Image

Tidak Mudah, Bagaimana Pria Bertahan Menghadapi Perceraian?

Vessy Frizona, Jurnalis · Senin 21 Agustus 2017, 13:30 WIB
https img.okeinfo.net content 2017 08 21 196 1759794 tidak mudah bagaimana pria bertahan menghadapi perceraian DrvHHMQPnE.jpg Perceraian (Foto: Thenanfang)

ADA kecenderungan ketika berbicara tentang perceraian, pasangan segera mencoba memerankan dua karakter yang terlibat baik sebagai pahlawan atau penjahat. Tidak cukup sampai di situ, mereka sangat ingin menyalahkan salah satu dari pasangan.

Lebih dari itu, pasangan juga cenderung memperlakukan orang lain sebagai korban utama atau seseorang yang disayangi. Dorongan itu begitu kuat sehingga sering didapati mereka melakukan hal itu berdasarkan garis gender. Lantas, apakah perceraian lebih berat bagi wanita daripada pria?

Berdasarkan penjelajahan di situs Psychologytoday, jawabannya cenderung bervariasi. Sehingga dapat disimpulkan, perceraian berat bagi wanita. Perceraian berat untuk pria. Perceraian berat bagi semua orang.

Baca Juga: Pasangan Anda Posesif? Cek Lagi, 6 Tanda Ini Jadi Ukurannya

Melanie Gorman seorang konselor hubungan dan kehidupan mengatakan bahwa 56 persen wanita yang bercerai, 47 persen mengalami tekanan harian yang meningkat. Jika dibandingkan dengan 45 persen pria yang bercerai, 40 persen yang mengalami tekanan.

“Berdasarkan persentase di atas, darimana orang bisa memgeneralisasi tentang bagaimana pria dan wanita bereaksi terhadap perceraian, kenyataannya adalah semua menderita. Semua orang mengalami patah hati dan kehilangan,” katanya dalam video tayangan Yourtango, Senin (21/8/2017).

Apakah ada beberapa perilaku aneh pria yang dipamerkan saat bercerai?

“Pria cenderung memeriksa kondisi mental mereka jauh sebelum berpisah secara fisik. Karena itu, seringkali selama proses perceraian, pria hampir tampak tidak memihak. Mereka mengalami proses berduka sendiri beberapa bulan sebelum realita perceraian dimulai,” jelasnya.

Baca Juga: Meski Terkesan Sepele Jarang Bercerita, Ada 3 Hal Lainnya Bisa Picu Perceraian

Hal itu mungkin membuat banyak orang berpikir bahwa pria memiliki waktu lebih muda, hingga Anda mempertimbangkan apa yang terjadi ketika wanita tersebut memulai perceraian, terutama jika pria tidak melihatnya apa yang terjadi pada pria. Padahal pria berjuang untuk memproses perpisahan secara real time tanpa cukup waktu untuk memahami semuanya.

“Pria dan wanita tidak memiliki cara yang berbasis gender sehingga mereka merespons perceraian dalam setiap situasi. Dan itu tidak akan lebih mudah begitu Anda mencoba mulai menyalahkan karena keadaan di seputar perceraian,” ungkapnya.

Inilah mengapa dalam kebanyakan kasus perceraian, hanya orang yang benar-benar tahu apa yang terjadi dalam pernikahan itu adalah pasangan yang bersangkutan. Bukan orang lain.

“Saat bercerai, semua orang terluka. Semua orang perlu disembuhkan. Setelah perceraian, menyalahkan adalah hal yang paling tidak konstruktif yang dapat dilakukan seseorang. Sebagai gantinya, mereka perlu melupakan siapa yang lebih buruk, fokus pada diri mereka sendiri, dan menghabiskan waktu untuk menyembuhkan diri sendiri,” tukasnya.

(vin)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini