Profesor Christer Janson dari Universitas Uppsala seperti yang dikutip dari Daily Mail, Jumat (28/7/2017).

Para peneliti menganalisis data jawaban kuesioner yang diisi oleh lebih dari 26.000 orang dewasa di empat kota Swedia. Partisipan penelitian ditanya mengenai gejala pernapasan, merokok, dan pendidikan. (Baca Juga: Awas, Tungau Debu Rumah Tanpa Disadari Bisa Picu Alergi)

Tim peneliti mengidentifikasi kelembapan rumah dengan pertanyaan tentang kerusakan air yang terlihat dan kelembapan lantai atau jamur yang terlihat di rumah selama 12 bulan terakhir. Hasilnya, sebanyak 2.992 orang melaporkan adanya tanda-tanda kelembapan.

Mereka yang tidak merokok tapi tinggal di lingkungan yang lembap memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami sesak napas di malam hari dibanding dengan mereka yang merokok tapi tinggal di lingkungan bersih dan sehat. Dengan kata lain, tingkat peningkatan risiko sesak napas dari kelembapan ruangan hampir sama dengan efek merokok.

Tinggal di lingkungan yang lembap juga memiliki kemungkinan 67% mengidap bronkitis kronis yang mencakup batuk malam hari, asma, dan alergi. Selain itu, mereka juga memiliki kemungkinan 77% mengalami rinosinusitis kronis seperti gejala pilek, hidung tersumbat, dan bersin. (Baca Juga: Punya Alergi Sering Kambuh? Rutin Bersihkan Perabotan di Rumah Anda!)

Kelembapan ruangan diperkirakan memengaruhi 1 dari 10 orang dewasa di beberapa titik kehidupan. Rumah yang lembap biasanya terjadi pada rumah yang dimiliki oleh perempuan, pengangguran atau pelajar, dan mereka yang merokok sepanjang hari terutama di daerah lembap.

Spora aspergillus yang biasa tumbuh di lingkungan rumah sama seperti jenis jamur lainnya yang tumbuh subur di lingkungan hangat dan lembap. Menghirup udara dari lingkungan yang ditumbuhi jamur ini bisa menyebabkan aspergillosis, infeksi yang membuat orang sulit bernapas. Dalam beberapa kasus bahkan bisa berakibat fatal walaupun kemungkinannya kecil.

Profesor Jouni Jaakkola dari Universitas Oulu, Finlandia yang tidak terlibat dalam studi penelitian ini merasa khawatir dengan hasil yang ditemukan. "Saya cukup tertarik dan khawatir dengan orang-orang yang status sosioekonominya rendah. Sebab, mereka lebih mungkin mengalami efek samping yang lebih kuat karena memiliki keterbatasan untuk pindah rumah atau melakukan renovasi penggantian atap dan pintu yang ditumbuhi jamur," kata Profesor Jaakkola.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini