HARI MERDEKA: Kenal Lebih Dekat dengan Bistik Jawa, Salah Satu Kuliner Kaum Ningrat di Zaman Penjajahan Belanda

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 17 Agustus 2017 06:39 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 16 298 1757384 hari-merdeka-kenal-lebih-dekat-dengan-bistik-jawa-salah-satu-kuliner-kaum-ningrat-di-zaman-penjajahan-belanda-HcvJ7mQm1K.jpg Ilustrasi bistik jawa (Foto: Pinterest)

RASANYA hampir seluruh masyarakat Indonesia tentu sudah sangat memahami, bahwa bangsa Belanda menjadi bangsa yang menjajah Indonesia paling lama. Ya, sebelum akhirnya menyerah pada Jepang pada 1942 dan hingga akhirnya bangsa Indonesia bisa mengumandangkan hari kemerdekaannya pada 17 Agutus 1945, Belanda memang telah berhasil menduduki Indonesia selama ratusan tahun.

Menjajah selama ratusan tahun, pastinya bangsa Belanda sedikit banyak baik secara sengaja ataupun tidak telah memasukkan banyak tradisi dan budaya mereka, terhadap masyarakat Indonesia. Salah satu contohnya, di bidang kuliner.

Bukan rahasia lagi, bahwasanya banyak kuliner Indonesia zaman dahulu lahir sebagai hasil penetrasi bangsa Belanda pada saat zaman penjajahan dulu, seperti salah satu contohnya adalah bistik Jawa. Seperti diketahui, secara tampilan hidangan satu ini tidak berbeda dengan sajian steak khas hidangan western zaman sekarang namun kuliner zaman penjajahan satu ini hadir dengan nama yang sangat Indonesia, yakni dengan menggunakan nama salah satu pulau di Indonesia.

Lalu apa sebetulnya apa sih yang disebut dengan bistik Jawa tersebut? Menjawab pertanyaan ini, maka Okezone pun bertanya langsung kepada salah satu chef ternama Indonesia, Vindex Tengker.

“Bistik Jawa ini sendiri adalah makanan seperti daging steak, namun dibuat lebih kayak burger lah kalau sebutannya sekarang jadi bistik Jawa ini ke jenis patty yaitu daging sapi yang dicincang dan dikasih bumbu-bumbu rempah, seperti pala,” jelas Vindex saat ditemui baru-baru ini di bilangan Jakarta Pusat.

Chef yang dikenal sebagai ketua dewan panelis juri kontes memasak terkenal MasterChef Indonesia ini menambahkan, layaknya sajian daging steak khas Western zaman sekarang. Bistik Jawa juga disajikan bersamaan dengan gravy atau saus siram.

“Bistik ini juga ada gravy nya, walau Western namun cita rasanya ya bumbu rempah-rempah Indonesia. Terus disantap dengan kentang tumbuk alias mashed potato, dari zaman dahulu sampai sekarang sajiannya sudah begitu memang, yak arena pengaruh dari Belanda,” tambahnya.

Lebih lanjut disebutkan, dari dahulu saat hadir di zaman penjajahan Belanda. Bistik Jawa memang muncul sebagai jenis kuliner mewah, atau dengan kata lain bukan jenis makanan jelata yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia pada umumnya.

“Kalau ditanya ini termasuk makanan mewah atau tidak, ya jelas ini salah satu makanan mewah karena kan zaman dahulu yang bisa membeli daging siapa? Hanya orang-orang berduit, hanya orang-orang yang mempunyai kedudukan atau pangkat yang tinggi. Kalau masyarakat biasa, pasti hanya kebagian ampas atau sisanya, makanya soto itu kita banyak pakai jeroan, usus, karena notabene daging yang bagus-bagus sudah diambil oleh orang-orang yang punya uang atau kaum ningrat tersebut,” imbuhnya.

Imej akan makanan mewah yang melekat pada bistik Jawa ini sendiri, tidak dipungkiri memang masih mengakar kuat hingga sekarang. Walaupun, seiring dengan perkembangan zaman hidangan bistik Jawa tentunya sekarang di era modern ini sudah banyak dijual oleh restoran-restoran sehingga lebih mudah didapatkan.

“Sampai sekarang memang masih mengakar imej sebagai makanan mewah, sudah banyak juga dijual di restoran. Walaupun standarisasinya tidak setinggi standarisasi zaman dahulu ya, kualitasnya tidak se-high dulu saat zaman Belanda. Sekarang kan sudah dicampur, jadi secara harga tidak semahal dulu,” tandas Vindex sembari tersenyum.

Sedangkan untuk penyebaran, Vindex menilai bahwa hidangan bistik Jawa juga tidak jauh berbeda dengan kuliner zaman dahulu lainnya yang merupakan hasil dari penetrasi berbagai budaya.

“Kalau awal penyebaran sih enggak tahu pasti, namun yang pasti penetrasi makanan itu tidak ada batasnya. Contohnya kayak rendang, di Malaysia juga kan ada rendang nah yang bikin siapa? Ya orang-orang Indonesia yang ada di sana kan? Hal ini juga berlaku untuk bistik Jawa, buatnya kan di sini namun ada pengaruh kuat dari Belanda. Penetrasi yang berubah jadi makanan lokal, local fushion karena adanya tradisi dan budaya,” tutup Vindex.

BACA JUGA:

RESEP NENEK: Cuaca Mendung Berangin, Paling Enak Santap Tongseng dan Rawon Hangat

RESEP NENEK: Penasaran dengan Rasa Gabus Pucung yang Melegenda? Jajal Bikin Sendiri di Rumah

Resep bistik Jawa

Bahan-bahan;

2 buah daging steak muda (daging sapi);

1 sendok teh merica;

1 sendok teh bubuk pala;

garam secukupnya;

2 buah wortel, kupas dan potong menjadi bentuk memanjang;

1 kaleng kecil jagung manis ;

5 kentang, potong-potong memanjang;

Saus;

- 2 siung bawang putih, cincang halus;

- 1 bawang bombai sedang, cincang halus

- 1 sendok makan saus tomat;

- 3 sendok makan kecap manis;

- 1 sendok makan lada putih;

- 1/2 cangkir air ;

BACA JUGA:

RESEP NENEK: Kangen Yogyakarta? Obati dengan Masak Gudeg & Krecek

RESEP NENEK: Gurih Segar Laksa dan Soto Betawi, Yuk Bikin di Rumah!

Cara membuat;

1. Bumbui steak dengan garam, merica dan pala, sisihkan selama 30 menit agar bumbu meresap;

2. Panaskan minyak, dan goreng atau panggang daging steak sampai warnanya berubah menjadi kecoklatan;

3. Buat saus dengan menggoreng bawang putih dan bawang , dengan menggunakan menjadi minyak sisa dari memanggang daging. Tambahkan kecap manis, saus tomat, lada putih dan 1/2 cangkir air. Masak saus sampai mengental;

4. Sayuran, rebus wortel dalam air mendidih sampai empuk, sisihkan sebentar. Lalu goreng kentang hingga matang menjadi kuning kecoklatan, tiriskan;

5. Sajikan daging steak bersama dengan wortel yang telah direbus, kentang goreng, dan jagung manis kalengan. Tuangkan atau siram saus di sekitar daging bistik. Demikian seperti dikutip Tastyindonesianfood, Kamis (17/8/2017).

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini