nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dari Gajah, Ternyata Manusia Bisa Belajar Pencegahan Kanker

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 12 Agustus 2017 09:10 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 08 12 481 1754546 dari-gajah-ternyata-manusia-bisa-belajar-pencegahan-kanker-QHwM3sloQk.jpg Ilustrasi (Foto: Time)

SIAPA sangka, hewan dengan belalai yang panjang dan telinga yang besar, gajah, manusia bisa belajar pencegahan kanker. Diketahui, dalam tubuh gajah, terdapat gen yang baik untuk membunuh sel kanker. Apakah itu?

Perlu Anda ketahui, setiap kali sel dalam tubuh terbelah, ada kemungkinan terjadinya mutasi (kesalahan) pada DNA - zat yang membawa informasi genetik di semua organisme hidup. Mutasi ini bisa menyebabkan kanker.

(Baca Juga: Sering Muncul Flek Padahal Sedang Tidak Menstruasi, Pertanda Kanker Serviks Stadium Awal?)

Namun pada 1977, Sir Richard Peto mencatat bahwa manusia mengembangkan kanker pada tingkat yang sama seperti tikus. Hal tersebut tercatat 1.000 kali lebih banyak sel dan hidup 30 kali lebih lama.

Dan data tersebut serupa dengan apa yang terjadi pada tikus. Contoh lain dari fenomena ini dapat ditemukan pada gajah. Mereka 100 kali lebih besar dari manusia dan bisa hidup sampai usia 60-70 tahun, namun tingkat kankernya sangat rendah.

(Baca Juga: Gawat! Dari 91.349 Perempuan di Indonesia, 2,3% Terindikasi Positif Kanker Serviks)

Peto mengusulkan agar pertimbangan evolusioner dapat menjelaskan perbedaan kejadian kanker sel per spesies. Ketika membandingkan tingkat kanker pada tikus dan manusia, dia menyatakan bahwa manusia berkembang menjadi lebih besar dan hidup lebih lama sepanjang sejarah evolusioner.

Tapi, gajah berevolusi untuk melawan kanker. Resistansi kanker yang mengejutkan ini ditemukan pada hewan berumur panjang yang lebih besar, seperti gajah. Prinsip ini dikenal sebagai Paradoks Peto.

"Kami menunjukkan bahwa kematian akibat kanker tidak meningkat dengan ukuran tubuh atau rentang hidup. Sebenarnya, kami mengamati bahwa beberapa hewan bertubuh besar dan usia hidupnya lebih lama dapat menyebabkan lebih sedikit kanker," kata peneliti seperti dikutip dari laman The Conversation, Sabtu (12/8/2017).

(Baca Juga: Nikah di Bawah Usia 21 Tahun, Perempuan di Indonesia Terancam Kanker Serviks)

Peneliti juga menghitung angka kematian kanker gajah kurang dari 5%, dibandingkan dengan tingkat kematian akibat kanker manusia sebesar 11% sampai 25%.

Gajah sendiri diketahui memiliki kemampuan melawan kanker sejak 55 juta tahun yang lalu. Dengan data tersebut, menjadi bekal tersendiri bagi peneliti untuk mengetahui lebih lanjut terkait usaha gajah dalam melawan kanker. Serta mengembangkan perawatan kanker yang efektif.

Lebih lanjut, peneliti menjelaskan bahwa timnya melihat genom gajah Afrika untuk perubahan onkogen dan gen supresor tumor. Onkogen dapat menyebabkan sel tumbuh di luar kendali sementara gen supresor tumor memperlambat pembelahan sel. Ini adalah dua jenis utama gen yang berperan dalam kanker dan dapat membantu menjelaskan mekanisme potensial resistensi kanker pada gajah.

Analisis pun dikeluarkan. Yang mana, hasilnya mengungkapkan bahwa gajah mengekspresikan banyak gen tambahan yang berasal dari gen supresor tumor kritis TP53. TP53 disebut "Guardian of the Genome" karena kemampuannya melindungi sel dari akumulasi kanker yang menyebabkan mutasi.

Gen TP53 merespons kerusakan DNA atau pra-kanker, dengan menghentikan sel dari pembelahan sampai DNA dapat diperbaiki dengan sendirinya. Jika sel tidak bisa memperbaiki DNA, maka TP53 menyebabkan sel mati melalui proses yang disebut apoptosis. Mengorbankan sel yang rusak mencegah perambatan sel dengan mutasi yang bisa menyebabkan kanker.

Orang dengan Sindrom Li-Fraumeni memiliki mutasi pada satu salinan gen TP53 mereka, dengan risiko bertahan lebih dari 90% untuk mengembangkan kanker. Tingginya tingkat kanker yang terkait dengan disfungsi TP53 ini menggambarkan peran penting yang dimainkan TP53 dalam melindungi kita dari kanker.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini