Share

HARI MERDEKA: Ungkapan Hati Psikolog Tanah Air tentang Kemerdekaan, Bagaimana Nasib Anak-Anak?

Vessy Frizona, Jurnalis · Kamis 17 Agustus 2017 06:15 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 16 196 1757214 hari-merdeka-ungkapan-hati-psikolog-tanah-air-tentang-kemerdekaan-bagaimana-nasib-anak-anak-xY7xlFCPqD.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

PENDUDUK Indonesia setiap hari menghadapi masalah yang sangat kompleks. Mereka dihadapkan pada persaingan global yang sangat terbuka, sementara secara individu mereka belum memiliki bekal cukup menghadapi masalah yang datang silih berganti. Akibatnya penyalahgunaan wewenang, status, serta kekuasan terjadi. Ya, bangsa kita memang belum memiliki mental baja. Jiwa bangsa ini masih rapuh dan terombang-ambing di tengah ketidakstabilan kondisi politik dan ekonomi.

Di tengah kondisi saat ini, para penguat-penguat mental sangat diperlukan untuk memperkokoh jiwa para penduduk negeri. Profesi Psikolog sangat membantu mereka yang mudah stres, depresi, dan frustasi menghadapi kerasnya hidup berjuang memerdekakan diri sendiri dari tekanan hidup di negara sendiri. Lantas, bagaimana para pakar tingkah laku dan mental yang ada di Indonesia memaknai kemerdekaan pada Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI ) yang ke-72 kali ini?

Seto Mulyadi

Menurut pria bernama lengkap Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si., kemerdekaan RI adalah hari di mana saatnya mengorbankan rasa nasionalisme sebagai bangsa Indonesia yang diwariskan oleh pahlawan untuk bebas mengembangkan diri. Pria yang konsern di dunia anak-anak ini menuturkan, bahwa mengembangkan diri sudah harus dilakukan sejak anak-anak agar mereka dapat membentuk jati dirinya.

“Kemerdekaan Indonesia adalah komitmen bangsa ini mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Baik dalam bidang politik, olahraga, termasuk peningkatan ekonomi, dan juga nasib anak-anak. Sejak kemerdekaan hingga sekarang bagaimana nasib anak-anak?” tanyanya saat dihubungi Okezone belum lama ini.

Kenyataannya, masih banyak pelanggaran hak-hak anak, seperti dalam mendapat pendidikan dan bermain dengan gembira. Untuk mengatasi permasalahan anak, bangsa kita perlu banyak introspeksi diri, bukan saling tunjuk hidung melempar tanggung jawab atau menyalahkan.

“Anak-anak yang merdeka adalah anak-anak yang seluruh hak-haknya terpenuhi. Hak mendapat identitas, hak dilindungi, hak bermain, termasuk hak untuk didengar dalam berpartisipasi mengisi kemerdekaan bangsa,” tukas pria yang akrab disapa Kak Seto ini.

Kasandra Putranto

Mengutip lirik lagi Indonesia Raya, “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya…” Ms. A. Kasandra Putranto menggaris bawahi kata “jiwanya.” Bahwa yang lebih dulu di bangun dari bangsa ini adalah jiwa (mental) penduduknya.

“72 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia kenyataannya membawa banyak masalah psikososial yang tinggi karena penerus bangsa tidak cukup menjiwai dan memaknai pengorbanan pejuang bangsa,” katanya kepada Okezone.

Bangunlah jiwa (mental psikologi) Untuk bisa membangun bangsa yang hebat. Sebab, perkembangan dan kemajuan dunia mengandung risiko yang tinggi terhadap kehidupan manusia. Baik dari sisi Informasi Teknologi, drugs, violence, scam dan lain sebagainya. Semua elemen masyarakat, termasuk media industri dan negara perlu bekerja sama membangun resiliensi /ketangguhan pada anak yang akan menjadi generasi penerus bangsa ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini