nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menjadi Perokok Pasif, Leher Zainudin Harus Bolong karena Pita Suara Diangkat

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 09 Agustus 2017 18:05 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 08 09 481 1752814 menjadi-perokok-pasif-leher-zainudin-harus-bolong-karena-pita-suara-diangkat-ZxT1yzwNlN.jpg Pita suara Zainudin harus diangkat akibat asap rokok (Foto: Tiara/Okezone)

SUARA pada manusia dihasilkan dari pita suara yang bergetar. Namun apa jadinya bila pita suara seseorang harus diangkat? Apakah dia tetap bisa bersuara? Jawabannya bisa, tapi ada hal yang tidak mengenakkan lainnya.

Hal inilah yang dirasakan oleh Zainudin, seorang pria yang harus rela pita suaranya diangkat saat usianya baru menginjak 23 tahun. “Gejala awal yang saya rasakan adalah batuk. Setelah diobservasi lebih lanjut oleh dokter, saya divonis terkena kanker pita suara. Ada tumor yang tumbuh di tenggorokan saya,” cerita Zainudin saat ditemui dalam sebuah acara, Rabu (9/8/2017), di kawasan Jakarta Pusat.

(Baca Juga: 25 Ribu Perokok Pasif Telah Meninggal, Waspadai Bahaya Third Hand Smoke)

Tak lama setelah divonis dokter terkena kanker pita suara, Zainudin menjalani operasi pengangkatan pita suara agar kankernya tidak menyebar. Bukan hanya pita suara yang diangkat, melainkan jakun dan hampir keseluruhan organ tenggorokannya. Seperti yang diketahui, tenggorokan adalah salah satu organ yang berperan dalam sistem pernapasan manusia.

(Baca Juga: Ingin Suami Berhenti Merokok, Wanita Ini Sajikan Kue Ulang Tahun Berbentuk Kuburan)

Ketika ada bagian tenggorokan yang diangkat, hidung pria berusia 44 tahun itu sudah tidak berfungsi. Agar Zainudin tetap bisa bernapas, dokter membuat sebuah lubang kecil di bagian bawah lehernya. Tak hanya itu, Zainudin menggunakan saluran makannya untuk berbicara sehingga suaranya terdengar seperti robot.

(Baca Juga: Bahaya! Jangan Biasakan Merokok Setelah Makan)

Kejadian yang dialami oleh Zainudin ini disebabkan oleh asap rokok. Awalnya dokter mengira Zainudin adalah seorang perokok aktif. Tapi ternyata Zainudin tidak merokok. Usut punya usut, ternyata Zainudin tinggal di lingkungan yang orang-orangnya adalah perokok.

“Sejak kecil saya tinggal bersama keluarga yang merupakan perokok berat. Mulai dari kakek saya, bapak saya, hingga abang saya. Dulu waktu muda saya juga aktif di kegiatan kepemudaan di mana anggotanya juga merokok,” ujar Zainudin.

(Baca Juga: Merokok Dampaknya Tak Hanya Serangan Jantung dan Kanker)

Karena terpapar asap rokok sejak kecil, Zainudin harus mengalami kejadian yang bukan disebabkan oleh dirinya sendiri. Tinggal di lingkungan perokok, membuat Zainudin menjadi perokok pasif. Dia sering menghirup zat-zat berbahaya yang terkandung dalam asap rokok.

Menurut dokter spesialis paru dari RSUP Persahabatan, dr Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), baik perokok aktif maupun perokok pasif memiliki tingkat bahaya penyakit yang sama. Setelah divonis oleh dokter, Zainudin juga baru tahu bahwa menjadi perokok pasif itu ternyata juga berbahaya. Untuk itu, kini Zainudin aktif menyuarakan hak perokok pasif melalui sebuah aliansi yang berisi korban-korban dari asap rokok.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini