nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ketahui Efek Samping Pengobatan Aritmia, Salah Satunya Bahayakan Ibu Hamil & Janin

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 11 Agustus 2017 20:33 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 08 11 481 1754401 ketahui-efek-samping-pengobatan-aritmia-salah-satunya-bahayakan-ibu-hamil-janin-QyHYi9uOkU.jpg Ilustrasi (Foto: Medicalexpress)

PENGOBATAN pada suatu penyakit tidak terlepas dari efek samping. Ada yang sekadar ngantuk, sampai pada efek samping yang terlihat secara kasat mata seperti kemoterapi pada masalah kanker. Pada penyembuhan gangguan aritmia, pasien juga dihadapkan efek samping. Apa itu?

Perlu Anda ketahui terlebih dulu, penyembuhan masalah ini dijelaskan Profesor Ahli Aritmia di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpPJ (K) sesuai tata laksananya terdiri dari 3 jenis. Antara lain terapi farmakologis, elektroterapi, dan terapi bedah.

(Baca Juga: Waspadai, Kelainan Irama Jantung Bisa Berisiko Stroke)

Prof. Yoga menuturkan, untuk terapi farmakologis, pasien selama pengobatan diberikan obat-obat golongan aritmia. Pemakaian obat sebagai pengobatan oral biasanya menggunakan obat antikoagulan oral baru (OKB). Obat tersebut digunakan untuk mencegah stroke pada kelainan irama fibrilasi atrium (FA).

(Baca Juga: AWAS! Jantung Berdebar-debar Tak Selalu Pertanda Jatuh Cinta, Waspada Aritmia)

OKB sendiri adalah sebuah lompatan besar terapi antikoagulan yang bukan saja efektif tetapi menyelesaikan permasalahan risiko pendarahan, reaksi silang antar obat, dosis-efek yang sulit diprediksi, dan pengaruh makanan terhadap ansorbsi obat dari antikoagulan oral klasik warfarin.

Kemudian, untuk pengobatan cara kedua adalah elektroterapi. Nah, untuk cara ini, Prof Yoga membaginya dalam 3 kelomopol berbeda. Yang pertama adalah DC Kardioversi. Indikasi dari tindakan ini adalah takiaritmia dengan mekanisme dasarnya berupa proses reentrant. "Terapi jenis ini memiliki efektifitas yang lebih tinggi daripada terapindengan agen antiaritmia," terang Prof. Yoga saat ditemui di RS Jantung Harapan Kita, Jumat (11/8/2017).

(Baca Juga: Waspada, Ternyata Jantung Bisa Menua dan Fatal Akibatnya!)

Prof Yoga melanjutkan, cara kedua dari Eletroterapi adalah dengan penggunaan alat Kardioversi-defibrilasi tertanam (DKI). Cara ini, sambung dia, cukup cocok dengan pasien berisiko ventrikel aritmia fatal. Sebab, alat ini dapat mengidentifikasi dan pemasangan defibrillator kardioverter implant (DKI) pun diyakini bisa menurunkan risiko.

Dijelaskan Prof Yoga, alat ini merupakan sebuah modalitas elektroterapi yang menggunakan alat tertanam pada tubuh dan berfungsi untuk memonitor dan menghantarkan arus kardioversi secara otomatis bila terdeteksi adanya aritmia.

Kemudian, ada juga Ablasi. Nah, pada pengobatan jenis ini, biasanya banyak dilakukan pada pasien. Sebab, terapi ablasi juga merupakan modalitas elektroterapi yang menggunakan energi listrik untuk menghancurkan myocardium yang menjadi fokus dari timbulnya aritmia.

"Yang terakhir adalah terapi bedah. Secara tata laksana, penanganan dengan pembedahan sama dengan ablasi. Bedanya, terapi bedah menghancurkan fokus aritmia secara mekanik," pungkas Prof Yoga.

(Baca Juga: Sering Bangun Tengah Malam Berisiko Terkena Gangguan Irama Jantung)

Sementara itu, Dokter Spesialis Jantung Konseling Dr. Dicky Armein Hanafy, SpJP (K), menjelaskan, penggunaan ablasi pada ibu hamil cukup berisiko menggangu kesehatan janin. "Bahkan bisa membahayakan janin. Sebab, sinar X yang digunakan cukup berisiko membuat kesehatan janin menjadi terganggu," tambahnya.

Makanya, sambung Dr. Dicky, sekarang ini penggunaan 3D yang dikombinasikan dengan ablasi bisa menjadi pilihan pengobatan yang bisa dipilih ibu hamil. "Tapi, karena alat dan tenaga medisnya terbatas, pasien membutuhkan waktu antri 6 bulan," terang Dr Dicky.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini