Makanan yang Ada di Pesawat Bumbunya Ditingkatkan 20 Persen biar Makin Lezat!

Pradita Ananda, Jurnalis · Jum'at 11 Agustus 2017 13:47 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 11 298 1753968 makanan-yang-ada-di-pesawat-bumbunya-ditingkatkan-20-persen-biar-makin-lezat-3ikuuAyfrl.jpg Makanan di pesawat (foto: Bettertravelinsurance)

BAGI sebagian orang, salah satu momen yang ditunggu-ditunggu ketika sedang bepergian atau traveling dengan menggunakan pesawat apalagi kalau bukan di saat menyantap hidangan yang disajikan.

Well, memang untuk sebagian orang acara menyantap makanan saat sedang berada di dalam pesawat menjadi pengalaman yang mengasyikkan dan memberikan sensasi sedikit berbeda.

Bicara soal sajian makanan yang dihidangkan di pesawat. Tahukah bahwa menu-menu yang disajikan tersebut haruslah dibuat sedemikian rupa dengan menggunakan sederet pertimbangan khusus dari seorang chef. Hal ini dituturkan langsung oleh chef Agus Hermawan, yang membuat menu sajian Ayam Rujak untuk Bussiness Class rute penerbangan internasional Garuda Indonesia, Jakarta-Amsterdam.

BACA JUGA:

Sebaiknya Makan atau Tidak di Pesawat? Ini Kata Ahli Gizi

Minuman Es Soda Kola Butuh Waktu Lebih Lama saat Disajikan di Atas Pesawat, Kira-Kira Kenapa Ya?

"Bisa membuat hidangan untuk bussiness class untuk rute penerbangan internasional ini sejujurnya adalah salah satu pengalaman paling menakjubkan untuk saya. Karena pada dasarnya, menu makanan yang disajikan di pesawat itu apalagi untuk kategori yang tinggi seperti bussiness class itu tidak bisa dimasak sembarangan. Ada poin-poin yang harus dipertimbangkan," terang Agus saat ditemui Okezone, dalam konferensi pers "Star Chef dan Kartu Kredit BNI Mastercard World" pada Kamis, 10 Agustus 2017 di bilangan Jakarta Pusat.

Lebih lanjut diketahui, poin-poin yang harus dipertimbangkan oleh seorang chef, ketika membuat menu makanan di pesawat tersebut seperti rasa, cara penyajian, dan cara memakan. Agus menjelaskan, menu sajian yang dihidangkan di pesawat pada dasarnya harus menggunakan konsep "easy to eat dan easy to served".

"misalnya untuk rasa, kadang di pesawat itu indra pengecap kita terkadang suka mati rasa. Saya menyiasatinya dengan takaran resep yang berbeda, semua bumbu itu takarannya dinaikkan sekitar 20 persen. Misal untuk menu biasa (di darat) dipakai takaran 1 1/2 teh sendok garam, nah untuk menu di pesawat saya naikkan dengan takaran 2 1/2 teh sendok garam. Kenapa begitu? Biar saat disiapkan di atas pesawat, rasanya menjadi naik kembali. Ini saya terapkan ke semua hidangan saya," tambahnya.

BACA JUGA:

TERUNGKAP, Pramugari Ternyata Benci kalau Penumpang Pesan Minuman Bersoda saat Penerbangan

Ya Ampun! Pramugari Emirates Tuang Kembali Sisa Champagne Penumpang ke Botol

Pria yang juga merupakan seorang Executive Chef di Ron Gastrobar di Amsterdam, Belanda ini mengungkapkan lebih lanjut bahwa platform untuk menu makanan di pesawat yakni easy to eat dan east to serve adalah hal yang sangat harus dipikirkan oleh para chef yang membuat menu sajian makanan untuk penerbangan. Karena menu yang disantap oleh penumpang di atas pesawat tidak boleh menyulitkan, baik bagi penumpang itu sendiri ataupun untuk para pramugari-pramugara yang bertugas.

" Percuma kalau menu makanan ini kalau di darat, bisa diutak-atik dibuat neko-neko. Tetapi pas disajikan di atas pesawat malah jadi amburadul. Easy to eat alias dimakannya enggak susah dengan kata lain mudah dipotong, mudah disendok, dan easy to served, dengan perhitungan para kru yang bertugas di atas pesawat kan beda-beda. Ada yang sudah berpengalaman dan paham cara menyajikan yang baik, tapi kan ada juga kru yang baru. Kalau sulit disajikan di atas piring saji juga nanti awak kabin kru yang menyajikan bisa menjadi panik," tandasnya.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini