Air Susu Ibu Kurang Bukan Alasan untuk Tidak Menyusui, Segera Cari Donor ASI!

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 04 Agustus 2017 09:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 04 481 1749519 air-susu-ibu-kurang-bukan-alasan-untuk-tidak-menyusui-segera-cari-donor-asi-mxB7coNbGL.jpg Ilustrasi (Foto: Newsmail)

MENYUSUI adalah salah satu usaha untuk meningkatkan derajat kehidupan. Memberikan ASI secara eksklusif bukan hanya membawa keuntungan bagi bayi, tetapi juga pada ibu.

Untuk itu, setiap tahunnya di minggu pertama bulan Agustus selalu diperingati sebagai Pekan ASI Sedunia (PAS). Tahun ini PAS mengambil tema "Sustaining Breastfeeding Together" yang diterjemahkan oleh Kementerian Kesehatan RI sebagai "Bekerja Bersama untuk Keberlangsungan Pemberian ASI". (Baca Juga: Berikan ASI Eksklusif, Ibu Menyusui Terhindar dari Serangan Jantung)

Dari tema ini dapat disimpulkan bahwa pemberian ASI eksklusif kepada bayi bukan hanya tanggung jawab ibu semata, melainkan juga menjadi tanggung jawab ayah atau suami, keluarga, dan lingkungan sekitar. Ayah berperan besar dalam upaya mendukung dan mengadakan ASI.

Berdasarkan data dari PSG Kemenkes Tahun 2016 pemberian ASI secara ekslusif kepada bayi baru mencapai 54% dari total keseluruhan. Itu berarti masih banyak bayi yang belum mendapatkan ASI secara eksklusif. (Baca Juga: Gagal ASI Eksklusif, Kebutuhan Gizi Ibu Menyusui Rendah)

Padahal, ASI merupakan nutrisi utama yang bermanfaat bagi tumbuh kembang bayi usia 0-6 bulan. Keberhasilan pemberian ASI eksklusif awalnya ditandai dengan inisiasi menyusui dini (IMD). Sayang angka IMD di Indonesia hanya 51,8%, yang artinya hampir sebagian besar ibu melahirkan tidak melakukan IMD pada bayi yang dilahirkannya. (Baca Juga: Mencampur ASI dengan Susu Formula Berisiko pada Ginjal Bayi)

Menurut Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes, dr Anung Sugihantono, M.Kes, ada beberapa tantangan yang membuat tidak semua ibu memberikan bayinya ASI eksklusif.

"Tantangan yang kita hadapi adalah tidak semua tenaga kesehatan mengerti tentang pentingnya IMD. Selain itu, berdasarkan data yang ada, 80% ibu menyusui adalah para pekerja. Permasalahannya, tidak semua kantor memiliki ruang ASI untuk ibu memompa dan mengirimkan ASI kepada anaknya. Tantangan lainnya yaitu intervensi di lingkungan melalui iklan atau informasi tentang makanan pengganti ASI," ungkap dr Anung saat dijumpai di acara temu media, Kamis 3 Agustus 2017 di Gedung Kemenkes RI, Kuningan, Jakarta Selatan.

Di sisi lain, seorang ahli nutrisi, dr Tan Shot Yen berpendapat semua bayi yang dilahirkan harus mendapatkan ASI. Sebab, nutrisi utama untuk bayi berumur 0-6 bulan hanyalah ASI.

"Tidak ada kata tidak dalam upaya bayi mendapatkan ASI. Itu adalah hak mereka. ASI tidak pernah kurang. Bila ASI ibu tidak cukup, ibu bisa mencari donor ASI. Sekarang ini sudah semakin banyak komunitas yang mendonorkan ASI bahkan secara online," kata dr Tan Shot Yen. (Baca Juga: Tips Pintar untuk Ibu yang Bekerja agar Lancar Memberikan ASI)

Pemberian ASI bertujuan agar bayi mendapatkan nutrisi yang cukup agar tidak mengalami permasalahan di kemudian hari seperti stunting. Bayi yang baru lahir hanya boleh diberikan ASI, bukan susu formula atau pun air putih. Setelah usianya di atas 6 bulan, bayi baru bisa mendapatkan makanan pendamping ASI (MPASI) sebagai pelengkap nutrisi yang tidak didapatkan dari ASI.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini