Wanita Pengidap Kanker: "Aku Merasa Giliranku Menyelamatkan Bayi dalam Kandungan Ini, Karena Tuhan Mengirimnya untuk Menyelamatkanku"

Tiara Putri, Jurnalis · Senin 28 Agustus 2017 12:18 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 28 481 1764423 wanita-pengidap-kanker-aku-merasa-giliranku-menyelamatkan-bayi-dalam-kandungan-ini-karena-tuhan-mengirimnya-untuk-menyelamatkanku-3ofmfgejO5.jpg Aleks Patete (Foto: Health)

PASANGAN yang sudah menikah tentunya akan sangat bahagia jika kabar kehamilan menghampiri mereka. Terlebih pada pasangan yang sudah lama menantikan kehadiran buah hati. Tapi apa jadinya bila ternyata kehamilan itu mengalami masalah?

(Baca Juga: Waspada! Ini Tanda-Tanda Kanker yang Jarang Diketahui)

Kebahagiaan Aleks Patete harus terganggu dengan kabar bahwa dirinya mengidap kanker ovarium. Dokter menemukan adanya miom yang tumbuh di indung telurnya ketika Patete melakukan pemeriksaan ultrasound saat usia kandungannya memasuki usia 7 minggu.

(Baca Juga: Mengerikan! Menderita Dermatillomania, Perempuan Ini Doyan Mengelupasi Kulitnya Sendiri)

Dokter mengatakan miom tersebut adalah kanker dan Patete harus menggugurkan kandungannya guna menjalani kemoterapi yang agresif. Sontak saja Patete bersama dengan suaminya menolak gagasan dokter.

“Bayi itu menyelamatkanku karena dengan memeriksanya dokter mengetahui aku terkena kanker. Kanker bisa berkembang lebih jauh lagi dan mungkin aku tidak akan mengetahuinya apabila tidak hamil. Aku merasa saat itu adalah giliranku untuk menyelamatkan bayi dalam kandungan karena Tuhan telah mengirimkannya untuk menyelamatkan hidupku,” tutur Patete seperti yang dikutip dari Health, Senin (28/8/2017).

(Baca Juga: Usia Semakin Tua, Jangan Sering-Sering Begadang, Kurang Tidur Meningkatkan Risiko Demensia)

Beruntung dokter memberikan alternatif pengobatan kemoterapi yang cukup aman. Alternatif pengobatan itu hanya memiliki sedikit kemungkinan untuk mempengaruhi bayi dalam kandungan Patete.

“Sama seperti ibu pada umumnya, aku tentu tidak ingin melakukan sesuatu yang bisa membahayakan bayiku. Beruntung dokter memberikan pilihan alternatif. Sehingga walaupun saya sangat ketakutan, mereka meyakini bahwa itu adalah pilihan yang relatif aman,” tambah Patete.

(Baca Juga: Mengerikan! Main Handphone Sembari BAB Berbahaya, Bisa Tularkan Penyakit Infeksi)

Menurut Patete, awalnya itu adalah keputusan yang sulit. Tapi di lain pihak dia harus mempertimbangkan pilihannya. Di satu sisi apabila dia tidak melakukan apapun, hal itu bisa membahayakan nyawanya.

Sedangkan jika dia melakukan pengobatan apakah itu memengaruhi bayinya. Setelah setuju dengan pengobatan, Patete mulai melakukan pengobatan kemoterapi selama lima bulan yang membutuhkan enam putaran setiap minggu.

Meskipun pada awalnya dihadapkan pada keputusan yang sulit, beruntung keputusan itu tepat. Berminggu-minggu melalui pengobatan, hasil USG menunjukkan bahwa bayi yang dikandung Patete dalam keadaan sehat. Dia pun meneruskan kemoterapi.

“Walaupun hasil pemeriksaan membuatku merasa nyaman, aku tidak pernah berhenti memikirkan kemungkinan terburuk,” cerita Patete.

Beruntung bayinya lahir dengan selamat dan tumbuh menjadi bayi laki-laki yang lucu, manis, selalu tersenyum, dan penuh sukacita. Patete kemudian melanjutkan kembali pengobatan kemoterapinya.

Dia juga menjalani operasi pengangkatan sel telur dan tuba falopi sebelah kanan agar pertumbuhan sel kanker pada organ tubuh tidak berlanjut. Patete memang masih ingin memiliki banyak anak, untuk itulah dokter hanya mengangkat indung telurnya saja. Patete rutin memeriksa diri ke dokter tiga bulan sekali untuk melihat apakah kankernya kembali lagi atau tidak.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini