nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menyambangi Keraton Pajang dan Kisah Rakit Jaka Tingkir

Agregasi Solopos, Jurnalis · Selasa 15 Agustus 2017 18:31 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 08 15 406 1756443 menyambangi-keraton-pajang-dan-kisah-rakit-jaka-tingkir-KW4vPjZ6AU.JPG Keraton Pajang di Sukoharjo (foto: Instagram/@nnamariyana)

SUKOHARJO memiliki wisata ziarah yang cukup terkenal bernama Gapura Agung Wringin Lawang. Destinasi ini tampak kokoh menyambut peziarah di Kompleks Petilasan Keraton Pajang Sukoharjo.

Gapura tersebut berbentuk Candi Bentar yang dilengkapi Arca Dwarapala. Di belakang gapura terdapat pohon beringin rimbun dengan sulur lebat serta sebuah patung harimau putih.

(Baca Juga: Hore! KAI Gratiskan Tiket Kereta di Hari Kemerdekaan RI Ke-72)

Terletak di Gang Benowo III Sonojiwan, Desa Makamhaji, Kecamatan Kartosuro, Sukoharjo. Di dalamnya terdapat pendapa kecil yang menjadi lokasi peziarah beristirahat.

Kemudian ada pula Gapura Agung Padjang untuk masuk ke area ziarah, musala, taman sari, dan sumber air panguripan Tirtomulyo Sekar Kedaton.

Di petilasan itu juga terdapat kayu tua yang konon merupakan sisa rakit Joko Tingkir yang membawanya dari Tingkir menuju ke Bintoro Demak. Mengunjungi Keraton Pajang tak lengkap jika tak memahami asal usulnya.

(Baca Juga: Tak Hanya Kereta, Naik KRL di Hari Kemerdekaan RI Juga Gratis!!!)

Petilasan Keraton Pajang dirintis oleh R. Koesnadi Kusumo Hoeningrat pada Jumat, 3 Desember 1993. Pada 26 Mei 2011 Yayasan Kasultanan Keraton Pajang resmi berdiri berbarengan dengan ritual jumenengan Suradi menjadi Adipati bergelar Kanjeng Raden Adipati Suradi Joyo Negoro, setelah menjalani Ruwatan Sudamala. Kesultanan Pajang berdiri pada 1549 setelah runtuhnya Jipang Panolan.

Menurut naskah babad, Andayaningrat gugur di tangan Sunan Ngudung saat terjadinya perang antara Majapahit dan Demak. Ia kemudian digantikan oleh putranya, yang bernama Raden Kebo Kenanga, bergelar Ki Ageng Pengging. Sejak saat itu Pengging menjadi daerah bawahan Kerajaan Demak.

Beberapa tahun kemudian Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh hendak memberontak terhadap Demak. Putranya yang bergelar Jaka Tingkir setelah dewasa justru mengabdi ke Demak.

(foto: Instagram/@nnamariyana)

Kesaktian Jaka Tingkir

Prestasi Jaka Tingkir yang cemerlang dalam ketentaraan membuat ia diangkat sebagai menantu Trenggana, dan menjadi bupati Pajang bergelar Hadiwijaya.

(Baca Juga: Sederet Mercusuar Tua yang Harus Dikunjungi Sekali Seumur Hidup)

Wilayah Pajang saat itu meliputi daerah Pengging (sekarang kira-kira mencakup Boyolali dan Klaten), Tingkir (daerah Salatiga), Butuh, dan sekitarnya.

Sepeninggal Trenggana tahun 1546, Sunan Prawoto naik takhta. Namun Sultan Prawoto kemudian tewas dibunuh sepupunya, yaitu Arya Penangsang bupati Jipang pada 1549.

Setelah itu, Arya Penangsang juga berusaha membunuh Hadiwijaya namun gagal.Dengan dukungan Ratu Kalinyamat (bupati Jepara dan puteri Trenggana), Hadiwijaya dan para pengikutnya berhasil mengalahkan Arya Penangsang.

(Baca Juga: Wadaw! di Skotlandia Ada Rumah "Goyang" Terbesar di Dunia)

Hadiwijaya selanjutnya menjadi pewaris takhta Demak. Pada masa kepemimpinan Hadiwijaya ini, ibu kota Demak dipindahkan ke Pajang.

Pada 1586, Pangeran Benawa yang tersingkir ke Jipang, bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang, berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Arya Pangiri kemudian dikembalikan ke Demak, dan Pangeran Benawa menjadi raja Pajang ketiga. Pemerintahannya berakhir pada 1587, digantikan Gagak Baning dan Pajang menjadi kadipaten dibawah Mataram.

(fid)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini