nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kabar Baik! Alat Ini Bisa Deteksi Penyakit dari Perubahan Aroma Tubuh

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 15 Agustus 2017 07:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 08 14 481 1755962 kabar-baik-alat-ini-bisa-deteksi-penyakit-dari-perubahan-aroma-tubuh-AinvRCjeTQ.jpg Ilustrasi (Foto: Mirror)

PERNAHKAH Anda terngiang dengan aroma tubuh atau parfum seseorang? Bila orang itu adalah orang terdekat, pasti Anda bisa mengenali aroma tubuhnya dengan baik. Menurut para ahli, aroma tubuh seseorang bisa menjadi penanda kesehatannya.

Aroma tubuh bergantung pada zat kimia yang ada di dalam tubuh. Jika zat kimia mengalami perubahan, maka aroma tubuh seseorang juga akan berbeda.

(Baca Juga: Pemberian Vaksin MR Aman untuk Anak Sebelum Usia 15 Tahun, Sudah Jaminan Halal dari MUI)

Mungkin hidung Anda tidak akan menyadari perubahan aroma tubuh orang terdekat, tapi sebuat alat teknologi terbaru bisa mendeteksi perubahan kecil itu. Aroma tubuh seseorang bisa mengungkapkan usia, genetika, gaya hidup, bahkan metabolisme tubuh yang berkaitan dengan kesehatan.

(Baca Juga: Cegah Cacat Kelainan Bawaan Akibat Rubella, Menkes Imbau untuk Lakukan Imunisasi MR)

Penelitian medis modern menegaskan bau kulit, napas, dan cairan tubuh bisa menjadi sugestif penyakit. Sebagai contoh, orang yang memiliki penyakit diabetes terkadang mengeluarkan aroma tubuh seperti buah pir dan mereka yang terkena tifus akan mengeluarkan aroma roti bakar.

(Baca Juga: Cegah Campak dan Rubella, Ayo Bawa Anak Suntik Vaksin MR Agustus Nanti, Gratis!)

Atas dasar inilah selama beberapa dekade para ahli berusaha membangun sebuah sensor baru yang memiliki harga terjangkau untuk mendiagnosis penyakit dengan cepat, andal, dan tidak invasif. Salah seorang pendiri alat sensor kimia di Cambridge, Billy Boyle mengungkapkan produk terbarunya bisa menjadi alat yang berguna untuk menganalisis baru.

Adapun produk terbaru ini dinamakan Owlstone dan sensor aroma di dalamnya bisa untuk mendiagnosis kanker paru-paru. Sensornya terbuat dari chip silikon yang mirip dengan kartu SIM pada ponser. Sensor ini bekerja seperti filter kimia di mana penggunanya bisa memprogram aroma apa yang ingin dihirup hanya dengan mengganti perangkat lunaknya.

“Kita bisa menggunakan alat ini untuk uji coba pada diri kita sendiri terhadap kanker kolorektal. Orang lain juga bisa mengujinya untuk mendeteksi penyakit yang berkaitan dengan usus,” ungkap Billy seperti yang dikutip dari Mirror, Selasa (15/8/2017).

(Baca Juga: Apa Bedanya Penyakit Roseola, Campak dan Rubella?)

Sebelumnya telah ada teknologi serupa yang sedang dikembangkan oleh seorang insiyur kimia asal Israel, Hossam Haick. Dia menggunakan napas yang dihembuskan untuk menjadi biomarker penyakit.

Alat ini mengirim sinyal ke komputer untuk menerjemahkan aroma napas menjadi penyakit yang mungkin diderita. Dengan menggunakan kecerdasan buatan, alat ini diyakini menjadi lebih baik untuk mendiagnosis hasil tes. Bukan hanya dari molekul tertentu, melainkan dari keseluruhan zat kimia yang memproduksi aroma tubuh.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini