Saat MPASI, Bolehkah Daging Diberikan kepada Bayi?

Tiara Putri, Jurnalis · Senin 31 Juli 2017 20:48 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 31 481 1747354 saat-mpasi-bolehkah-daging-diberikan-kepada-bayi-F226rAadJA.jpg Ilustrasi (Foto: Parents Magazine)

KECERDASAN seorang anak ditentukan oleh nutrisi yang diterimanya pada 1.000 hari kehidupan. Apabila seorang anak sudah mengalami malnutrisi sebelum 1.000 hari kehidupannya, besar kemungkinan anak itu memiliki IQ yang rendah di masa depan. Akibat yang ditimbulkan oleh malnutrisi sifatnya permanen dan tidak bisa diperbaiki. Untuk itu, malnutrisi pada anak harus dicegah sedini mungkin.

1.000 hari pertama kehidupan dimulai sejak janin berada di kandungan ibu hingga anak berusia 2 tahun. Di saat itu, penting bagi anak untuk menerima nutrisi yang berguna untuk pertumbuhan otaknya. Di usia 2 tahun, otak pada anak tumbuhnya sudah mencapai 88%. Jika sudah tumbuh, fungsi otak tidak bisa dikembalikan ke semula lagi. Itulah mengapa kecerdasan anak ditentukan oleh nutrisi yang diterimanya. (Baca Juga: Beri MPASI si Kecil Jangan Kurang dari Usia 6 Bulan)

Selain pada kecerdasan, nutrisi yang diterima oleh anak pada 1.000 hari pertamanya juga menentukan kemampuan berkomunikasi, kognitif, motorik, emosi, dan yang lainnya pada anak. Di Indonesia sendiri ada dua masalah, yaitu kelebihan gizi dan kekurangan gizi. Masalah yang paling umum dihadapi oleh anak-anak yang kekurangan gizi adalah tumbuh pendek atau stunting. Tak hanya itu, hampir 95% anak yang kekurangan gizi IQ-nya di bawah 90. (Baca Juga: Bayi Alergi Protein Hewani? Begini Tips Mengatasinya Moms!)

Enam bulan pertama bayi mendapatkan nutrisi hanya dari ASI. Setelah itu, nutrisi didapatkan dari makanan pendamping ASI (MPASI) karena kandungan nutrisi dalam ASI sudah berkurang. (Baca Juga: Mpasi Bubur Susu Buah Campur untuk Bayi Baru Belajar Makan)

MPASI harus diberikan tepat waktu (tidak boleh lebih lama dari 6 bulan), kandungan nutrisinya baik, aman untuk bayi, dan dengan cara yang benar. MPASI harus mengandung zat besi yang cukup banyak karena kandungan di ASI sudah sangat kurang. Kebutuhan zat besi untuk bayi berusia 6-12 bulan adalah 11 mg.

"Banyak terjadi kesalahpahaman di antara para orangtua. Mereka lebih memilih mengenalkan sayur dan buah kepada anaknya dibanding melengkapi kekurangan nutrisi pada ASI seperti energi, protein, lemak, serta vitamin dan mineral. Padahal, zat-zat itu dibutuhkan anak untuk tumbuh kembang otaknya," tutur dokter spesialis anak sub-spesialisasi nutrisi dan penyakit metabolik, dr Damayanti R Sjarif, Sp.A(K), saat ditemui dalam talkshow Philips AVENT, Solusi Menjawab Tantangan Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi Anak di kawasan Thamrin, Senin (31/7/2017).

Untuk mencukupi zat besi pada bayi, ibu bisa memberikan daging merah dan hati ayam. Sedangkan untuk memenuhi nutrisi lainnya bisa diberikan makanan yang biasa dikonsumsi oleh keluarga sehari-hari seperti opor ayam, rendang, dan gulai (Baca Juga: Moms, Ini Jenis MPASI Bergizi Selain Nasi)

“Prinsip MPASI adalah memperkenalkan makanan yang memiliki tekstur sesuai dengan kemampuan oromotornya. Jadi tidak masalah memberikan masakan rumahan pada anak bayi yang mengandung garam, gula, atau santan. Makanan tinggal dihaluskan agar bisa dimakan oleh anak,” ujar dr Damayanti.

Bayi sudah mengenal berbagai rasa sejak berada di dalam kandungan karena air ketuban yang dia konsumsi memiliki rasa dari asupan makanan ibu. Itulah sebabnya mengapa bayi menolak MPASI yang terasa hambar karena menurut mereka rasanya tidak enak. Pada usia 6 – 9 bulan memang ada baiknya bayi dikenalkan segala macam rasa agar mereka tidak merasa asing dengan rasa makanan ketika besar.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini