Share

OKEZONE STORY: Laila Dimyati Letakkan Jabatan Demi Menjadi Barista & Q Grader Profesional

Dimas Andhika Fikri, Okezone · Jum'at 01 September 2017 20:10 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 01 298 1767761 okezone-story-laila-dimyati-letakkan-jabatan-demi-menjadi-barista-q-grader-profesional-0y97wJud4L.jpg Laila Dimyati, barista (Foto:instagram)

BERMULA dari kegemarannya meminum kopi, Laila Dimyati kini sukses menjadi seorang Q Grader asal Indonesia. Bagi para pencinta kopi tentunya tidak asing lagi dengan profesi tersebut. Q Grader adalah pencicip kopi profesional yang telah mendapat akreditasi bertaraf internasional dari Coffee Quality Institute (CQI). Tugas utama Q Grader adalah menentukan biji kopi berkualitas.

Bukan perkara mudah untuk bisa menjadi seorang Q Grader handal. Ada sejumlah proses yang harus dilaluinya hingga berada di posisi tersebut, termasuk merelakan jabatannya ketika bekerja di salah satu perusahaan elektronik asal Lampung. Keputusan itu menjadi salah satu bukti bahwa ia telah siap untuk mendalami dunia kopi yang sangat dicintainya.

Setelah berhenti bekerja, tepatnya pada tahun 2009, Laila mulai mengembangkan hobinya sebagai barista rumahan (home brewer). Ia mulai mempelajari teknik-teknik dasar menyeduh kopi dengan menggunakan alat seadanya. Barulah pada awal tahun 2011, Laila memutuskan untuk mengikuti kelas barista professional di Caswells Coffee.

“Kelas barista itu singkat sekali hanya 3 hari. Sisanya tergantung individu masing-masing apakah mau terus mengasah skill, atau puas dengan pencapaian tersebut. Untuk aku sendiri, butuh waktu 1 tahun agar bisa menguasai semua teknik-tenik menyeduh kopi, baik yang menggunakan alat tradisional maupun menggunakan mesin modern,” tutur Laila kepada Okezone, beberapa wkatu lalu.

 

Saat ditanya apa kendala utama ketika menjadi seorang barista, Laila mengungkapkan bahwa pada zamannya, belum banyak komunitas-komunitas kopi yang bisa dijadikan wadah untuk bertukar pikiran antar sesama barista. Berbeda dengan kondisi saat ini, hampir setiap daerah di Indonesia memiliki komunitas kopi dengan fokus yang berbeda-berda. Mulai dari komunitas manual brew, komunitas latte artist, dan masih banyak lagi.

“Komunitas ini sangat penting untuk meningkatkan skill para barista di luar jam kerja mereka. Disini mereka juga bisa mendapatkan informasi-informasi terbaru seputar dunia kopi, yang mungkin tidak mereka ketahui sebelumnya,” jelas Laila.

Seiring berjalannya waktu, karir Laila di dunia kopi pun semakin berkembang. Ia sempat menjadi manajar di sebuah coffee shop pada 2012-2014. Dua tahun bekerja di tempat ‘orang’, Laila dan rekannya sepakat untuk membangun usaha sendiri.

Berawal dari usaha inilah, Laila kemudian tertarik untuk menjadi seorang Q Arabica Grader. Perjuangannya untuk mendapat predikat tersebut tidaklah mudah. Ia harus melalui serangkaian ujian yang diselenggarakan oleh Coffee Quality Institute (CQI). Biayanya pun tidak murah, untuk mengikuti ujian tersebut Laila harus mengeluarkan dana sebesar Rp20 juta.

“Aku kan semakin lama semakin berumur, tenaga pun sudah kerasa banget tidak seoptimal dulu. Sekarang udah mau 40 tahun, klo aku tidak meningkatkan kualitas kerjaku, pastinya akan terus menerus disitu (barista). Oleh karena itu, aku dan temanku memutuskan untuk membuka 3 AM Coffee Roastery. Kita bagi tugas ada yang di hulu dan hilir. Yang manggang itu partner saya, dan saya bertugas untuk memilih biji kopi,” ujar Laila.

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, tugas utama Q Grader adalah menentukan biji kopi berkualitas yang dijual oleh para petani kopi. Hal ini sangat penting dilakukan untuk menyuguhkan racikan kopi terbaik kepada para konsumen.

“Q Grader itu memiliki peranan penting agar perusahaan tidak sembarangan membeli biji kopi. Ibaratnya “tidak membeli kucing di dalam karung”. Saya juga bertugas sebagai negosiator antara perusahaan dengan para petani kopi, karena pada dasarnya petani kopi itu sering mematok harga yang sangat tinggi,” ungkap Laila.

Oleh karena itu, Laila mengaku sering mengunjungi perkebununan kopi untuk menguji green bean (biji kopi mentah) dengan metode cupping. Jika biji kopi diuji bersama para petani, mereka cenderung lebih terbuka dan bersedia jika pihak pembeli hendak melakukan penawaran.

Disinilah keuntungan Laila sebagai Q Grader sekaligus seorang Barista, sehingga ia bisa lebih memahami karakter rasa kopi dengan mempraktekkan penyeduhannya secara langsung. Laila memang sangat selektif dalam memilih biji kopi karena mayoritas konsumennya adalah ekspatriat.

“Pelanggan aku kebanyakan ekspat, dan hanya mereka yang berani membeli biji kopi dengan harga mahal dan kualitasnya terjamin,” kata Laila.

 

Saat ditanya suka dan duka menjadi seorang Barista dan Q Grader, Laila mengaku mendapat banyak pengalaman berharga dan tak terlupakan, termasuk diminta langsung oleh pihak Istana untuk menyeduh kopi dihadapan Presiden Joko Widodo pada acara 17 Agustusan kemarin. Tawaran tersebut terpaksa ditolaknya karena ia harus mengurus beberapa acara di Medan dan Palembang.

“Kalau berbicara soal duka, dulu waktu masih jadi barista aku sering dapat konsumen yang ‘aneh’, pesannya capucino tapi tidak mau pake susu. Ada juga konsumen yang minta tambah ini itu tapi tidak mengeluarkan biaya tambahan. Terus terang butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi konsumen-konsumen seperti itu. Belum lagi kalau terjadi kecelakaan yang tidak disengaja seperti terkena siraman air panas, atau terkena alat steam susu,” cerita Laila.

“Kalau konsumen suka dengan racikan kopiku terus mereka mengucapkan terima kasih dengan tulus, itu menjadi kesenangan dan kepuasan tersendiri untukku,” ungkapnya.

Sebelum menutup cerita, Laila juga sempat mengutarakan harapannya untuk industri kopi di Indonesia. Ia berharap agar masyarakat Indonesia mau membangun awareness terhadap perkembangan kopi nusantara, sehingga Indonesia bisa menjadi tuan rumah bagi kopinya sendiri. Karena sejauh ini, Laila melihat bahwa para penggiat kopi di luar negeri lah yang sangat tertarik untuk mengeksplorasi keunikan rasa kopi nusantara. Padahal, perkembangan bisnis kopi di seluruh dunia akan terus meningkat hingga 15 tahun mendatang.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini