nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

OKEZONE WEEK-END: Pengrajin Tenun Ikat Sintang Tidak Boleh Bikin Motif Binatang Bernyawa Jika Ingin Bebas dari Musibah

Devi Setya Lestari, Jurnalis · Minggu 10 September 2017 19:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 09 08 194 1771973 okezone-week-end-pengrajin-tenun-ikat-sintang-tidak-boleh-bikin-motif-binatang-bernyawa-jika-ingin-bebas-dari-musibah-W2skABHwSn.jpg Tenun ikat sintang (Foto:Mediakapuas)

KAIN tradisional Indonesia punya pesona sendiri yang membuatnya tampak cantik, anggun dan penuh makna. Zaman modern seperti ini mengenakan kain etnik tradisional seolah jadi hal biasa padahal dibalik cantiknya kain-kain ini ada sisi menarik di dalamnya, termasuk sisi mistis.

Sebagai pembeli dan pengguna kain tradisional mungkin cukup mudah mendapatkan dan menggunakan kain-kain ini karena sudah banyak tersedia di pasaran. Tetapi bagi para pengrajinnya, kain ini lebih daripada sebatas lembaran serat kain penutup tubuh.

Ada proses panjang yang harus dilalui pengrajin kain, khususnya tenun, untuk bisa menghasilkan sehelai kain bermotif yang cantik dengan kesederhanannya. Salah satunya pada kain tenun ikat Sintang asal Kalimantan Barat.

BACA JUGA:

Bikin Penasaran, Seperti Inikah Detail Gaun Pengantin Laudya Cynthia Bella?

Jelang Nikah, Netizen Nilai Penampilan Laudya Cynthia Bella Makin Cantik dan Bening, Ini Buktinya!

Pengrajin tenun ini bisa dibilang sebagai orang yang paling memahami betul bagaimana cara men-treat kain layaknya barang kesayangan. Proses penenunan kain ikat sintang ini cukup kompleks, bahkan sejak awal pencarian bahan baku.

Tenun ikat sintang dibuat dengan benang yang berasal dari alam. Jika benang ini sudah tersedia maka selanjutnya proses pewarnaan benang. Bahan pewarna yang digunakan juga diperoleh dari alam.

 

Misalnya saja untuk mendapatkan warna coklat kemerahan, pengrajin harus meracik kulit akar pohon mengkudu yang dicampur dengan daunt arum atau indigo. Bahan ini kemudian ditumbuk halus dan direndam dalam minyak kelapa atau lemak binatang. Racikan ini nantinya digunakan sebagai pewarna untuk merendam benang selama semalaman.

Selesai proses pewarnaan benang, selanjutnya pengrajin tenun ikat baru mulai menenun menggunakan alat tradisional yang terbuat dari kayu. Proesenya berjalan cukup lama, jika motif yang dibuat cukup mudah maka kain bisa dihasilkan dalam satu atau dua minggu, sementara jika motifnya sulit maka tak jarang kain baru bisa selesai setelah ditenun berbulan-bulan.

BACA JUGA:

Menebak Gaya Hijab Laudya Cynthia Bella saat Akad Pernikahan dengan Engku Emran

Seperti Inikah Anggunnya Laudya Cynthia Bella Bila Kenakan Gaun Pengantin saat Menikah?

Selama proses menenun ini, ada beberapa motif yang sering diaplikasikan. Beberapa diantaranya motif alam seperti pohon, daun, air dan sebagainya. Ada juga motif senjata tradisional ataupun bentuk rumah adat. Di samping motif ini ternyata ada juga motif yang tidak boleh dibuat sama sekali yakni motif binatang bernyawa.

Cerita mistis akan terdengar kala pengrajin tenun nekat membuat motif binatang bernyawa. Ini adalah satu pantangan yang tidak boleh dilanggar sejak nenek moyang masyarakat. Jika dilanggar maka dipercaya si pengrajin ini akan terkena musibah ataupun jatuh sakit.

Hal serupa juga akan berefek jika pengrajin tenun menuliskan nana di atas kain tenunnya. Percaya atau tidak, mitos atau fakta, konon kabarnya ada beberapa penenun yang sudah mengalami hal nahas ini.

Proses yang panjang, sulit dan menantang ini membuat kain tenun ikat sintang dibanderol dengan harga yang cukup tinggi. Jika menyambangi pengrajinnya langsung maka harga sehelai kain ini mulai dari Rp200 hingga Rp 800.000, ada juga kain yang nilainya mencapai jutaan karena motif yang sulit dibuat.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini