nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

OKEZONE WEEK-END: Eksistensi Kain Tradisional di Kalangan Millenial, Semakin Hari Semakin Baik

Annisa Amalia Ikhsania, Jurnalis · Sabtu 19 Agustus 2017 12:15 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 08 18 194 1758759 okezone-week-end-eksistensi-kain-tradisional-di-kalangan-millenial-semakin-hari-semakin-baik-Tgimhzoktz.jpg Batik (Foto: Olivia Lazuardy)

KEKAYAAN akan warisan budaya Indonesia, termasuk di dalamnya kain wastra tradisional memang bukan rahasia lagi hadir dengan begitu banyak variasi. Saking banyak dan beragam, masyarakat Indonesia khususnya para pecinta kain-kain tradisional seolah-olah dimanjakan oleh banyaknya kain-kain cantik yang bisa dikenakan untuk bergaya di banyak kesempatan.

Apalagi dengan kemajuan zaman digital dan kreativitas dari para desainer, baik yang masih menjadi pemain baru alias masih muda ataupun para desainer senior yang sudah punya banyak jam terbang. Imej akan kain tradisional yang konservatif, berat, dan tua yang notabene menjadi sederet faktor mengapa banyak generasi muda pernah merasa enggan untuk mengenakan kain-kain tradisional, kini sepertinya semakin hari bisa semakin dihilangkan.

BACA JUGA:

Keren! Kolaborasi Batik Jawa dan Warna Kain Makassar Tampil di Fashion Show Moskow

Modernisasi Kebaya dan Kain Batik Boleh Dilakukan, asal....

Akan tetapi, sebenarnya seperti apa sih tentang penggunaan dan eksistensi kain tradisional Indonesia di era digital khususnya pada kalangan millennial seperti sekarang ini? Menjawab pertanyaan ini, maka Okezone pun bertanya langsung pada dua orang desainer kenamaan Indonesia, Ferry Sunarto dan Didiet Maulana yang secara terbuka mau mengemukakan pendapatnya.

“Saya pribadi sih melihatnya di era millennial kayak sekarang, kalau soal penggunaaan sih saya melihat penggunaan kain wastra ini sudah lumayan banyak pengguna kain yang menyadari bahwasanya kain tradisional ini bisa dikrekasikan jadi banyak gaya yang berbeda. Dengan gaya yang lebih edgy, hasilnya jadi tidak terlalu konservatif. Misalnya dengan mengkombinasikan dengan ragam lainnya, contohnya bisa kain tenun ikat dengan katun atau dengan kain organza,” ungkap Ferry kala dihubungi Okezone, melalui sambungan telepon belum lama ini.

Ferry menambahkan, ia sendiri sebagai seorang desainer melihat dengan tampilan gaya kain tradisional yang sekarang lebih variable menjadikan eksistensi kain wastra Indonesia ini jadi lebih baik.

“Sekarang baik itu desainer ataupun pemakainya sendiri, menghadirkan tampilan padu-padan kain tradisional yang menarik. Misalnya dengan gaya sophisticated glamour, yakni padu-padan yang tidak berat tapi berkesan berkelas, contohnya mendesain kain Batik atau kain tenun Makassar dengan lace, bisa juga pakai kain tenun songket Bali yang di styling dengan gaya yang lebih kekinian,” imbuhnya.

Sedangkan, Didiet Maulana sendiri menilai ia sendiri sebagai desainer telah merasa bahwa kini kain tradisional sudah menjadi bagian kehidupan para anak-anak muda millennial.

BACA JUGA:

Cara Mudah Bedakan Batik Tulis, Cap dan Print

Cara Unik Mengenakan Batik dengan Aplikasi Patch Work

“Penggunaan kain Indonesia di kalangan millennial semakin ke sini sudah semakin baik, karena gaya mix and match khas anak mudah sudah semakin banyak muncul. Belum lagi, sekarang kan banyak influencer yang akhirnya bikin anak-anak muda lainnya merasa bahwa kain tradisional Indonesia itu sudah jadi bagian dari kehidupan mereka. Styling khas anak muda, ini terkadang menginspirasi saya untuk membuat desain-desain yang baru loh,” tandas Didiet.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini