OKEZONE WEEK-END: Memburu Nikmatnya Kopi Manggarai di Tanah Flores

Adi Rianghepat, Jurnalis · Minggu 27 Agustus 2017 11:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 27 298 1763948 okezone-week-end-memburu-nikmatnya-kopi-manggarai-di-tanah-flores-AxtDHlsv7R.jpg Kedai Kopi (Foto: Boldsky)

MENYERUPUT secangkir kopi seolah sudah menjadi hal wajib bagi setiap penikmatnya. Bisa kapan saja, di waktu pagi, siang, sore bahkan malam sebelum tidur. Tempat dan lokasi pilihannya pun beragam. Bisa di rumah, di tempat kerja bahkan di pusat kuliner dan tentunya juga di tempat nongkrong yang selalu disebut 'warung kopi'. Tapi ada juga yang sebut dengan istilah 'caffe'.

Para pemilik dan pengelola 'caffe' dengan konsepnya terus mendisain 'tempat nongkrong' para penikmat kopi itu dengan beragam gaya. Ada yang memanfaatkan lokasi apa adanya. Tetapi ada juga coba memanfaatkan ruangan rumah tokonya.

Ini yang terjadi untuk 'CaNai caffe' yang berada di jalan Piet A Tallo Kelurahan Oesapa Barat, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Di ruangan 'small' itulah semua pelanggan terlayani nikmatnya kopi asli Manggarai dari Pulau Flores.

"Tempat kami apa adanya (sederhana), namun produk kopi yang kami saji sangat luar biasa dan memberi kepuasan kepada para pelanggan kami," kata Ibu Yukunda Huwa saat berbincang dengan Okezone, belum lama ini.

Dia mengaku menyediakan produk kopi asli dan khas dari para petani Manggarai. Semua kopi yang disajikan di caffe itu didatangkan langsung dari daerah yang berda di ujung barat Pulau Flores itu.

"Keaslian akan memberikan nilai rasa yang khas," katanya. Saya lalu ditawari menu kopi yang tersedia. Ada kopi arabika, ada kopi Colombia, ada campuran kopi arabika plus susu dan colombia plus susu serta beberapa minuman lain.

Nikmatnya dua jenis kopi yang ditawar itu tentu memiliki nilai rasa yang juga berbeda. Karena berbeda kualitas dan rasanya itu maka harganya pun berbeda.

Untuk arabika dihargai Rp15 ribu setiap satu cangkir dengan tambahan dua buah kompiang, kue seperti roti bakar khas Manggarai dan bagian permukaan dilumuri wijen. Sementara untuk jenis colombia dijual dengan harga Rp20 ribu per cangkirnya, plus dua kompiang cuma-cuma.

Hampir tak berbeda nikmatnya dua jenis kopi yang tersaji di meja 'CaNai caffe' atau disebut 'caffe satu hati' Ca artinya satu dan Nai berarti hati (bahasa Manggarai) itu.

Ibu Yukunda baru memulai usaha caffenya itu karena peluang bisnis jualan 'si mutiara hiram' itu cukup menjanjikan. Betapa tidak persediaan kopi arabica dan colombia sebagai dagangan utamanya itu selalu habis dalam dua pekan.

"Ya dalam sebulan saya harus empat kali datangkan kopi dari para petani di Manggarai," ungkapnya.

Kopi yang dibelinya dari petani itu oleh warga asli di Manggarai, langsung diproses hingga menjadi bubuk.

Sejak awal mengolahnya dari memetik, menjemur, menggorengnya hingga menjadi bubuk dilakukan dengan keaslian tradisi warga di Manggarai. Pola pengolahan dengan keaslian itulah yang membuat nikmatnya beda dengan yang dibuat di tempat lainnya.

Untuk mendapatkan kenikmatan di setiap sentuhan bibir para penikmat kopi, penyajiannya dilakukan dengan merebusnya. "Kita merebus kopinya tidak dengan seduhan air panas saja seperti adanya. Tetapi menggunakan cara merebusnya," katanya membuka rahasia sajian kopi di caffe itu.

Konon kopi Manggarai yang nikmat itu pertama kali diperkenalkan ke Manggarai, Flores, oleh pemerintah kolonial Belanda dengan sistem tanam paksa pada 1920-an.

Sistem itu dengan cepat melahirkan perkebunan kopi terluas se-Manggarai Raya. Letaknya di Kecamatan Poco Ranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur.

Wilayah dataran tinggi yang diselimuti kabut ini terbukti sangat cocok digunakan sebagai perkebunan kopi. Bahkan dari catatan sejarah pada 1937, petani setempat memenangi sayembara Pertandingan Keboen Kopi yang digelar oleh Pemerintah Kolonial. Hamparan kebun di Colol mendapat nilai tertinggi dalam kesesuaian penanaman dan perawatannya. Pemerintah Belanda kemudian menganugerahi selembar bendera tiga warna pada para petani atas keberhasilan mereka membudidayakan kopi.

Dataran tinggi Colol ibarat surga kopi. Hamparan kebun nan luas dengan butiran kopi yang melimpah di tiap pohonnya. Kondisi itu lantas mendesak Belanda memperkenalkannya sebagai kopi Flores kepada dunia. Hasil panen yang melimpah di era penjajahan membuat pemasaran kopi meluas ke sejumlah Eropa.

Meskipun saat ini setelah puluhan tahun kolonialisme Belanda hengkang dari Indonesia, perkebunan kopi di Flores tidaklah meredup. Bahkan nikmatnya kopi Manggarai itu pun ikutan mendunia.

Sembari menikmati alunan pelan sejumlah tembang lawas nan wals persembahan Lionel Richie dengan tembang 'Stuck On You', Erick Klapton dengan alunan 'Wonderfull Tonight', Michael Bolton dengan 'When a Man Loves a Women', Bon Jovi dengan lantunan "Thank You For Loving Me' serta sejumlah alunan lainnya, seruput cangkir arabica dan columbia pun berakhir.

Memang, nikmatnya kopi Manggarai, ternyata telah melupakan hari dalam detikan waktu yang terus larut. Saya pun harus berlalu, untuk kembali lagi di saat mana niat memburu nikmatnya kopi Manggarai di 'Canai Caffe'.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini