Image

''Mama-Papa Stop!'', Apa yang Dipikirkan Anak saat Orangtuanya Bertengkar?

Vessy Frizona, Jurnalis · Selasa 08 Agustus 2017, 06:18 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 08 07 196 1751236 mama-papa-stop-apa-yang-dipikirkan-anak-saat-orangtuanya-bertengkar-AB7U67iXkL.jpg Ilustrasi (Foto: Huffingtonpost)

DARI pertengkaran kecil, debat panjang, hingga amukan ayah yang disambut tangisan ibu sangat memengaruhi kejiwaan anak. Tak hanya saat itu, tetapi jangka panjang.

Seorang anak remaja di Amerika Serikat, Sabina, curhat. Dia masih ingat kala orangtuanya berkelahi waktu ia kecil. Dia tak mendengar jelas kata-kata apa yang terucap, dia hanya ingat saat itu ia ketakutan dan langsung manarik adik perempuannya bersembunyi di balik mesin cuci

Baca Juga: Anak Jadi Tukang Gosip & Berkata Buruk? Perhatikan Teman Sekolahnya Moms!

“Emosi yang saya rasakan saat memikirkan malam itu sangat bercampur dan membuat saya sangat cemas. Di sisi lain, saya tahu bahkan pada usia lima tahun bahwa saya mencintai saudara perempuan saya dan tidak ingin dia mengalami hal-hal yang saya alami dan akan melakukan sesuatu untuk melindunginya,” tulis Sabina seperti dikutip Familyshare, Selasa (8/8/2017).

Tidak semua argumen nada-nada tinggi dapat memicu kekerasan, namun setiap argumen menimbulkan stres pada anak. Bahkan pada usia lima tahun, Sabina sangat menyadari energi negatif, merasa terancam dan berusaha melindungi saudara kandungnya. Dia tidak bisa mengingat kata-kata yang orangtuanya katakan, tapi dia mengingat perasaannya dengan jelas.

Baca Juga: Anak Alami Kesulitan Bersosialisasi, Yuk Buat Mereka Nyaman Bergaul di Luar

Moms, ingat ya, apa yang Anda lakukan di depan anak itu penting. Contoh lain adalah Abigail yang tumbuh di rumah dengan kondisi keluarga stabil. Orangtuanya jarang tidak setuju jika dia punya permintaan dan jika mereka berkelahi, tidak dilakukan di depan anak-anak. Dia bilang hanya ada sekilas atau diskusi sesekali tentang jadwal sibuk atau tugas kedua orangtuanya. Dia merasa konflik yang terjadi diselesaikan dengan cepat. Dia menghargai contoh kedua orangtuanya.

Baca Juga: Kalau Pakai Hati, Hal Sepele yang Dilakukan Ibu Berdampak Luar Biasa

"Anak-anak adalah analis konflik yang canggih," kata Diana Divecha, Ph.D. seorang psikolog di AS. "Tingkat di mana mereka mendeteksi emosi jauh lebih halus daripada dugaan orangtua. Anak-anak dapat membedakan antara resolusi yang dipaksakan versus yang diselesaikan dengan emosi positif, dan ini penting."

Suami Abigail, tidak seberuntung dirinya. "Suami saya berasal dari rumah di mana ayahnya sangat dominan," kata Abigail. "Ibunya mengangkat hanya mencoba melakukan apa pun yang dia bisa untuk menyenangkan sang anak. Konsekuensinya, suami saya trauma dan saya bekerja sangat keras untuk menciptakan tempat yang aman dan membahagiakan. Anak-anak kami.”

Baca Juga: Moms, Anak Usia 2 Tahun Sudah Harus Diberi Tanggung Jawab! Yuk Mulai dari Membereskan Mainan

Diana Divecha menambahkan bahwa anak-anak kita lebih memerhatikan tindakan kita daripada kata-kata kita. Suami Abigail harus bekerja keras untuk mengetahui apa yang dipelajari Abigail secara alami. (Vin)

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini