nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

HARI MERDEKA: Kata Psikolog tentang Kemerdekaan, Masyarakat Harus Terbebas dari Tekanan Sosial dan Trauma Masa Lalu

Vessy Frizona, Jurnalis · Jum'at 18 Agustus 2017 15:09 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 08 18 196 1758272 hari-merdeka-kata-psikolog-tentang-kemerdekaan-masyarakat-harus-terbebas-dari-tekanan-sosial-dan-trauma-masa-lalu-q6gT8jKAiw.jpg Ilustrasi (Foto: Thewellproject)

MENAPAKI hari jadi yang ke-72 tepat pada 17 Agustus 2017, Indonesia bukan lagi disebut sebagai negara baru merdeka. Angka 72 menandakan usia matang dalam berpikir dan bertindak. Maka sudah selayaknya pada Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) kali ini, negara kian matang dalam mengambil sikap memberdayakan masyarakatnya.

Namun, Indonesia bukanlah bangsa kecil dengan masyarakat yang hanya seujung kuku. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan jumlah penduduk yang padat dimana-mana. Isu-isu sosial selalu mewarnai perjalanan bangsa yang belum sempurna ini. Mulai dari masalah kesehatan, pendidikan, kemiskinan, kriminalitas, kekerasan, dan masih banyak lagi. Tekanan hidup seakan memenjarakan rakyat Indonesia sebagai individu yang berhak mendapat kebebasan memilih jalan hidupnya. Sebagai bagian dari bangsa ini, psikolog Indonesia memaknai kemerdekaan dengan cara yang berbeda, sebab mereka bergelut dengan masalah setiap personal. Berikut makna kemerdekaan menurut kedua psikolog ternama Indonesia.

Baca Juga: HARI MERDEKA: Ungkapan Hati Psikolog Tanah Air tentang Kemerdekaan, Bagaimana Nasib Anak-Anak?

Roslina Verauli

Bagi psikolog yang sering mengisi acara televisi ini, merdeka adalah hak asasi yang harus dimiliki setiap manusia. “Bahwa, jika setiap bangsa berhak atas kemerdekaan, artinya setiap individu harus bebas dari ‘penjajahan’.”

“Apakah secara pribadi kita sudah merdeka dari masalah masa lalu, trauma masa kecil, atau pola-pola primitif orangtua yang masih diadopsi? Sehingga semua itu memengaruhi gaya hidup, cara mengambil keputusan, dan pilihan masa depan,” tutur Roslina Verauli, MPsi. Psi, kepada Okezone.

Ia menyarankan untuk menjadi pribadi yang merdeka adalah mari kita benahi pola-pola primitif yang Anda tidak tahu itu benar atau salah. Caranya dengan mengidentifikasi pola-pola hidup yang diadopsi secara turun-menurun, lalu mencari tahu cara yang lebih baik, dan mempertahankan cara yang sudah baik.

Baca Juga: HARI MERDEKA: Dekorasi Merah-Putih untuk Pesta Ulang Tahun, Unik dan Pasti Semarak!

Vera Itabiliana

Sebagai psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana, Psi., menyoroti dari sisi remaja sebagai individu yang memiliki semangat tinggi dalam catatan sejarah dalam merebut kemerdekaan. Bahwa pemudahlah yang mendorong kemerdekaan bangsa ini segera di proklamirkan.

“Namun, perjuangan setiap zaman untuk bangsa ini jelas berbeda.

Kalau dulu pemuda ikut angkat senjata, sekarang mereka berjuang dengan cara lain. Yaitu berkreasi dalam mengisi kemerdekaan,” kata Vera.

Masa muda adalah masa di mana mereka memantapkan identitas diri sebagai salah satu elemen dari dirinya adalah mengakar sebagai orang Indonesia. HUT RI bagi remaja adalah pengingat bahwa mereka adalah anak-anak remaja Indonsia yang patut berbangga dan mencintai negara.

Baca Juga: HARI MERDEKA: Perjuangan Dokter Sutomo, Mendirikan Budi Utomo hingga Berikan Pengobatan Gratis

“Walaupun mereka melihat kekurangan dan membandingkan dengan negara lain, diharapkan dengan melihat kekurangan bangsanya, anak muda ini berjuang untuk memperbaiki ketidaksempurnaan itu,” imbuhnya.

(vin)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini