Kunci Keberhasilan Ibu Menyusui, IMD yang Tepat hingga Tersedianya Ruang Laktasi di Fasilitas Publik

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 01 Agustus 2017 16:48 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 01 481 1747840 kunci-keberhasilan-ibu-menyusui-imd-yang-tepat-hingga-tersedianya-ruang-laktasi-di-fasilitas-publik-tp3tmyJ9EE.jpg Ilustrasi (Foto: Parents)

KEHIDUPAN seorang anak di masa depan ditentukan oleh asupan nutrisi yang diterimanya di 1.000 hari pertama. Pada waktu ini, ibu berperan penting untuk mengontrol nutrisi yang diterima oleh bayinya baik sejak saat di dalam kandungan, maupun setelah lahir hingga usia 2 tahun.

Tapi, ibu juga membutuhkan sistem pendukung untuk membantunya memberi nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi. Sistem pendukung ibu antara lain suami, orangtua, atau mertua. Ibu memerlukan bantuan yang konsisten dan dapat diandalkan tidak hanya dari segi nutrisi tapi juga dari segi sosial atau psikologis. (Baca Juga: Saat MPASI, Bolehkah Daging Diberikan kepada Bayi?)

Setiap ibu hamil pastinya mengalami perubahan fisik dan emosi yang tidak stabil. Sedangkan tantangan pada ibu menyusui adalah ASI kurang, sindrom baby blues, dan masih banyak lagi. (Baca Juga: Manfaat ASI Eksklusif, Bisa Cegah Kanker, Osteoporisis & Turunkan Risiko Kematian Bayi)

Di saat inilah seorang ibu hamil atau menyusui membutuhkan dukungan dari sistem pendukungnya. Namun, terkadang terjadi kesalahpahaman di mana para ibu merasa kebutuhannya tidak dipenuhi oleh sistem pendukungnya. (Baca Juga: Gagal ASI Eksklusif, Kebutuhan Gizi Ibu Menyusui Rendah)

Hal itu bisa disebabkan karena ibu tidak menyuarakan keinginannya sebab berpikiran sistem pendukungnya mengerti apa yang mereka mau. Di lain pihak, sistem pendukung menunggu permintaan dari ibu.

Padahal, dukungan sehat dari sistem pendukung selama masa kehamilan dan melahirkan membawa dampak positif bagi ibu. “Stabilitas dan partisipasi sosial dapat memberikan dukungan emosional yang berperan untuk mengurang tingkat stres pada ibu dalam menjalani tantangan mereka selama masa kehamilan maupun menyusui,” papar dr Ali Sungkar SpOG (K) saat ditemui dalam sebuah acara di kawasan Kuningan, Selasa (1/8/2017).

Dalam rangka menyambut Pekan ASI Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 – 8 Agustus, dr Ali mengingatkan pentingnya dukungan suami, keluarga, dan bahkan perusahaan bila ibu menyusui bekerja. Pemberian ASI pada bayi sangatlah penting karena bisa menurunkan angka kematian pada bayi dan menurunkan risiko terjadinya sejumlah penyakit seperti infeksi saluran cerna, infeksi saluran pernapasan, asma, obesitas, diabetes, leukemia, dan masih banyak lagi.

Keberhasilan ibu menyusui ditentukan sejak bayi baru lahir yaitu pada saat inisiasi menyusui dini. Pada saat ini, bayi harus didekatkan pada ibu 30 menit sampai 1 jam setelah melahirkan. (Baca Juga: Tips Pintar untuk Ibu yang Bekerja agar Lancar Memberikan ASI)

Nutrisi yang harus diterima oleh bayi baru lahir hanyalah ASI, tidak diperkenankan menerima asupan lain termasuk susu formula. Selain itu, diperlukan pula dukungan lingkungan sekitar agar ibu bisa menyusui dengan lancar. Pada ibu-ibu yang bekerja, menurut dr Ali sebenarnya maternity leave ditujukan pada bayinya bukan pada ibu.

“Maternity leave itu tujuannya supaya ibu bonding (ikatan batin-red) dengan bayinya sehingga bisa menyusui secara penuh. Dengan begitu bayi mendapatkan ASI yang berkualitas baik karena dekat dengan ibunya. Tak hanya suami atau keluarga, perusahaan pun perlu mendukung karyawatinya yang melahirkan untuk menyusui. Bahkan kalau perlu berikan waktu libur tambahan atau menyediakan ruangan khusus ibu memompa ASI ketika dia sudah kembali bekerja,” kata dr Ali.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini