nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kampanyekan ''Batuk Perokok'', Pemerintah Tampilkan Video Cuplikan Dampak Mematikan Akibat Merokok

Dewi Kania, Jurnalis · Selasa 05 September 2017 14:11 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 09 05 481 1769612 kampanyekan-batuk-perokok-pemerintah-tampilkan-video-cuplikan-dampak-mematikan-akibat-merokok-8HFTDBeJgf.jpg Ilustrasi (Foto: Timesofoman)

PEMERINTAH kampanyekan "Batuk Perokok" yang dikemas dengan iklan layanan masyarakat. Kampanye ini dilakukan untuk mendukung para perokok supaya berhenti total menghisap benda berbahaya ini.

Data dari Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesian Report 2011 menyebutkan, rata-rata penduduk dewasa di Indonesia menjadi perokok aktif. Jumlahnya 67% pria dan 2,7% wanita. Jumlah ini diindikasikan terbanyak di dunia.

BACA JUGA:

Dari riset tersebut pula, rata-rata perokok di Indonesia didominasi oleh laki-laki dewasa. Mereka telah mengenal rokok sejak usia 12 tahun. Sangat miris!

Karena itulah pemerintah melakukan kampanye "Batuk Perokok" dengan pesan iklan yang membuat kita terenyuh. Bedanya, menampilkan cuplikan video yang menunjukkan dampak bahaya dari rokok.

Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan dr Eni Gustina, MPH mengatakan, dengan adanya iklan layanan masyarakat yang menampilkan bahaya rokok ini diharapkan masyarakat bisa berhenti merokok. Iklan ini termasuk salah satu fasilitas yang membuat orang ingin berhenti merokok.

"Kami tayangkan cuplikan iklan bahaya merokok, yang membuat orang aware untuk berhenti merokok, khususnya generasi muda. Secara tidak langsung, ini mempengaruhi fisik dan mental," ujar dr Eni saat Media Diskusi Kampanye Iklan Layanan Masyarakat "Batuk Perokok" di Kantor Kementerian Kesehatan RI, kawasan Kuningan, Selasa (5/9/2017).

BACA JUGA:

Cuplikan dari video iklan tersebut menampilkan seorang perokok berat Richard Maradona (35) yang harus menjalani operasi torakoskopi dan torakotomi akibat penyakit paru. Dilanjutkan dengan Edison Poltak Siahaan (78) menderita kanker tenggorokan. Lalu ada pula Cecep Sopandi (40) harus kehilangan ibu jarinya akibat penyakit buerger.

Semua cuplikan video tersebut mewakili bukti dari bahaya merokok. Itu akibat paparan nikotin dan tar yang menempel terus di tubuh manusia yang berubah menjadi risiko penyakit mematikan.

Tapi sayangnya, menurut Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg Oscar Primadi, MPH menambahkan, banyak kontroversi saat pemerintah menayangkan iklan masyarakat tersebut. Salah satunya yakni membuat masyarakat belum aware terhadap bahaya rokok.

Padahal bila ditelisik mendalam, bahaya rokok dapat menyebabkan penyakit katastropik. Penyakit ini menyedot dana pengobatan yang tak sedikit dari anggaran pemerintah.

"Kontroversi bahaya rokok terus mencuat di masyarakat. Padahal kita bermaksud untuk memproteksi mereka dari bahaya rokok yang bisa merenggut nyawa akibat penyakit katastropik," tambah drg Oscar.

Belum lagi berbagai tantangan yang dihadapi dengan adanya iklan layanan yang bertujuan baik ini. Perusahaan rokok berusaha 'menghancurkan' tayangan video iklan yang cukup menyentuh.

dr Eni mengungkapkan, hampir semua perusahaan rokok membuat iklan yang lebih keren dan mengajak masyarakat supaya ingat dengan mereknya.

"Tantangannya pabrik rokok malah gencar. Strateginya iklan rokok tambah banyak. Mereka menunjukkan kalau di balik rokok itu indah, tapi sebenarnya ada bahaya yang mengancam," tutur dr Eni.

Lalu, menurutnya, dengan adanya iklan yang mengajak untuk mencegah keburukan ini diharapkan dapat juga mengubah perilaku masyarakat. Orang jadi lebih cepat untuk berhenti merokok dengan cara nyaman.

Salah satunya yakni konsultasi dengan badan konseling yang juga disediakan Kementerian Kesehatan RI. Mudahnya, pelayanan ini bisa didapatkan melalui telepon.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini