nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Akibat Merokok, Jumlah Kunjungan Pasien Penyakit Paru di RS Meningkat 100%

Dewi Kania, Jurnalis · Rabu 06 September 2017 16:20 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 09 06 481 1770530 akibat-merokok-jumlah-kunjungan-pasien-penyakit-paru-di-rs-meningkat-100-cPbRKHBwIj.jpg Ilustrasi (Foto: Minnpost)

KEBIASAAN merokok nampaknya sudah sangat dekat di masyarakat. Tapi tahukah Anda, di balik itu ada risiko gangguan kesehatan, terutama meningkatnya penderita penyakit paru yang mematikan.

Data dari Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesian Report 2011 menyebutkan, rata-rata penduduk dewasa di Indonesia menjadi perokok aktif. Jumlahnya 67% pria dan 2,7% wanita. Jumlah ini diindikasikan terbanyak di dunia.

Ditambah lagi dengan Data The Tobacco Atlas 2015 menyebutkan, lebih dari 217.400 penduduk Indonesia meninggal dunia akibat merokok. Ini terjadi setiap tahun, tapi seharusnya dapat dicegah.

BACA JUGA:

Ada sekira 19,8% pria meninggal dunia akibat rokok dan 8,1% wanita mengalami hal sama. Kasus ini dianggap paling banyak dari negara lain yang lebih maju.

Lebih lanjut, data dari RSUP Persahabatan Jakarta menyebutkan, sekira 5 tahun belakangan, jumlah kunjungan pasien paru meningkat. Salah satu jenis penyakit yang paling banyak diidap yakni penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

"Prevalensi penyakit PPOK sangat tinggi, dengan jumlah 94,4% dialami oleh perokok aktif dan 5,6% pengidapnya tidak merokok," ujar Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI dr Eni Gustina, MPH saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa 5 September 2017.

BACA JUGA:

Selama periode 2004-2006, data RSUP Persahabatan Jakarta menunjukkan, sebanyak 83,6% pria dan 43,4% wanita menderita kanker paru. Mereka semuanya tergolong perokok berat dan tidak mencegah sejak dini.

Tak hanya itu, tambah dr Eni, bahaya asap rokok dampaknya juga sangat berbahaya. Karena membawa risiko penyakit kronis seperti tuberkulosis, kanker payudara, jantung koroner, stroke, alergi limfoma dan masih banyak jenis penyakit lain.

Penduduk Indonesia dianggap mendapatkan ancaman penyakit mematikan itu kalau tak mencegahnya. Hal ini dibuktikan dengan bertambahnya jumlah kunjungan pasien yang naik sebanyak 100%.

Untuk menurunkan prevalensinya, pemerintah berusaha mengajak masyarakat untuk berhenti merokok. Banyak cara yang dilakukan seperti mengedukasi masyarakat dengan tayangan iklan bahaya rokok dan memberikan konseling gratis kepada masyarakat.

Dua cara ini dianggap efektif membuat orang berhasil untuk tidak lagi menghisap rokok. Bagaimanapun benda ini berbahaya, karena mengandung zat kimia beracun yang merusak jaringan organ tubuh.

"Dengan dibuatnya iklan layanan masyarakat yang efeknya baik bisa membuat semua kalangan aware dengan bahaya rokok. Diharapkan masyarakat sudah tidak lagi merokok karena tahu beberapa jenis penyakit yang mengancamnya di masa mendatang," pungkas dr Eni.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini