nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ternyata, Tes keperawanan Masih Banyak Dilakukan

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Selasa 22 Agustus 2017 14:27 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 08 22 481 1760647 ternyata-tes-keperawanan-masih-banyak-dilakukan-XH2YXXCOBx.jpg Ilustrasi (Foto: Getty Images)

TES keperawanan yang memicu banyak perdebatan nyatanya masih banyak dipraktekkan di berbagai belahan dunia. Baik yang terang-terangan maupun samar-samar.

Di Afghanistan misalnya, data yang dihimpun surat kabar Amerika Serikat, New York Post, menunjukkan satu kantor pemerintah di Kabul melakukan 42 tes keperawanan pada paruh pertama 2016, sementara setahun sebelumnya kantor ini melakukan 80 tes.

Diperkirakan jumlah sebenarnya lebih besar karena sulitnya pengumpulan data dari kantor atau instansi pemerintah.

(Baca Juga: Tes Keperawanan Bukan Solusi Menekan Pergaulan Bebas)

Tes keperawanan yang masih banyak dilakukan aparat pemerintah di Afghanistan mendorong Komisi Independen Hak Asasi Manusia di negara tersebut untuk menyerukan lagi dihentikannya praktik tersebut.

Komnas HAM Afghanistan menyatakan tes tersebut -yang ditujukan untuk mengetahui apakah selaput dara masih utuh- berdampak buruk secara psikologis dan pada praktiknya tak berbeda dengan pelecehan seksual.

(Baca Juga: Menguji Keperawanan Wanita di Candi Sukuh)

"Pemaksaan tes keperawanan bertentangan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Sering kali dilakukan tanpa izin dan karenanya ini adalah pelecehan seksual dan pelanggaran HAM," demikian pernyataan Komnas HAM Afghanistan.

(Baca Juga: Tes Keperawanan Polwan Rendahkan Perempuan)

Mereka mengatakan polisi di ibu kota Kabul dan kota-kota besar lain sering menahan perempuan-perempuan muda, yang ditemukan tengah berduaan dengan lelaki lain atau yang dituduh kabur dengan kekasih, lalu memaksa mereka untuk menjalani tes keperawanan yang dikatakan sangat intrusif. Polisi di Afghanistan hingga Senin (21/08) tidak bersedia memberikan komentar atas seruan Komnas HAM.

Para pegiat juga mengatakan para perempuan yang dipaksa menjalani tes keperawanan menjadi korban stigma sosial di masyarakat. Menurut Komnas HAM Afghanistan, perempuan yang dipaksa menjalani tes keperawanan kehilangan rasa percaya diri, jadi merasa tidak berdaya, dan tak punya harapan.

(Baca Juga: Tes Keperawanan Calon Prajurit TNI Lecehkan Perempuan)

"Karena dampak buruk ini, perempuan yang menjalani tes keperawanan kemudian sering hidup menyendiri dan oleh sebab itu kehilangan hak untuk mendapatkan pendidikan. Tes keperawanan juga berpengaruh buruk terhadap kehidupan sosialnya."

Komnas mendesak agar tes keperawanan dihapus dan dilarang serta meminta pemerintah bersama parlemen mengeluarkan undang-undang pelarangan tes keperawanan.

(Baca Juga: Mitos Selaput Dara dan Tes Keperawanan)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini