Share

OKEZONE STORY: Berhasil Tembus Pasar Mancanegara dan Langganan Ibu Negara, Perjuangan Ferry Yuliana Rintis Gendhis Bag Dimulai Dari Nol

Pradita Ananda, Jurnalis · Jum'at 08 September 2017 22:08 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 08 194 1772367 okezone-story-berhasil-tembus-pasar-mancanegara-dan-langganan-ibu-negara-perjuangan-ferry-yuliana-rintis-gendhis-bag-dimulai-dari-nol-uErytf0gxk.JPG Ferry Yuliana (Foto: Instagram)

SOAL bergaya alias bernampilan, tidak dipungkiri kebanyakan dari kita memang lebih mengedepankan soal gengsi daripada kebutuhan.

Misalnya dengan berlomba-lomba memakai semua produk fesyen bermerek luar negeri, dari mulai busana, sepatu, hingga aksesori seperti tas, terutama untuk kaum Hawa. Seolah-olah menjadi sebuah kebanggaan tersendiri jika berhasil bergaya dengan menenteng sederet handbag keluaran luar negeri.

Hingga akhirnya kerapkali menjadikan kita lupa akan hasil karya anak bangsa yang giat untuk memajukan produk dan menggerakkan ekonomi lokal. Mempunyai tas bermerek keluaran rumah mode mewah mancanegara memang menjadi sesuatu hal yang menyenangkan bagi banyak wanita, terkadang hal ini terjadi bukan karena faktor kebutuhan namun hanya berdasarkan gengsi diri dan imej bahwasanya produk tas buatan dalam negeri hadir dengan model dan kualitas yang tidak layak.

BACA JUGA:

Anggapan di atas tidak bisa dibilang sepenuhnya benar, pasalnya banyak kok contoh nyata produk tas buatan anak bangsa yang model hingga kualitasnya hadir dengan baik sehingga layak untuk menjadi tuan di tanah Indonesia sendiri. Salah satu contohnya ialah Gendhis Bag asal Yogyakarta dari Ferry Yuliana.

Jika bicara soal tas natural, aneka produk tas buatan Ferry Yuliana ini sudah sangat familiar di kelasnya. Tas-tas keluaran Gendhis Bag inilah yang menjadi tas langganan dari para ibu negara, mulai dari Ani Yudhoyono hingga Iriana Jokowi bahkan juga telah diekspor ke berbagai negara. Lalu sebetulnya bagaimana kisah Ferry merintis bisnisnya ini?

Kepada Okezone belum lama ini, Ferry menuturkan bahwasanya ia dahulu mendirikan bisnis tas etnik nan natural ini hanya karena faktor bahwa dirinya menyukai tas dan segala sesuatu yang berbahan natural. Awal membangun bisnis Gendhis Bag pada 2002 lalu, Ferry mengaku benar-benar mengandalkan rasa suka semata. Ia sendiri tidak terpikiran bahwasanya ia harus menjalankan bisnis ini dengan sederet perencanaan bisnis yang terperinci ataupun target tas hasil buatannya tersebut, harus bisa berhasil dijual ke luar negeri.

“Awalnya aku hanya sendirian saja, di 2002 itu aku yah paling membuatkan pesanan untuk teman-teman terdekat saja palingan hanya sekitar 5-6 buah. Bisnis ini aku mulai modalnya kecil mba, dari aku tidak punya apa-apa dimulai dari ikut pameran sampai akhirnya dapat pesanan dari toko-toko di Bali, karena kan Bali itu suka sesuatu yang natural-natural,” ungkap Ferry mengawali kisahnya.

Bisnisnya terus berlanjut, hingga akhirnya tahun berikutnya yakni di 2003, Ferry memutuskan untuk memiliki karyawan sebanyak 3 orang karena merasa bahwa bisnis ini pada akhirnya tidak bisa dijalani seorang diri.

 

“Dari awal itu sendiri, lalu di 2003 Alhamdulillah ada karyawan tiga orang, lalu lanjut di 2004 sampai 2005 itu karyawannya 5 orang, baru lanjut lagi di 2006-2010 naik menjadi 16 orang, hingga sekarang akhirnya pada 2011 sampai sekarang ini sudah punya sekitar 30 orang pegawai yang kita satu tim itu mulai dari bagian sampling, desain, gudang, potong, pewarnaan, sampai tim sosial media. Intinya sih aku sadar bahwa segala order pesanan ini tidak bisa sanggup aku urus semuanya sendiri,” tambahnya.

Ditengah gempuran tas-tas bermerek mewah, Ferry lewat Gendhis Bag mencoba menawarkan aneka produk tas natural handmade dengan berbagai desain mulai dari etnik sampai abstrak. Mulai dari pemakaian motif kain batik, material bahan kain blacu, kain tikar, daun janur hingga hasil-hasil kebudayaan dari Toraja, Bali, sampai Kalimantan, sampai rotan, dan kulit yang dipercantik memakai berbagai ornamen mulai dari batu-batuan dan pernak-pernik cantik lainnya yang dijual dari kisaran harga Rp135000 hingga Rp2 juta.

Dalam mengembangkan bisnis tas nya ini dari awal hingga sekarang sudah sebesar ini, Ferry mengaku dirinya lebih menganut pada prinsip mengalir seperti air. Ditambah dengan prinsip dirinya yang berfikir bahwa dirinya sebagai seorang wirausaha wanita, harus tidak boleh lupa memberikan kontribusi pada sesama kaum wanita dan lingkungan sekitar.

“Kalau ditanya mulai kapan kepikiran untuk memberdayakan kaum perempuan di sekitar ku dengan membuka lapangan pekerjaan, jujur saat dulu dari awal aku bangun usaha ini. Selain membuka lapangan pekerjaan, aku juga terkadang istilahnya menjadi pembicara dan konsultan lah memberikan ilmu kepada para supplier agar mereka bisa usaha secara mandiri,” imbuh ibu tiga orang putra ini.

Sebagai seorang wirausaha, Ferry mengaku ia tidak mau berpikiran perihal uang dan keuntungan terus-menerus. Kerap bolak-balik ke banyak daerah untuk sekedar menjadi bintang tamu ataupun pembicara, ia mengaku senang bisa memberikan ilmu dan inspirasi bagi orang lain yang mendengar dan melihat perjalanan bisnisnya tersebut. Walaupun, terkadang ia suka digoda oleh teman-teman dan keluarganya, karena sudah meluangkan sekian waktu dan tenaga namun apa yang dilakukannya tersebut bukanlah merupakan kegiatan yang bisa mendatangkan uang banyak.

“Terkadang orang dalam menjalankan bisnis itu idealis, aku jujur sih tidak idealis. Aku memilih untuk fleksible dalam arti tidak melulu harus idealis dan juga jangan terlalu komersil, kita juga jangan sampai lupa untuk memberikan kontribusi untuk lingkungan sekitar, bagi-bagi ilmu, jadi kerjanya senang. Dengan begini saya merasa balance, cari uang, hubungan ke Tuhan, hubungan kepada para karyawan. Menurut saya nanti hal lainnya akan mengikuti saja, bonus saja itu mah dikasih syukur, tidak yasudah. Aku sih begitu ya, enggak tahu kalau yang lain,” paparnya sambil tersenyum.

Memulai bisnis di 2002, hingga berlanjut sampai produk-produk Gendhis Bag kini sudah diekspor ke berbagai negara mulai dari Amerika, Jepang, Venezuela, Malaysia, sampai Spanyol. Wanita satu ini mengungkapkan dirinya hanya mengikuti alur yang ada dan sebisa mungkin tetap mawas diri dengan kata ‘eskpor’. Lebih lanjut Ferry menuturkan, dirinya tidak mau terlena dengan kata eskpor karena ia sadar betul bahwa pasar dan konsumen lokal dalam negeri lah yang membuat bisnisnya masih bisa berkibar hingga saat ini.

“Pengembangan bisnis itu sih relatif, aku mengerjakan bisnis ini sih santai mengikuti alur saja enggak yang gimana-gimana. Intinya kalau soal go-internasional, jangan terlena dengan kata ekspor itu sendiri, pasar yang bikin aku bertahan sampai sekarang ya pasar domestik dalam negeri sendiri. Ekspor itu kan naik turun juga karena krisis dunia, para buyer pun tidak bodoh mereka berusaha menekan kita jual dengan harga yang murah banget seperti China yang mampu bikin produksi masal,” tandasnya.

Dalam menghadapi bisnis di bidang fesyen, di mana pergerakannya sangat dinamis karena perputaran tren dunia yang terus berjalan belum lagi gempuran tas-tas mewah keluaran rumah mode kenamaan dunia. Ferry menyiasatinya dengan cara menerapkan inovasi produk dan kualitas yang tinggi.

“Dari sisi harga murah, industri kita kalah dengan China karena mereka bisa bikin barang murah dalam jumlah yang banyak. Inilah saya sebagai wirausaha, harus bisa harus pintar menciptakan produk yang China enggak bisa buat, harus terus inovasi dengan ide-ide kreatif, dan pintar membaca peluan dan tren yang ada sehingga produk tas buatan kita bisa dicintai publik baik itu lingkup domestik ataupun internasional,” pungkasnya lagi.

Diketahui lebih lanjut, tak hanya berhasil dengan ekspor ke mancanegara, Ferry dengan tas-tas buatannya ini juga merupakan langganan dari para ibu negara, mulai dari Ani Yudhoyono hingga Iriana Jokowi. Di mana bisa dibilang keduanya merupakan pelanggan lama dari Ferry, bahkan Iriana disebutkan sudah langganan membeli tas kepada Ferry sejak zaman Jokowi masih menjadi Gubernur di Solo hingga sekarang sudah menjadi Presiden RI.

BACA JUGA:

Mendulang kesuksesan besar, terakhir Ferry mengungkapkan bahwasanya dirinya sendiri tidak menyangka bahwa bisnis tas natural buatan tangannya ini bisa sebesar hingga sekarang.

“Enggak ngebayangin kalau sekarang bisa sebesar ini, ini tas nya kan tas natural di mana orang pasti mikirnya duh gue enggak mau deh. Malah lebih parah dulunya ini dibilangnya bukan lagi tas ibu-ibu tapi tas pasar. Ya harapannya seperti namanya yang berarti ‘gula’, inginnya tas Gendhis ini bisa manis dipakai siapa dan di mana saja seperti filosofi gula yang bisa dipakai di minuman kopi ataupun teh,” tutup Ferry.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini