nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kasus Hepatitis Masih Tinggi di Indonesia, Ketahui Gejala, Penularan dan Mitosnya!

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Kamis 31 Agustus 2017 10:42 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 08 31 481 1766734 kasus-hepatitis-masih-tinggi-di-indonesia-ketahui-gejala-penularan-dan-mitosnya-CTTHk4vSYF.jpg Ilustrasi (Foto: Medicalnewstoday)

SALAH satu penyakit berbahaya yang dapat berujung pada kematian adalah hepatitis, karena dapat menyebabkan kanker hati. Sayangnya, penyakit hepatitis di Indonesia kasusnya masih terbilang tinggi.

Sesuai dengan namanya, hepatitis adalah peradangan yang terjadi pada organ hati. Sebagai organ penting yang terletak di bagian kanan atas rongga perut, hati berperan dalam melakukan metabolisme nutrisi, obat-obatan, hingga racun dalam tubuh. Bila terjadi kerusakan atau peradangan pada organ tersebut maka dapat menyebabkan gangguan pada fungsi hati itu sendiri.

(Baca Juga: Gawat! Tren Penyakit Hepatitis di Indonesia Semakin Meningkat, Apa Sebabnya?)

Peradangan hati atau hepatitis disebabkan oleh berbagai hal. Salah satu penyebab yang paling sering adalah virus. Penyakit ini ditularkan lewat virus yang menyerang bagian hati. Virus yang menyebar melalui darah dan cairan tubuh ini terdiri dari hepatitis A, B, C, D, dan E.

Kasus yang paling sering terjadi dan mengkhawatirkan di Indonesia adalah hepatitis C dan B. WHO memperkirakan ada 71 juta orang di dunia yang terinfeksi hepatitis C kronis. Sekira 10 juta orang di antaranya tinggal di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

(Baca Juga: Ibu Hamil Rentan Tularkan Hepatitis B, Segera Suntikkan Vaksin kepada Bayi Setelah Lahir)

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyebutkan, prevalensi orang yang terinfeksi hepatitis C 2,5% atau sekira 5 juta orang. Virus hepatitis menyebabkan lebih dari 1 juta kematian pada tahun 2015. Angka ini serupa dengan kematian yang disebabkan oleh tuberkulosis (TB) dan lebih tinggi dari kematian terkait HIV.

Sementara itu, virus hepatitis B dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya saat dilahirkan. Untuk mencegah penularannya, dokter akan menyuntikkan imunoglobulin dan vaksin hepatitis B tidak lebih dari 24 jam bayi lahir. Prosedur ini dinilai efektif untuk mencegah penularan penyakit dalam waktu cepat. Diharapkan semua fasilitas kesehatan menyediakan vaksin HB0 dan memberikan kepada bayi baru lahir dalam waktu cepat.

Perbedaan hepatitis B dan C

Hampir 80 persen dari hepatitis B dan C hadir tanpa ada gejala. Hanya sekira 20 persen dari pasien menimbulkan gejala.

Masa inkubasi atau penularan penderita hepatitis terjadi dalam 6 bulan. Pada masa inkubasi tersebut, 20 persen penderita ditemukan gejala yang menunjukkan diagnosis hepatitis. Biasanya penderita hepatitis B dan C akan timbul gejala, seperti lemah, letih, panas, mual, muntah, tidak ada nafsu makan, sakit kepala.

(Baca Juga: Sedang Sakit Kuning, Jangan Konsumsi Makanan Pedas jika Ingin Cepat Sembuh)

Sedangkan pada kondisi yang akut, adanya perubahan kulit dan mata yang berwarna kuning, feses berwarna pucat, serta penurunan berat badan. Apabila kondisi berlanjut, penderita akan mengalami gejala awal sirosis atau pengkerutan hati dan komplikasi kanker hati.

Untuk penularan, hepatitis B ditularkan melalui darah dan cairan tubuh lain yang telah terinfeksi. Karena itu, virus hepatitis B dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya saat dilahirkan. Atau dari melakukan hubungan seks dengan seseorang yang tertularkan.

Sedangkan, untuk hepatitis C sebagian besar ditularkan melalui darah yang terinfeksi. Misalnya, transfusi darah atau penggunaan jarum suntik yang tidak steril. Serta kebiasaan berbagi barang-barang pribadi, seperti sikat gigi, gunting kuku, pisau cukur, dan alat manikur dan pedikur di salon kecantikan.

Mitos dan fakta seputar hepatitis

Sebagian besar dari kita mengetahui jenis hepatitis dan cara untuk mencegahnya. Namun, ada beberapa mitos yang diyakini sampai saat ini. Salah satunya adalah hepatitis disebabkan penyakit kuning, padahal ini tidak benar. Karena, sakit kuning hanyalah gejala dari hepatitis, bukan penyebabnya.

(Baca Juga: Tren Terus Meningkat, Kenali Penyebab dan Cara Penularan Virus Hepatitis)

Untuk itu, Dr Mehul Choksi, Konsultan Gastroenterologi Rumah Sakit Sl Raheja, Mumbai, menjelaskan sejumlah fakta dan mitos mengenai penyakit kuning. Berikut penjelasan mitos dan fakta mengenai penyakit kuning dan hepatitis yang dilansir dari Thehealthsite:

Mitos 1: Penyakit kuning hanya disebabkan oleh infeksi yang ditularkan melalui air

Fakta: Penyakit kuning dan hepatitis kronis disebabkan oleh virus yang terbawa darah. Virus ini bisa menyebabkan penyakit hati stadium akhir atau sirosis. Hepatitis B adalah infeksi yang dapat dicegah. Ada vaksin untuk hepatitis B yang diberikan saat lahir. Orang dewasa yang belum pernah divaksin bisa mengambilnya setelah diuji lab untuk hepatitis B.

Mitos 2: Hanya makanan hambar yang harus dikonsumsi saat pemulihan dari sakit kuning

Fakta: Pada saat menderita penyakit kuning tubuh membutuhkan kalori dalam jumlah yang baik dari protein, karbohidrat dan lemak. Membatasi diri dengan makanan hambar dan direbus dapat dengan mudah menyebabkan kekurangan gizi protein selama masa berkepanjangan. Karena itu, makan dan pertahankan diet sehat ketika nafsu makan sudah kembali, dengan jumlah lemak yang normal akan membantu pulih dari penyakit ini lebih cepat.

Mitos 3: Obat-obatan herbal adalah satu-satunya pengobatan yang efektif

Fakta: Mitos terbesar adalah bahwa tidak ada perawatan untuk penyakit hepatitis, hanya obat herbal yang bisa bekerja dan menyembuhkannya. Kebanyakan orang mencari pengobatan setelah mengonsumsi berbagai ramuan dari seseorang yang bukan dokter. Faktanya adalah hepatitis terobati jika orang mendapat perawatan yang tepat dari dokter setelah timbul gejala, kata Dr Rakesh Patel, Gastroenterologist, Fortis Hospital, Kalyan.

Mitos 4: Pengobatan alternatif akan membantu mengobati penyakit hepatitis

Fakta: Keyakinan budaya yang kuat, terutama di pedesaan, telah menerapkan praktek pengobatan alternatif untuk mengobati penyakit kuning atau hepatitis. Faktanya adalah penyakit kuning disebabkan oleh virus hepatitis A, B dan E, dan sebagian besar sembuh sendiri seiring berjalannya waktu.

Mitos 5: Mengonsumsi makanan berwarna kuning menyebabkan penyakit kuning

Fakta: Kebanyakan orang masih percaya bahwa mengonsumsi makanan berwarna kuning, seperti kunyit dan lemon bisa meningkatkan risiko penyakit kuning. Namun, ini tidak benar, karena kunyit bagus untuk hati dengan sifat antiinflamasi dan mendetoksifikasi organ. Antioksidan dalam lemon membantu membilas radikal bebas dari hati dan membantu organ untuk pulih setelah terinfeksi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini