Share

Psikolog Sebut Jaringan 'Loli' Pembidik Anak di Bawah Umur Sampai Tingkat Internasional

Vessy Frizona, Okezone · Selasa 15 Agustus 2017 09:55 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 15 196 1756126 psikolog-sebut-jaringan-loli-pembidik-anak-di-bawah-umur-sampai-tingkat-internasional-2iCW79ZmxT.jpg Ilustrasi Pelecehan Anak (Foto: Ist)

KEMARAHAN penyanyi Nafa Urbach di akun Intagram-nya membuka mata masyarakat akan modus dan istilah baru yang dipakai pelaku pedofilia untuk mengintai anak-anak. Mereka secara terang-terangan menggoda anak-anak di dunia maya untuk dijadikan objek seksual.

(Baca Juga: Moms, Sudah Pernah Ajak si Kecil Main Cat di Luar Rumah? Coba Yuk, Dijamin Anak Makin Kreatif!)

Salah satu postingan Nafa adalah bentuk kemarahan karena terganggu dengan komentar-komentar dugaan pelaku pedofilia di laman Facebook. Mereka mengatasnamakan diri dengan istilah Loli. Menurut penyanyi era 90-an ini, kelompok tersebut tak ada bedanya dengan orang-orang yang mengidap gangguan seksual, penyuka anak kecil.

Lantas, apa arti dari Loli itu sendiri? Menurut psikolog klinis dan forensik, Kasandra Putranto, istilah yang digunakan pelaku kejahatan seks terhadap anak-anak berbeda-beda di setiap wilayah. Mereka punya kata sandi atau kode tersendiri.

Baca Juga: Meski Mahal, Kini Menghapus Tato Bisa Gratisan, Ditebus dengan Hafalan Alquran

"Bukan cuma di Indonesia, tapi sudah sampai ke level internasional. Intinya mereka punya tujuan sama, yaitu mengintai anak-anak," kata Kasandra kepada Okezone saat dihubungi, Selasa (15/8/2017).

Dikutip dari Wikipedia, Loli adalah singkatan dari Lolicon yang berasal dari Bahasa Jepang dan merupakan gabungan kata dari kata Lolita dan Complex. Dalam bahasa aslinya, Lolicon memiliki makna seseorang yang mempunyai obsesi pada anak-anak di bawah umur, menjelang atau sebelum masa pubertas.

Istilah Lolicon sering digunakan dalam ruang lingkup Anime, Manga, dan Game. Lolicon dipercaya oleh beberapa orang sebagai salah satu klasifikasi dari otaku karena kebanyakan otaku menyukai karakter berwajah seperti anak-anak. Ruang lingkup penggunaan istilah ini hanya digunakan oleh komunitas otaku, sehingga istilah Lolicon mengalami perubahan makna menjadi lebih sempit, yaitu menjadi obsesi kepada objek visual yang imut-imut dan manis. Diakui, secara umum istilah Lolicon ini berbeda dengan pengertian pedofilia.

"Apa pun istilah dan pengertiannya, perilaku ini berpotensi mengalami menyimpangan. Bisa mengarah ke serangan seksual anak-anak," sambungnya.

Baca Juga: 2 Orang Tertular Mers-COV di Arab Saudi, Menkes Minta Jamaah Haji Hati-Hati

Baca Juga: Ikut Acara Offline BuddyKu Fest, Cara Jadi Content Creator Handal Zaman Now!

Baca Juga: Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Solusi PowerEdge Gen 15 Server

Follow Berita Okezone di Google News

Lebih lanjut psikolog lulusan Universitas Indonesia ini menyatakan, mengenai modus operandi yang dilakukan di jejaring sosial, maka ia mengimbau kepada seluruh orangtua untuk lebih ketat dalam memberi izin menggunakan media sosial kepada anak-anaknya.

"Anak-anak baru boleh punya akun media sosial saat usia 17 tahun. Di bawah usia tersebut tidak boleh. Jika anak ingin memiliki akun, persilahkan saja menumpang akun orangtua tapi tetap dalam pengawasan," bebernya.

Bagi Kasandra, anak-anak di bawah umur belum cukup matang dalam memilah pertemanan di media sosial. Rasa penasaran masih menghantui di sana-sini sehingga selalu tergerak mencoba hal baru. Itulah yang membuat mereka mudah dirayu kemudian menjadi korban.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini