nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

OKEZONE WEEK-END: Memperkenalkan Keindahan Songket Motif Candi Muara Takus

Agregasi Sindonews.com, Jurnalis · Minggu 10 September 2017 18:15 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 09 08 194 1772147 okezone-week-end-memperkenalkan-keindahan-songket-motif-candi-muara-takus-NAp1AqUycG.jpg Foto: Ilustrasi

TENUN songket sering disebut representasi kemegahan masa lalu dan tetap bisa populer untuk menjadi tren di industri mode.  Hingga saat ini, sejumlah daerah di Indonesia masih menjaga tradisi menenun songket ciri khasnya masing-masing.

(Baca juga: Selain Batik, Betawi Kini Miliki Tenun dan Songket).

Salah satu yang melestarikan tenun songket adalah Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kampar Eva Yuliana,  yang memperkenalkan dan memopulerkan motif Candi Muara Takus.

Alasan dia memilih motif Candi Muara Takus karena bangunan candi tersebut merupakan objek wisata yang terkenal hingga seluruh dunia di Kabupaten Kampar, Riau.

(Baca juga: Ketahui Lebih dalam Motif Khas Songket Palembang)

“Songket dan batik Kampar merupakan kebanggaan bagi masyarakat Kampar. Dengan kualitas yang bagus, maka pemasarannya pun hingga luar negeri,” katanya seperti dilansir Sindonews.

Dia menjelaskan, saat ini pegawai pemerintah Kabupaten Kampar memakai seragam batik Kampar setiap Rabu. “Kami sebagai masyarakat Kampar harus menghargai hasil batik tradisional dengan melestarikannya,” sebutnya.

Eva melanjutkan, kain songket perlu dipakai oleh kalangan yang lebih luas agar tetap lestari. Tidak hanya itu, dipakainya motif tersebut sebagai apresiasi atas keindahan coraknya.

"Dan juga dengan pemahaman tata nilai tradisi serta penghargaan terhadap keahlian perajinnya. Karena untuk memproduksi songket motif Candi Muara Takus tersebut dibutuhkan waktu dua minggu untuk satu line," sambungnya.

Para perajin songket di Desa Pagaruyung, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, mengembangkan kreasi songket dan meningkatkan produksi mereka hingga menjadikan daerah itu sebagai pusat songket di Kampar. Di Desa Pagaruyung terdapat beberapa perajin yang kesemuanya telah memiliki ATBM. Saat ini para penenun membuka sendiri usaha tenun songket.

“Kami, pemerintah Kampar, membantu pemasaran kain songket tersebut dengan langsung membeli ke para perajin. Biasanya, ada beberapa kualitas, misalnya ada yang satu kain seharga Rp5 juta namun menggunakan benang emas, dan ada pula yang satu songket untuk satu baju dengan harga Rp300.000 hingga Rp500.000,"pungkasnya.

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini