Pikir Ulang! Pengobatan Alternatif untuk Penyembuhan Kanker Justru Meningkatkan Risiko Kematian

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 16 Agustus 2017 15:03 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 16 481 1756987 pikir-ulang-pengobatan-alternatif-untuk-penyembuhan-kanker-justru-meningkatkan-risiko-kematian-p2QqK31vDn.jpg Ilustrasi (Foto: Dailymail)

KANKER menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak diderita sekarang ini. Pola hidup yang tidak sehat sampai masalah genetika menjadi beberapa faktor penyebab tingginya angka penderita kanker.

Kemoterapi menjadi salah satu jalan untuk meringankan pertumbuhan kanker di tubuh. Namun, dengan efek samping yang mungkin dianggap kurang menyenangkan, banyak dari masyarakat yang akhirnya memilih jalur alternatif. Khusus di Indonesia, pengobatan alternatif masih menjadi pilihan yang dianggap ampuh menghilangkan kanker 100 %.

(Baca Juga: AWAS! Selain Mengiritasi Mata, Asap Dupa Bisa Memicu Kanker)

Padahal, jika mengacu pada laman Dailymail, di mana di sana dijelaskan bahwa pengobatan alternatif malah membahayakan pasien kanker. Diketahui, ada dua dari setengah kali pasien yang memilih pengobatan alternatif memiliki risiko kematian dalam 5 tahun diagnosis.

(Baca Juga: Metode Masak Nasi Putih dengan Minyak Kelapa Jauh Lebih Sehat, Kalorinya Rendah)

Penelitian itu coba menjelaskan risiko kematian berdasar kanker yang diderita. Misalnya, kanker payudara. Penderita kanker jenis ini dan memilih jalur alternatif seperti herbal, homeopati, atau kristal energi, 5,68 kali lebih berisiko mengalami kematian dini. Sementara itu, pada penderita kanker paru-paru, didapati bahwa 41 % dari mereka yang memilih pengobatan konvensional setidaknya bertahan 5 tahun.

(Baca Juga: HARI MERDEKA: Penduduk Papua Barat Belum Merdeka dari Malaria, Cerita Tenaga Medis Menyehatkan Masyarakat dengan Segala Keterbatasan)

Profesor John Bridgewater, seorang ahli onkologi di University College London Hospital, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, menyatakan, banyak pasien kanker yang akhirnya memilih cara singkat seperti menjalani diet khusus, daripada menempuh pengobatan konvensional.

"Tapi kami tidak memiliki bukti bahwa ada yang mendapat manfaat dari cara singkat ini, selain sekadar membuang uang begitu saja," kata Bridgewater, dikutip Dailymail, Rabu (16/8/2017).

Penelitian ini sendiri dilakukan oleh para peneliti dari Yale School of Medicine yang mencoba menganalisis pasien dari US National Cancer Database dengan kanker payudara, prostat, paru-paru, atau usus yang belum menyebar. Jadi, bisa dikatakan pasien yang tingkat risikonya kematiannya belum terlalu tinggi.

(Baca Juga: HOAX, Kabar Viral Anak Lumpuh Akibat Vaksin MR, Menkes: Jangan Besarkan Masalah Ini!)

Dari jumlah tersebut, 281 memilih obat-obatan alternatif. Penulis studi Dr Skyler Johnson menjelaskan, pengobatan alternatif tersebut bisa berupa obat herbal, homeopati, atau makanan khusus.

Bahkan, ada dari pasien kanker yang menggunakan kristal energi sebagai alat yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakitnya. Padahal, pada dasarnya kristal itu hanyalah batu yang dipercaya orang memiliki kekuatan penyembuhan.

Peserta penelitian ini dibandingkan dengan 560 pasien yang menjalani pengobatan kanker konvensional. Yang mana, cara pengobatan konvensional tersebut meliputi kemoterapi, radioterapi, operasi, atau terapi hormon.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pasien dua setengah kali lebih mungkin meninggal dalam lima tahun diagnosis jika mereka memilih obat-obatan alternatif. Seperti dijelaskan di atas, kanker payudara dan kanker paru-paru, kanker usus pun punya masalah yang sama.

Hanya 33 % menggunakan 'perawatan' seperti homeopati yang bertahan 5 tahun ke depan, dibandingkan dengan 79 % yang menerima pengobatan seperti kemoterapi. Temuan ini dipublikasikan di Journal of National Cancer Institute.

Sementara itu, studi tersebut juga mengungkapkan bahwa pasien yang memilih obat-obatan alternatif pada umumnya lebih nyaman secara finansial. Menurut Dr Johnson, herbal dan makanan khusus tidak terdengar mahal, tapi bila hal ini disampaikan melalui pusat kesehatan herbal, pasien juga akan tetap merogoh kocek dalam untuk pengobatan tersebut.

Dia melanjutkan, Ini adalah industri bernilai miliaran dolar. "Orang-orang membayar lebih banyak uang untuk pengobatan alternatif daripada perawatan standar, padahal dampaknya malah membahayakan si pasien sendiri," tegasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini