Kisah Natalia Gadis Tunanetra: "Ibu Adalah Pinjaman Tuhan yang Sempurna, Kata Orang Ibuku Cantik, I Love You Mami"

Dewi Kania, Jurnalis · Senin 28 Agustus 2017 16:43 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 28 481 1764678 kisah-natalia-gadis-tunanetra-ibu-adalah-pinjaman-tuhan-yang-sempurna-kata-orang-ibuku-cantik-i-love-you-mami-fHrWUWKamw.jpg Titin Sumarni dan Putrinya Natalia Mendie (Foto: Dewi/Okezone)

TAK semua ibu ingin merawat anak dengan kondisi berkebutuhan khusus. Hal ini pasti membuat perasaan ibu kecewa dan sulit menerima masalah yang dihadapinya.

Titin Sumarni (36) sulit menerima pahitnya pengalaman yang dikaruniai putri tunanetra Natalia Mendie Widjaya (11). Rasa percaya dirinya pudar, dia pun tak sanggup dan malu harus membesarkan putrinya yang berkebutuhan khusus.

(Baca Juga: Waspada! Ini Tanda-Tanda Kanker yang Jarang Diketahui)

Titin mengisahkan, saat Natalia berusia 3 bulan divonis dokter menderita low vision. Ketika mendengar ucapan dokter, membuatnya patah semangat. Natalia besar dengan kondisi tidak bisa melihat indahnya dunia, namun dia hanya bisa merasakan sentuhan kasih sayang orang-orang di sekitarnya.

(Baca Juga: Mengerikan! Menderita Dermatillomania, Perempuan Ini Doyan Mengelupasi Kulitnya Sendiri)

Sempat perempuan periang itu menjalani transplantasi mata di Singapura supaya penglihatannya kembali normal. Tapi apa daya, usaha orangtuanya itu gagal karena tubuh Natalia menolak atau rejection saat melakukan operasi donor mata.

(Baca Juga: Usia Semakin Tua, Jangan Sering-Sering Begadang, Kurang Tidur Meningkatkan Risiko Demensia)

Padahal Natalia mendapatkan donor mata dari seorang anak asal Amerika Serikat. Namun, peluang Natalia agar bisa melihat tidak terbuka lebar.

"Saya jujur tidak bisa menerima kondisi ini. Saya malu dan tertutup ketika punya anak seperti Natalia. Apalagi operasinya gagal karena rejection," ungkap Titin kepada Okezone di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (28/8/2017).

Dikisahkan Titin lebih lanjut, Natalia mengalami low vision karena kekurangan vitamin A yang mendukung kesehatan matanya sebelum lahir. Hal ini membuat tulang belakang bagian mata tidak tumbuh sempurna.

(Baca Juga: Mengerikan! Main Handphone Sembari BAB Berbahaya, Bisa Tularkan Penyakit Infeksi)

Saraf mata Natalia semakin lemah ketika gagal melakukan transplantasi mata. Hal ini membuat Titin sulit menstabilkan emosinya saat merawat buah hati keduanya itu.

"Saya sedih, berat dan sesak melihat kenyataan ini. Sekalipun sudah ambil tidakan transplantasi mata hasilnya gagal," bebernya.

Namun Titin setiap hari berusaha menghadapi pahit masalahnya. Malah dia belajar dari kedewasaan Natalia yang patut diacungi jempol.

Putri kesayangannya itu menguatkan Titin yang sering tertutup di kalangan masyarakat dan saudara dekatnya. Banyak pembelajaran yang diterima, terutama bisa mengelola emosinya dengan baik.

"Natalia anaknya dewasa. Waktu tahu dia gagal operasi dia berkata 'Mami jangan operasi lagi ya, aku uda nerima apa yang Allah kasih. Enggak bisa lihat tidak apa, yang penting aku bisa lihat mami aku'," imbuh Titin.

Kalimat itu yang membuat Titin lebih kuat dan tegar. Banyak hal lain yang juga didapatkannya. Apalagi ketika mengikuti kelas #sentuhanibu. Titin lebih mudah mengatur emosi. Percaya dirinya juga jadi lebih besar.

"Banyak pembelajaran yang utama, tadinya saya tertutup, tidak pergi kemana-mana di rumah saja. Sekarang lebih berani dan percaya diri membawa Natalia keluar rumah," katanya.

Begitu juga Natalia, jadi lebih periang daripada sebelumnya. Dia merasa bahagia ketika ada sentuhan ibu yang tak terhingga.

"Ibu adalah pinjaman Tuhan yang sempurna. Kata orang ibuku cantik dalam tutur kata dan sentuhannya. I love you, Mami," pungkas Natalia dengan wajah riang.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini