Image

Selain Pengaruhi Kecerdasan Anak, Stunting Bisa Jadi Pertanda Risiko Penyakit Diabetes dan Hipertensi

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 23 Agustus 2017, 12:21 WIB
https img.okeinfo.net content 2017 08 23 481 1761298 selain pengaruhi kecerdasan anak stunting bisa jadi pertanda risiko penyakit diabetes dan hipertensi Tjo9yLwaCv.jpg Ilustrasi (Foto: Ndtv)

MENJADI permasalahan yang harusnya segera di benahi, stunting ternyata masih banyak diidap anak Indonesia. Khususnya pada keluarga yang kesulitan dalam mengakses gizi baik. Padahal, kasus ini menjadi salah satu gerbang dalam menentukan bagaimana kualitas bangsa.

(Baca Juga: WASPADA! Brain Attack Bisa Terjadi Kapan Saja, Gejalanya Bentuk Wajah Miring Sebelah)

Belum lama ini, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dokter Spesialis Anak Konsultas dr. Aman Bahkti Pulungan, SpA(K) menjelaskan bahwa kasus stunting di Indonesia masih tinggi. Pemerataan akses mendapatkan gizi baik atau fasilitas kesehatan yang baik dianggap menjadi salah satu faktor bertahannya kasus ini.

(Baca Juga: Saat Asam Lambung Naik, 7 Makanan Ini Aman Dikonsumsi, Putih Telur hingga Jahe)

Namun, pemerintah juga tidak tinggal diam. Beberapa upaya telah dilakukan, seperti menyebaran ahli medis ke pelosok desa sampai penyediaan obat-obatan yang baik serta menyebarkan informasi hidup sehat sudah dilakukan. Namun, dampaknya ternyata belum begitu besar, sehingga kasus stunting masih ada di Indonesia.

(Baca Juga: Iritasi Mata Akibat Penggunaan Lensa Kontak? Jangan Sembarangan, Begini Cara Mudah dan Aman Mengatasinya)

Kemudian, bila bicara mengenai stunting, dijelaskan Guru Besar Gizi IPB Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS, kasus gizi buruk memiliki dampak yang besar bagi generasi penerus bangsa. Salah satunya adalah berkaitan dengan kecerdasan anak.

"Ya, gizi buruk berdampak pada kecerdasan anak. Dengan kurangnya gizi yang anak itu dapatkan, maka fungsi tubuhnya pun jadi tidak maksimal. Itu yang akhirnya menyebabkan menurunnya kecerdasan pada anak stunting," terangnya pada Okezone dalam paparannya di Bogor, Selasa 22 Agustus 2017.

(Baca Juga: 8 Makanan yang Bikin Anda Lancar Buang Air Besar, Popcorn hingga Lidah Buaya!)

Prof. Hardi juga melanjutkan salah satu yang menjadi langkah penurunan gizi anak adalah kebiasaan sarapan yang sudah mulai hilang. Dia menyatakan, di Bogor saja, berdasarkan survei yang dilakukan, sudah lebih dari 50% anak kecil tidak sarapan.

Hal lain yang menjadi masalah dalam gizi buruk pada anak adalah tidak tersedianya informasi maupun penyediaan bahan pokok yang bergizi baik. Kemudian Prof. Hardi menambahkan, pemerataan makanan yang baik pun belum berlangsung dengan baik. Sehingga, pada beberapa wilayah di Indonesia, kasus stunting anaknya masih tinggi.

Sementara itu, Prof. Hardi mengungkapkan fakta lain bahwa pada tubuh anak yang stunting sebetulnya ada masalah yang terjadi. "Anak pendek itu bisa berarti si anak mengalami gangguan kesehatan. Misalnya ada masalah di hati, maka dia berisiko mengalami hyper kolesterol. Atau jika si anak ada masalah di pankreas, maka cukup berisiko diabetes. Juga masalah di ginjal yang berarti ada risiko hipertensi," lanjut dia.

Selain itu fungsi tubuhnya pun tidak maksimal seperti anak lain yang tubuhnya terbilang ideal atau tidak tergolong terlalu pedek di usianya.

Kemudian, anak lahir pendek juga akan berisiko obesitas. Kondisi ini diperparah jika si anak pada usia 3 tahun belum bisa mendapatkan tubuh idealnya.

"Kalau pada usia 3 tahun terlihat perkembangan, kecil kemungkinan untuk bisa mengalami kegemukan di usia remaja dan dewasanya," pungkasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini