nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

OKEZONE STORY: "Tanda Lahir Ini Menutupi Seluruh Tubuhku, Mereka Tertawa Sambil Memanggilku Monyet dan Dalmatian"

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Jum'at 25 Agustus 2017 20:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 08 25 481 1763260 okezone-story-tanda-lahir-ini-menutupi-seluruh-tubuhku-mereka-tertawa-sambil-memanggilku-monyet-dan-dalmatian-ahn45ysrTu.jpg Beatriz Pulgiese (Foto: Metro)

TIDAK pernah dibayangkan sebelumnya oleh Beatriz Pugliese, menjalani hidup dengan tanda lahir yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Karena kondisinya tersebut, Pugliese dijuluki 'monyet' oleh orang-orang yang melihatnya.

(Baca Juga: Cara Mudah Atasi Kapalan, Rendam dengan Air Hangat Selama 10 Menit, Kulit Mati Akan Terangkat)

Wanita asal Sao Paulo Brasil tersebut lahir dengan tanda lahir yang menutup lebih dari 80 persen kulitnya. Kondisi tersebut membuatnya sering mendapatkan ejekan yang menyayat hati.

(Baca Juga: Kaya Nutrisi, Makan Biji Semangka Rebus Bantu Hilangkan Jerawat hingga Meningkatkan Kesuburan Pria)

Meskipun Pugliese yang kini berusia 22 tahun telah menerima ucapan-ucapan yang menohok selama masa kecilnya. "Beberapa anak memang mengatakan hal yang benar-benar mengerikan. Mereka bilang bahwa saya mirip monyet," ungkapnya.

"Beberapa orang akan memanggil saya Dalmatian, karena tanda lahir saya ini, dan kemudian mereka akan menertawakan saya," cerita Pugliese.

(Baca Juga: Identik dengan Ritual Mistis, Ternyata Mandi Kembang Punya 6 Manfaat Ini Lho)

Selama masa sekolah, Pugliese menceritakan dirinya punya teman baik, mereka tidak pernah membiarkan dirinya berpikir ada yang salah dengan penamilannya. Pugliese mencoba untuk tidak membiarkan hal itu menggangu dirinya, tapi terkadang dirinya merasa kesal.

"Jika saya tidak memiliki bintik-bintik ini, saya yakin akan menjadi orang yang berbeda," ucapnya.

Terlalu menyakitkan untuk berjalan

Ketika Pugliese lahir, tanda lahirnya yang begitu besar membuat dokter tidak yakin menemukan bagaimana cara mengobatinya. Karena itu, dokter merujuknya ke Rumah Sakit das Clinicas, tempat dia menjalani lebih dari 30 operasi untuk menyingkirkan bagian dari penderitaannya, operasi pertama saat Pugliese berusia 6 bulan.

"Para dokter yang menangani kasus saya menganggap bahwa sebagian tanda lahir saya bisa dihapus, karena sangat besar dan paparan sinar matahari sangat berbahaya. Mereka memprioritaskan pada daerah dengan risiko lebih besar, seperti lengan dan kaki saya," tuturnya.

Operasi dilakukan dengan cangkok kulit dari betis Pulgiese. Karena pada daerah itulah Pulgiese memiliki lebih banyak kulit putih.

"Kemudian mereka melepaskan sebagian dari tanda lahir saya, dan menggantinya dengan kulit dari kaki saya. Pemulihan berlangsung 2 sampai 3 bulan, di mana saya dikurung di kamar tidur karena terlalu menyakitkan untuk berjalan," katanya.

Karena tanda lahirnya, Pugliese harus mengoleskan krim matahari setiap hari. Karena, tanda lahirnya tersebut membuatnya lebih mudah terkena kanker kulit.

Mulai menerima keadaan hingga menemukan cinta sejati

Setelah operasi terakhirnya di tahun 2008, Pugliese telah memutuskan untuk tidak melakukan prosedur lebih lanjut, malah tak lagi menyembunyikan penampilannya. Bahkan, Pugliese telah menemukan cinta sejatinya dan tidak ingin lagi mengubah penampilannya.

"Tentu saja saya biasa bertanya-tanya mengapa hal ini terjadi pada saya. Tapi, saya tidak akan pernah ingin tambil beda. Saya sangat senang menjadi diri saya sendiri," tegasnya.

"Saya selalu mengatakan kepada orang lain bahwa kita harus belajar untuk bahagia dengan apa yang kita miliki, dalam setiap kehidupan tapi secara khusus dalam perbedaan," tambahnya.

(Baca Juga: Sariawan Tidak Kunjung Sembuh, Normal atau Gejala Kanker Mulut?)

Kini, Pugliese berharap bisa menginspirasi orang lain yang mengalami kondisi langka serupa dirinya. "Saya berharap bisa menginpirasi orang lain untuk merangkul mereka, dan menjadi percaya diri dengan kulit mereka sendiri," katanya.

Selain itu, meski mendapat julukan 'monyet' saat masa kecil, Pugliese ingin bekerja dengan primata tersebut bersama dengan hewan lainnya. Hal ini untuk memenuhi cintanya pada alam.

"Alam mempesona saya, semua detailnya sangat luar biasa, sehingga saya bisa menghabiskan berjam-jam di hutan sambil menikmati semuanya," ungkapnya.

"Saya mencintai semua hewan, dan selama saya terikat dengan alam, saya tahu saya akan bahagia," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini