nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Alasan Mengapa Makanan Manis dan Lengket Menyebabkan Gigi Berlubang

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 05 September 2017 17:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 09 05 481 1769804 ini-alasan-mengapa-makanan-manis-dan-lengket-menyebabkan-gigi-berlubang-QE0ModnaGF.jpg Ilustrasi (Foto: Trendingpost)

INOVASI di bidang makanan seakan tidak pernah mati. Setiap hari selalu bermunculan bentuk dan jenis makanan baru termasuk makanan anak-anak. Semakin menarik suatu makanan, semakin banyak yang mencobanya.

Tren yang berkembang sekarang untuk makanan anak-anak adalah banyak cemilan manis manis dan lengket yang dijual di pasaran. Banyak anak-anak yang tertarik untuk mengonsumsi cemilan tersebut karena warna dan bentuk makanan. Padahal makanan itu berdampak negatif pada kesehatan mulut.

BACA JUGA:

Makanan manis dan lengket dapat menurunkan derajat keasaman di dalam mulut. Idealnya pH di mulut adalah netral atau pH = 7. Kedua jenis makanan itu bisa membuat pH turun. Semakin rendah pH, maka akan semakin asam. Bila kadar pH di dalam mulut < 5,5 bisa berbahaya bagi kesehatan gigi.

Mulut yang terlalu asam bisa melarutkan mineral yang ada pada gigi terlebih bila frekuensinya terlalu sering. Demineralisasi yang sangat sering bisa membuat gigi berlubang. Selain jenis makanan, tekstur makanan ternyata juga berpengaruh pada kekuatan gigi.

"Makanan yang sekarang ini banyak dijual teksturnya terlalu lembut. Makanan yang dilembut biasanya mudah dicerna. Ketika seorang anak makan makanan yang mudah dicerna, maka otot-otot pengunyahannya tidak dilatih. Padahal, otot-otot pengunyahan sangat penting untuk kelenjar air ludah agar memproduksi air ludah yang banyak. Air ludah berfungsi untuk menetralisir derajat keasaman di dalam mulut," ungkap drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc selaku Division Head for Health & Wellbeing and Professional Institutions Yayasan Unilever Indonesia saat ditemui dalam Media Briefing Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGSN) 2017, Selasa (5/9/2017) di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan memberikan makanan cemilan untuk anak. "Anak-anak tetap membutuhkan snacking di sela-sela waktu makan besar, bisa 2-3 kali sehari. Biasanya cemilan diberikan 2 jam setelah makan besar atau sebelum makan besar berikutnya. Tetapi orangtua harus memperhatikan cemilan yang dikonsumsi anak. Idealnya cemilan yang diterima harus makanan yang mengandung banyak serat. Makanan banyak serat banyak ditemukan pada buah dan sayuran," tutur pakar gizi keluarga, Leona Victoria Djajadi, MND saat ditemui dalam acara yang sama.

Namun sayangnya, aturan pemberian cemilan sering dilalaikan oleh orangtua maupun anak. Sebanyak 79% orang yang membeli cemilan umumnya karena ingin memenuhi rasa penasarannya terhadap rasa dan tampilan yang terlihat menarik.

BACA JUGA:

Di sinilah perlunya kesadaran orangtua untuk menyiapkan cemilan yang sehat dan mengandung banyak serat. Sebab, kandungan serat pada makanan bisa membantu produksi air ludah yang lebih banyak. Orangtua diharapkanbisa menyiapkan cemilan yang sehat saat anak di rumah atau sedang berpergian.

Air ludah yang banyak berfungsi menetralisir derajat keasaman di dalam mulut sehingga mencegah gigi berlubang. Sejalan dengan hal ini, Unilever menggelar BKGSN di tahun kedelapan yang mulai berlangsung di bulan September hingga November 2017.

Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan agar keluarga Indonesia merdeka dari gigi berlubang. Dalam kegiatan ini akan dilakukan pemeriksaan dan perawatan gigi secara gratis serta edukasi tentang kesehatan gigi.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini