FOOD STORY: Batra, Olahan Ulat Sagu Khas Mentawai yang Menyimpan Kelezatan Tanpa Bumbu

Rus Akbar, Jurnalis · Jum'at 11 Agustus 2017 17:04 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 11 298 1754002 food-story-batra-olahan-ulat-sagu-khas-mentawai-yang-menyimpan-kelezatan-tanpa-bumbu-oGRWCCfzSk.JPG Ulat sagu khas Mentawai (Foto:Rus Akbar)

BATRA merupakan makanan khas Mentawai dari ulat sagu berukuran ibu jari tangan dewasa dengan warna kuning tua dan kepala hitam kemerahan, batra ini sejenis larva yang menguraikan batang sagu setelah ditebang.

Batra ini bisa dijadikan berbagai varian makanan. Biasanya masyarakat Mentawai menjadikan ulat sagu usai panen sagu yang juga makanan pokok masyarakat Mentawai sebelum nasi. Rentang tiga bulan sagu yang ditebang tersebut sudah ada larva dan siap dipanen untuk dijadikan lauk pauk.

Bagi yang baru melihat memang jijik, lantaran larva sagu ini tidak mengonsumsi yang lain selain dari sagu. Memasak ulat sagu ini tergolong mudah dan tidak memerlukan bumbu masak selain garam dengan ukuran sedikit.

BACA JUGA:

FOOD STORY: Serba-Serbi Nasek Ampog Makanan Utama Masyarakat Madura & Resep Lengkapnya

FOOD STORY: Lezatnya Gulai Bulung Gadung, Warisan Nenek Moyang Orang Mandailing Natal

Ada beberapa cara memasak ulat sagu, menurut Rosalia Leni (27) yang paling gampang adalah membuat sate batra. Ini tidak perlu mencari bahan-bahan lain, hanya ulat sagu, bara kayu dan bambu sebagai penusuk ulat sagu.

Ulat sagunya ditusuk ke bambu yang sudah diraut sekitar 10 ekor lalu diletakkan diatas bara api. Sebelum membakarnya, terlebih dahulu memberikan garam sedikit saja. “Kalau apinya bagus apalagi pakai tempurung hanya 10 menit sudah masak dan sudah bias dicicipi,” tuturnya pada Okezone.

Rosalia mengingatkan jangan sampai gosong karena kalau terlalu matang akan pahit rasanya. Ketika mencicipi rasanya begitu gurih dan lezat, ditambah dengan aroma menggugah selera.

Cara lain tak kalah enaknya memasak memakai bambu ukuran lemang. Terlebih dahulu perut ulat diiris memakai sembilu bambu lalu dimasukkan dalam bambu. “Tidak perlu pakai air karena batra ini sudah memiliki cairan dan lemak dalam tubuh ulat sagu. Nah untuk memasaknya tinggal letakkan di perapian sambil membakar jika sudah berbunyi mendidih maka itu tandanya sudah masak,” tuturnya.

Saat ditumpahkan warnanya akan berubah kuning tua, aromanya juga tak kalah dengan batra yang dipanggang. Akan lebih enak dimakan bersama dengan sagu sebagai makanan masyarakat Mentawai. Kalau tidak ada bambu juga bisa dengan menggunakan kuali, caranya juga sama dengan bambu. “Tidak perlu memasukkan air cukup iris-iris saja lalu dimasak dalam kuali,” terangnya.

BACA JUGA:

FOOD STORY: Muasal si Kue Bulat Berlubang, Mulai Kue Goreng Asal Belanda hingga Santapan Kapten Kapal

FOOD PARTY: Mulai Shakshuka dari Afrika Utara hingga Egg Masala dari India, Sederet Olahan Telur Unik yang Siap Manjakan Lidah

Lalu cara yang lain adalah dengan cara digongseng, dimana ulat sagu tersebut dimasak campur dengan air kelapa muda sampai kering. “Rasanya manis dan gurih, ini mirip rendang nanti bisa dipanasin ulang,” ujarnya.  

Cara terakhir adalah menyalai dengan api seperti ikan, ulat sagu yang didapat langsung diasapi diatas perapian sampai kering hingga warnanya menghitam. “Rasanya ini agak kering dan sedikit berubah namun ini tahan sampai beberapa bulan,” tuturnya.

Mungkin jika penasaran bisa langsung ke Mentawai khususnya di Siberut yang masih memiliki sagu dan pengolahnya. Sebelum memasak tentu akan mencari di batang sagu yang sudah diurai oleh ulat sagu. Nah sambil mencari ulat sagu, bisa juga langsung menyantap ulat sagu yang dapat .

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini