FOOD STORY: Beseprah, Tradisi Makan Bersama Perekat Tali Silaturahmi ala Masyarakat Kutai

Senin 31 Juli 2017 16:30 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 31 298 1747134 food-story-beseprah-tradisi-makan-bersama-perekat-tali-silaturahmi-ala-masyarakat-kutai-Ul5frzaOAy.jpg Tradisi makan bersama Beseprah (Foto:Beritaborneo)

MATAHARI masih sepenggalan, saat masyarakat berduyun-duyun menggerakkan kaki ke Jalan Monumen Timur, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rabu pagi.

Begitu sampai, mereka langsung mengambil posisi duduk bersila di atas karpet yang membentang panjang di jalan itu. Aroma masakan menyeruak ke angkasa.

Di hadapan mereka, telah ada beragam jenis masakan terhidang. Berbagai macam makanan berat khas Kutai Kartanegara seperti nasi kuning, nasi kebuli, sate payau, gence ruan, nasi campur dan lainnya. Juga berbagai penganan asal Kutai lainnya seperti bongko, putu ayu, kue labu, serabi, nasi uduk dan roti balok.

BACA JUGA: FOOD STORY: Makan ala Liwetan, Tradisi Nusantara yang Kini Jadi Tren Kuliner Modern

Tak lama kemudian, sejumlah pejabat dan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Haji Aji Muhammad Salehuddin II datang dan langsung duduk bersila membaur bersama masyarakat. Begitu kentongan berbunyi, serentak semua yang hadir langsung makan nasi.

Bagi masyarakat Kutai Kartanegara, tradisi itu dinamakan Beseprah, yang memiliki makna makan bersama sambil duduk bersila. Makan bersama tersebut dilakukan tanpa memandang pangkat dan jabatan. Semuanya membaur menjadi satu. Beseprah merupakan saat dimana masyarakat bisa menikmati hidangan lezat secara cuma-cuma.

 

(Kutaikertanegara)

"Tradisi ini, dulunya dilakukan raja-raja Kutai. Setiap kali beliau pergi ke daerahnya, pasti melakukan Beseprah. Pihak kerajaan mengundang rakyatnya untuk makan bersama," ujar Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Adji Pangeran Adipati Prabu Anum Surya Adiningrat menjelaskan.

Beseprah dilakukan tak hanya pada saat Kesultanan Kutai Kartanegara tetapi juga ketika masih berbentuk Kerajaan Hindu.

Beseprah merupakan simbol kedekatan sultan dan para rakyatnya. Pada masa Kesultanan Kutai Kartanegara, sultan-sultannya sangat dicintai oleh rakyatnya.

"Beseprah menjadi simbol ungkapan kedekatan Sultan dan rakyatnya, pimpinan dan masyarakatnya. Melalui beseprah, akan timbul rasa saling berbagi, menyayangi, keakraban antara kesultanan dan rakyatnya," papar dia.

Kini, setelah era Kesultanan Kutai Kartanegara berakhir, Beseprah tetap dilestarikan. Beseprah dilakukan ketika Festival Erau berlangsung dan dilangsungkan pada pagi hari.

Erau atau Eroh, yang menurut bahasa setempat yang berarti riuh, ramai ataupun ribut. Keriuhan pun terjadi sepanjang pelaksanaan Festival Erau di kota raja tersebut.

BACA JUGA: Kenali Tradisi Makan Bersama ala Masyarakat Indonesia

Pelaksanaan Erau dimulai ketika pendiri Kesultanan Kutai Kartanegara, Aji Batara Agung Dewa Sakti, berusia lima tahun. Pada saat itu dilakukan upacara tijak (menginjak) tanah dan mandi ke tepian. Setelah diangkat menjadi raja (sekitar tahun 1300 hingga 1325) diselenggarakan upacara Erau.

Lalu, Erau diadakan ketika ada penobatan raja dan pemberian gelar pada tokoh masyarakat yang berjasa pada kerajaan. Erau dulunya tak hanya berlangsung selama sepekan tetapi 40 hari 40 malam yang diikuti masyarakat. Selain berpesta ria, rakyat juga mempersembahkan sebagian hasil buminya kepada kesultanan.Pihak kesultanan pun membalasnya dengan menjamu rakyatnya dengan berbagai sajian.

"Saat Erau juga dilakukan tradisi Beseprah atau makan bersama sambil duduk bersila," jelas dia.

Beseprah menambah panjang tradisi makan bersama masyarakat di Tanah Air. Jika di Jambi, ada namanya tradisi "makan basamo" yang dilakukan masyarakat Melayu Jambi usai Shalat Idul Fitri. Bedanya, di banyak tempat tradisi makan bersama dilakukan di ruangan tertutup maka Beseprah dilakukan di ruang terbuka atau jalan raya. Tradisi itu tidak hanya menarik minat masyarakat setempat tetapi juga wisatawan.

Beseprah pada pelaksanaan Festival Erau 2017 yang berlangsung pada 22 Juli hingga 30 Juli, dilakukan di Jalan Monumen Timur yang persis berada di depan Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara. Kedaton yang dimaksud adalah replika Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara sendiri kini telah diserahkan ke pemerintah menjadi Museum Mulawarman.

Jangan terkikis Putra Mahkota mengharapkan tradisi itu jangan sampai terkikis, karena merupakan peninggalan budaya masyarakat Kutai. Bagi dia, generasi sekarang hendaknya masih melakukan apa yang dilakukan para tetua pada zaman dahulu meskipun zaman telahh berubah.

Tradisi Beseprah tersebut menunjukkan diplomasi makanan yang dilakukan para Sultan Kutai Kartanegara untuk merawat kemajemukan rakyatnya, yang terdiri dari berbagai suku seperti Melayu Kutai, Dayak, Banjar, Bugis, dan lainnya.

BACA JUGA: Nikmatnya Makan Bersama dalam Tradisi Lebaran Ketupat

"Pada era kerajaan, rakyatnya setia dan tunduk pada kerajaan." Bupati Kutai Kartanegar, Rita Widyasari, menjelaskan Beseprah merupakan simbol kedekatan raja dan rakyatnya atau sekarang pemerintah dan rakyatnya.

"Beseprah juga ajang untuk saling berbagi dan saling menghormati," tambah Rita.

Pada saat Beseprah pula, masyarakat saling berbagi makanan yang ada. Pihaknya meminta ragam makanan disediakan oleh perangkat daerah, perbankan, perusahaan swasta, dan masyarakat.

 

(Indonesiakaya)

"Saya minta semua kalangan untuk menyajingan hidangan khas Kutai dan semuanya halal." Bupati Rita menjelaskan pihaknya terus berkomitmen untuk melestarikan budaya Kutai Kartanegara, yang kini menjadi daya tarik bagi wisatawan datang ke Tenggarong.

Seorang wisatawan dari Samarinda, Ari Wijayanti, mengatakan pihaknya sangat takjub dengan pelaksanaan Beseprah tersebut.

"Saya belum pernah lihat tradisi seperti ini, yang mana rakyat dan pemerintah duduk dan makan bersama-sama," kata Ari.

BACA JUGA: FOOD STORY: 5 Pelajaran Hidup dari Tradisi Makan Bajamba Khas Riau, Salah Satunya Ajaran Nabi Muhammad SAW

Ari berharap kegiatan tersebut dapat terus berlangsung, karena termasuk bagian dari kearifan lokal yang perlu dilestarikan karena Beseprah tak sekedar makan bersama tetapi juga alat merekatkan rakyat dan pemimpinnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini