nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengejutkan! Makan Daging Merah dan Cokelat Ternyata Menyehatkan Usus

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Minggu 06 Agustus 2017 08:11 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 08 06 481 1750635 mengejutkan-makan-daging-merah-dan-cokelat-ternyata-menyehatkan-usus-VIsQFNuwFZ.jpg Makan Cokelat (Foto: Ist)

BERDASARKAN data yang dimiliki Dailymail, kondisi kesehatan yang banyak diderita 1,3 juta warga Amerika Serikat berhubungan dengan perut. Seperti misalnya kram perut dan kembung, diare berulang sampai berdarah, penurunan berat badan, dan kelelahan ekstrim.

 (Baca Juga: Oh...Ternyata Ini 5 Penyebab Anda Mengalami Nyeri Sendi)

Biasanya, mereka yang memiliki masalah itu dianjurkan untuk menghindari daging merah dan susu. Tujuannya adalah agar perut mereka tidak semakin parah, karena dipercaya dua makanan tersebut malah menegangkan perut. Periset dari Universitas Washington menemukan fakta mengejutkan dimana fakta tersebut malah mengungkapkan hasil yang kontradiktif!

(Baca Juga: Ini Loh Bagian Tubuh yang Sering Alami Nyeri Sendi)

Triptofan asam amino pada protein ternyata penting dalam membantu mengembangkan sel kekebalan tubuh yang mendorong terciptanya toleransi usus terhadap beberapa gejala penyakit. Peneliti Dr Marco Colona menjelaskan, sel kekebalan tubuh berfungsi untuk memastikan bahwa mikroba berbahaya yang tersembunyi dalam makanan tidak menyelinap masuk ke dalam tubuh. Semakin baik sel kekebalan tubuh, maka deteksi mikroba jahat itu semakin baik. Tubuh pun semakin sehat.

 (Baca Juga: Nyeri Tulang Belakang hanya Bisa Ditoleransi 3 Minggu Loh, Ini Kata Ahlinya!!)

Terkait dengan penyakit radang usus, hal tersebut terjadi karena tidak adanya keseimbangan antara sel yang memicu peradagangan dengan sel yang baik untuk tubuh. Hal tersebut terjadi, maka jaringan sensitif pun akan rusak. Radang usus pun terjadi.

Sementara itu, dalam percobaan yang dilakukan Profesor Colona, ditemukan semacam sel imun yang mempromosikan toleransi pada tikus yang mana sel tersebut membawa bakteri tertentu dalam tubuh mereka. Dan bakteri membutuhkan tryptophan - salah satu blok protein - untuk memicu perbaikan sel.

Profesor Colonna mengatakan, pihaknya membangun hubungan antara satu spesies bakteri yaitu Lactobacillus reuteri, yang mana merupakan mikroba yang ada di usus dan mengembangkan populasi sel yang mempromosikan toleransi. "Semakin banyak triptofan yang dimiliki tikus dalam makanan mereka, semakin banyak sel kekebalan yang mereka miliki. Hal ini tentunya kabar baik," ungkapnya.

Dia menyarankan jika pekerjaan yang sama pada manusia, kombinasi antara L. reuteri dan diet kaya triptofan dapat mendorong lingkungan usus yang lebih toleran dan masalah peradangan usus akan semakin diminimalisir.

Kemudian, peneliti postdoctoral Dr Luisa Cervantes-Barragan sedang mempelajari sejenis sel kekebalan yang mempromosikan toleransi saat dia menemukan bahwa satu kelompok tikus penelitian memiliki sel tersebut namun kelompok lain dengan strain yang sama, ditempatkan terpisah tidak melakukannya. Dia menduga ada kaitannya dengan mikrobiom usus tikus - komunitas bakteri, virus dan jamur yang biasanya hidup di dalam saluran pencernaan.

 (Baca Juga: Nyeri Tulang Bisa Menandakan Kemungkinan Kanker Tulang?)

Tikus dipelihara di lingkungan yang steril sehingga mereka kekurangan microbiome usus dan tidak mengembangkan jenis sel imun ini yang diberi L. reuteri dan sel kekebalannya muncul. Untuk memahami bagaimana bakteri tersebut memengaruhi sistem kekebalan tubuh, para peneliti menanam L. reuteri dalam cairan dan kemudian mentransfer sejumlah kecil cairan - tanpa bakteri - ke sel kekebalan yang belum matang yang diisolasi dari tikus. Sel kekebalan berkembang menjadi sel yang mempromosikan toleransi.

Ketika para peneliti melipatgandakan jumlah triptofan pada pakan tikus, jumlah sel tersebut meningkat sekitar 50 persen tetapi ketika tingkat triptofan berkurang separuh, jumlah sel turun setengahnya.

Peneliti lain Dr Cervantes-Barragan menjelaskan bahwa orang memiliki sel yang mempromosikan toleransi sama seperti tikus, dan kebanyakan dari kita melindungi L. reuteri di saluran pencernaan kita. Tidak diketahui apakah produk sampingan tryptophan dari L. reuteri menginduksi sel berkembang pada manusia seperti pada tikus, namun gen yang terkait dengan triptofan telah ditemukan pada orang dengan penyakit radang usus.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini